6 Hal Yang Saya Rasakan Ketika Lama Tidak Naik Gunung

Saya masih ingat benar, kapan terakhir kali saya naik gunung. Naik gunung yang saya maksudkan dalam artikel ini adalah sebuah pendakian dengan membawa peralatan untuk berkemah, naik gunung dengan bermalam, bukan sekedar camping tipis saja. Jadi semisal hanya naik bukit seperti Gunung Api Purba Nglanggeran itu tidak masuk hitungan. Terakhir saya mendaki gunung adalah bulan Agustus 2016, saat itu saya bersama Istri mendaki Gunung Prau melalui jalur Wates, Temanggung.

Foto bulan Agustus 2016, tidak sengaja buku nikah terbawa di dalam travel pouch yang tersemat di dalam carrier.

Jadi, hampir satu setengah tahun saya tidak mendaki gunung, benar-benar mendaki gunung untuk mencoba menemukan apa yang saya cari. Dalam setiap pendakian, hal yang saya cari selalu berbeda-beda. Ada yang hanya mencari puncak, mencari malam berbintang, mencari foto landscape, hingga mencari tanah datar 2×3 meter untuk berpindah tidur. Melelapkan raga dan jiwa sejenak di atas tanah dan di bawah langit adalah salah satu hal yang sangat saya nikmati ketika naik gunung.

Sekarang ini, saya merasakan ada beberapa hal yang tetiba muncul dalam benak saya. Apakah iya, seperti ini yang saya rasakan sekarang, ataukah hanya sekedar rasa rindu kelas receh untuk mendaki?

A. Badan Terasa Kurang Segar.

Dahulu, Saya bukanlah orang yang biasa naik gunung setiap bulan, rata-rata ada rentang 2-3 bulan untuk pendakian selanjutnya, walaupun terkadang (jarang sekali) dalam satu bulan bisa lebih dari satu gunung. Selain untuk memberi jeda fisik, juga untuk menabung guna mengumpulkan uang operasional dalam pendakian gunung. Dengan tinggi badan 175 cm dan berat 54 kg, maka saya bukanlah orang yang memiliki stamina prima ketika digempur pendakian dengan durasi yang panjang.

Gunung terlama yang pernah saya daki adalah Gunung Kemiri di Taman Nasional Gunung Leuser, pendakian saat itu memakan waktu tempuh 5 hari 4 malam. Setelah pendakian tersebut, kaki saya terasa linu terutama bagian paha hingga hampir satu minggu lamanya.

4 hari yang diperlukan oleh kami untuk bisa mencapai titik tertinggi Gunung Kemiri.

Walaupun hanya pendakian dengan durasi 2 hari 1 malam untuk gunung-gunung di Pulau Jawa, saya biasanya melakukan joging ringan setiap hari mulai seminggu sebelum pendakian. Tujuannya adalah agar otot-otot, terutama otot kaki tidak mudah tegang ketika dibawa ke medan menanjak. Badan biasanya akan dengan mudah beradaptasi dengan beban berat ketika kita biasa naik turun gunung.

Saya pernah dalam rentang 6 minggu mendaki 3 puncak dengan ketinggian lebih dari 3.000 mdpl, hasil pada pendakian selanjutnya adalah badan terasa lebih tahan banting dan kaki lebih lincah serta lebih kuat untuk perjalanan turun, bahkan pada beberapa jalur turun saya bisa berlari.

Leyah-leyeh seperti ini cukup mengembalikan stamina sebagian.

Karena saya bukanlah orang yang gemar olahraga, terutama yang memakai bola, maka sekarang sudah jarang sekali untuk joging. Niat joging tentu saja sudah ada, sama seperti niat diet para emak-emak muda yang doyan makan. Jadi ya sekarang ini, kondisi badan sudah berasa seperti orang tua, naik ke Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran yang biasanya bisa ditempuh di bawah 20 menit, kini harus lebih dari 45 menit. Ngos-ngosan ditambah keringat bercucuran, itulah hal yang sempat saya rasakan ketika harus beraktivitas fisik di luar ruangan lagi.

Baca Juga :  Hasil BenQ GH600 di Gunung Sindoro

Selain karena memang naik gunung adalah aktivitas fisik yang sangat menguras tenaga, latihan fisik sebelum kegiatan pendakian juga memaksa saya untuk tetap berolahraga. Dan saya sekarang sudah jarang berolahraga karena memang belum ada wacana pendakian gunung dalam waktu dekat ini.

B. Peralatan Gunung Berdebu dan Terpencar.

Peralatan gunung yang saya kumpulkan satu demi satu kini telah lengkap dan siap digunakan dalam berbagai cuaca. Dulu, seluruh peralatan pendakian tersebut saya tumpuk pada sebuah rak, sehingga tersusun rapi dan mudah terlihat ketika akan dicari. Ketika bisa dikatakan sering melakukan pendakian, peralatan-peralatan tersebut selalu saya bersihkan sesegera mungkin setelah pendakian. Tujuannya adalah ketika akan digunakan kembali telah bersih dan nyaman untuk dipakai.

Salah satu perlatan termewah yang pernah saya bawa untuk membuat perjalanan naik gunung lebih nyaman.

Kini, peralatan tersebut tersebar, semua terjadi akibat pindah kontrakan, sehingga untuk melakukan bongkar muat dan menata seperti sedia kala memerlukan tekad dan iman yang kuat. Beberapa ada di dalam kardus, beberapa ada di dalam tas carrier, beberapa juga berada di rak buku, di dalam kabinet, atau malah berada di atas kulkas. Bahkan, nesting berupa panci dan teflon Cooking Set DSC-200 berada di dapur, sering saya gunakan untuk memasak mi atau merebus telur.

Bahkan saya memiliki tas carrier Consina Okhost 75 yang sudah berumur satu tahun, namun belum pernah saya pakai sekalipun untuk mendaki gunung. Malah untuk kegiatan lapangan selama ini, saya lebih sering menggunakan tas carrier Deuter Futura 42. Saya memilih menggunakan Deuter Futura 42 adalah karena ukurannya yang ideal untuk berada di lapangan dalam rentang waktu selama seminggu.

Berasa mencari jarum di sabana seperti ini kelak jika akan mengumpulkan kembali peralatan yang terpencar.

Mungkin diperlukan waktu lagi untuk mengumpulkan dan menatanya kembali agar siap untuk digunakan beraktivitas di luar ruangan kembali.

C. Rindu Merasakan Sensasi Persiapan Naik Gunung.

Mengumpulkan dan menata peralatan seperti ini memiliki sensasi tersendiri.

Saya selalu suka saat dimana memilih gunung dan jalur yang akan didaki, mencari rekan pendakian, menyiapkan peralatan, pemilihan rute, persiapan peralatan dokumentasi, hingga membuat daftar menu makanan yang akan disantap. Ada sebuah kepuasan tersendiri dalam masing-masing tahapnya, layaknya hendak membuat sebuah acara yang ingin lancar dari awal hingga akhir. Sehingga ketika melakukan ke semuanya itu atas hati dan logika, maka hasilnya tentu akan sangat memuaskan.

Seperti ini mungkin gambarannya, kita tidak tahu ada apa di balik kabut yang berada di depan sana. Persiapan, perencanaan dan doa.

Bagaimanapun ketika manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Jadi, tetap persiapkan segala sesuatunya untuk kemungkinan yang terburuk sekalipun. Tidak ada salahnya.

Baca Juga :  Bioskop : Dahulu, Sekarang dan Sekelilingnya

D. Tidak Ada Pembaharuan Foto Landscape Dengan Tema Gunung.

Saya sangat betah apabila sudah menghadap pemandangan seperti ini.

Daripada memotret pantai, saya lebih suka memotret gunung. Secara topografi, posisi gunung lebih tinggi dari daerah di sekelilingnya. Posisi inilah yang membuat langit di atas gunung akan bersih dari polusi, biru dan bening. Awan yang kerap kali menyamar menjadi permadani putih tentu saja akan selalu menjadi foreground yang menarik ketika akan memotret langit biru.

Untuk sekali pendakian dengan durasi 2 malam 1 hari, biasanya saya bisa membawa pulang 600-800 foto. Tergantung dari cuaca dan kapasitas baterai. Foto-foto paling banyak biasanya saya ambil saat matahari terbit dan saat siang hari terik. Arah datang matahari terbit yang miring akan menebalkan penampakan dimensi pada penutup lahan yang dikenainya.

Sesekali mengabadikan rekan pendakian juga okelah dengan latar belakang seperti ini.

Saya gemar mengolah dokumentasi pendakian, pernah beberapa kali membuat video pendakian gunung, juga sempat membuat buku perjalanan ketika menuju ke Puncak Gunung Kemiri.

E. Ketiadaan Cerita Baru Tentang Pendakian.

Keceriaan seperti ini hanyalah salah satu kecil drama pendakian.

Saya selalu suka ketika mendengarkan cerita pendakian ataupun saya menceritakan kisah pendakian saya. Selalu saya temukan banyak sekali sudut pandang yang hadir, walaupun dalam satu jalur pendakian. Kegiatan pendakian gunung yang diceritakan biasanya tidak jauh-jauh dari drama, humor, dan horor. Ketiga tema tersebut biasanya sangat mudah untuk disampaikan kepada sesama pendaki, namun pada beberapa kesempatan, biasanya saya bisa bertatap lama ditemani secangkir kopi dengan cerita lain tentang pendakian gunung.

Cerita yang saya maksudkan adalah mengenai hal-hal yang dipelajari selama pendakian, seperti mengenal ego sendiri, pengendalian emosi, rasa bersyukur, atau koreksi akan diri lainnya. Obrolan yang berat bagi sebagian orang, namun bagi saya dan beberapa rekan lainnya, hal-hal seperti inilah yang dicari. Karena untuk kembali ke alam lagi, kita harus bisa lebih menyatu dengan alam, itulah manusia dan alam, muncul kesetaraan.

F. Berkurangnya Keterampilan dan Keinginan Memasak.

Saya masih ingat, menu makanan pertama kali saat perdana naik ke Gunung Ungaran bersama rekan-rekan Brongkos 13 hanyalah mi instan dan roti sobek. Sungguh tidak ideal, memang jika melihat jarak dan tipe pendakian, memang bisa tercukupilah untuk durasi yang tidak begitu lama.

Seiring waktu berlalu, menu dan pola memasak saya ketika berada dalam kegiatan pendakian berubah. Dari yang dulu hanya mengandalkan mi instan dan beragam cemilan berat, kini sudah mulai lebih sehat dan lebih segar. Seperti membawa beras dalam bentuk ketupat, atau ketupat yang sudah matang, telur, tempe, tahu, ikan teri, sop, sayur, kacang hijau, agar-agar, adonan kue hingga buah segar.

Setelah sop dan nugget habis, terbitlah nasi, mi, tahu, dan tempe.

Selain memang karena saya sudah memiliki Cooking Set DSC-200 yang cukup digunakan untuk memasak 2 porsi, beragam peralatan pendukung memasak lainnya juga sudah mulai saya miliki, sehingga memasak ketika mendaki gunung akan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Baca Juga :  NgeBlog? Mudah atau Susah?

Biasanya saya melakukan simulasi, ya praktik memasak semacam itulah ketika berada di rumah. Dengan harapan ketika mendaki gunung bisa membawa menu masakan favorit atau menu yang baru. Ya, gegara sudah lama tidak naik gunung maka rasanya kalau mau masak di rumah ya masaknya itu-itu saja.

G. Tidak Muncul Sifat Tersembunyi Saya Yang Lainnya.

Berada di tempat seperti ini, memikul beban seberat ini, apakah saya masih menjadi “saya” yang di tempat biasa?

Begini, mendaki gunung bisa membuat menunjukkan sifat-sifat kita lainnya yang tidak muncul ketika berada di tempat yang nyaman. Semisal, adegan mendirikan tenda dengan kondisi fisik yang lelah sangat ditambah cuaca buruk serta anggota tim yang klemar-klemer. Maka biasanya akan muncul sifat yang tidak anda sadari sebelumnya bahwa itu ada di dalam diri anda akan muncul.

Seiring dengan berjalannya kegiatan pendakian, kita biasanya akan lebih waspada terhadap berbagai kondisi yang bisa memaksa kita untuk melepaskan sifat-sifat tersembunyi tersebut. Di titik itulah kita bisa melakukan kontrol diri dengan lebih baik, seharusnya semua pendaki gunung bisa menyadari hal ini. Saya merindukan perjumpaan dengan para pendaki senior, dimana obrolan yang tercipta hanyalah tentang alam dan Tuhan.

Saya tidak ingin menua tanpa berproses diri.

Saya tidak ingin menjadi tua dan merenta tanpa mengetahui bahwa ada sifat-sifat lain di dalam diri saya yang tersembunyi. Itulah mengapa saya menganggap bahwa mendaki gunung merupakan sebuah proses untuk melewati proses tua menjadi dewasa.

H. Kegelisahan Jiwa.

Hahahaha, iya, jiwa saya gelisah, ada keinginan namun tidak terpenuhi. Seperti anda yang biasa makan bubur ayam tanpa diaduk, namun terpaksa makan bubur ayam yang dicampur es batu. Seperti itulah kira-kira.

Cara paling ampuh mengatasi kegelisahan ini tentu saja dengan mendaki gunung, namun ketika kondisi tidak memungkinkan, ya cukupkan saja rasa bersyukur kepada Tuhan karena pernah diberi keberuntungan untuk bercengkrama dengan alam. Walaupun menyisakan kerinduan, namun saya yakin itu adalah rindu yang tulus.

“Aku tidak pernah berniat menaklukan gunung! Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdianโ€ฆ, โ€ฆ Pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa! โ€œ -Idhan Lubis, 10 Maret 1969-

*********************

ya itulah hidup, tidak semua yang kita inginkan selalu terjadi, perlu kesabaran dan kerja keras untuk mewujudkan itu kembali. Walaupun kondisinya sudah berbeda ketika kelak kembali ke dunia pendakian, namun bumbu nostalgia akan membuat cerita pendakian lebih bermakna.

Saat itu, di puncak ungaran hanya dengan 8 orang di puncak pada hari minggu pagi. Kondisi yang hampir tidak mungkin sekarang ini.

Hal yang saya inginkan kelak adalah mengadakan reuni berupa camping ceria dengan rekan-rekan Brongkos 13, dimana sebagian besar dari mereka sudah memiliki momongan. Jadi bayangkanlah saja, akan ada banyak keluarga kecil yang berkumpul di alam dalam kondisi yang berbahagia dan ceria. Hahaha, sedang saya bayangkan bagaimana keseruan acara itu nanti, di bawah bintang, mengitari api unggun, terpagari tenda serta terselimuti obrolan penuh canda tawa.

Salam Lestari. ๐Ÿ™‚

12 COMMENTS

  1. Eh iya, lagi ini aku tau variasi masakan para pendaki. Wkwk. Bayangin bikin agar2 di ketinggian :p
    Mas Ghoz ini intinya sedangg rindu mendaki lagi, semoga nanti kesampaian lagi. Kalau dulu berdua sama istri, sekarang tambah sama si kecil :))

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam