Trekking Perdana Bersama Rengganis di Curug Lawe Benowo, Semarang

Perjalanan kali ini sangat berkesan bagi saya, karena perjalanan ini sudah direncanakan dan memang sudah sangat ingin segera dilaksanakan. Berkunjung ke tempat wisata yang masih cukup asri dan memiliki udara yang segar.

Peserta perjalanan kali ini adalah Saya, Istri Saya, dan Rengganis. Perkenalkan, Rengganis adalah putri pertama kami yang saat kami bawa ke tempat ini baru berumur 1 tahun 20 hari. Sebagai peserta termuda dalam ekspedisi ala-ala ini, maka perlakuan terhadap Rengganis cukup menguras tenaga dan pikiran bagi kedua orang tuanya ini.

Tujuan tempat trekking kali ini adalah Curug Lawe dan Benowo di Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang. Sebuah tempat yang pernah mengantarkan saya menjadi juara 2 lomba blog Visit Jawa Tengah tahun 2016 silam. Lokasi ini kami pilih juga karena kita perlu jalan terlebih dahulu beberapa kilometer untuk bisa mencapat air terjun utama.

Selain itu, kami juga berniat memulai project pribadi kami di Curug Lawe Benowo, yaitu Project : Pohon Rengganis. Semoga project ini bisa menginspirasi orang lain sehingga kita semua bisa turut mendapatkan manfaatnya secara luas.

Untuk menjalankan project tersebut dengan lancar, kami menggunakan 2 alat yang baru kali ini dibawa ke dalam kegiatan jalan-jalan ini. Pertama adalah Tas Hiking Baby Carrier merk Four Seasons untuk mempermudah membawa Rengganis, kemudian yang kedua adalah Garmin Colorado 300i untuk mendapatkan koordinat lokasi untuk project ini.

Segala peralatan kami siapkan pada pagi harinya, maklumlah karena jarak menuju ke Desa Kalisidi ini tidak begitu jauh dari lokasi kami. Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi, sehingga kami baru sampai ke lokasi pada pukul 10 pagi, itupun karena kami harus memilih jalan karena ada betonisasi.

Sungguh, membawa balita itu serba tak terprediksi. Segala rencana akan segera berubah menjadi improvisasi begitu membawa balita dalam perjalanan. Sepanjang perjalanan berangkat menuju pintu masuk lokasi, Rengganis tertidur, sehingga baru terbangun saat kami masuk ke area parkiran.

Namanya baru bangun tidur, pasti perlu waktu untuk bisa menyesuaikan mood, terlebih ini adalah tempat baru bagi Rengganis. Ketika akan kami masukkan ke dalam tas Hiking Baby Carrier, kakinya mengisyaratkan tidak ingin masuk, sekalinya bisa masuk langsung menangis.

Perlu waktu sejenak di area parkir dengan polah Rengganis ini yang digendong pun tetap tidak mau. Lama-kelamaan, maulah digendong sembari berjalan menaiki jalan beton. Itupun sempat menangis lagi karena kaget dengan suasana di tengah perkebunan cengkeh yang asing baginya.

Pit stop pertama setelah Rengganis mau dibawa dari area parkir. Lapar tapi ingin main, jadinya rewel sejenak.

Akhirnya Istri saya berjalan dengan menggendong Rengganis, lalu saya membawa semua perlengkapan. Jadilah depan, belakang, dan samping badan saya terisi tas. Sedangkan bibit pohon kelengkeng saya bawa di tangan saya. Sepanjang perjalanan berangkat, Rengganis mulai menunjukkan gerak-gerik ketidaknyamanannya. Rupanya lapar, haduh

Beruntung, hari dimana kami berkunjung adalah hari kerja, jadi jumlah pengunjung tidak terlalu ramai. Sehingga kami bisa sejenak berhenti di sebuah tikungan untuk menyusui Rengganis. Mungkin perlu sekitar 10 menitan hingga Rengganis bisa diajak berjalan kembali.

Masih berada di gendongan saat melewati jembatan merah

Karena perjalanan awal adalah menyusuri selokan dengan air yang jernih, Rengganis nampak meminta turun untuk bermain air yang mengalir tersebut. Beruntung banyak kupu-kupu dan capung yang beterbangan, sehingga kami bisa mengalihkan perhatian Rengganis akan air yang mengalir tersebut.

Tidak jauh dari pintu air ini, kami berhenti, memutuskan untuk bermain air di sungai, mengurungkan niat untuk ke curug.

Rencana semua yang hendak mencapai ke Curug Benowo akhirnya diganti dengan hanya cukup ke area pintu air. Setelah naik sedikit hingga menemui rumah pohon, kami melipir ke sungai yang ada di sebelah kiri jalan. Dahulu ini digunakan sebagai jalur ke Curug Benowo, namun kini sudah tidak lagi, dialihkan ke jalur lainnya.

Sesampainya di tepian sungai, Rengganis nampak sudah tidak sabar untuk minta turun dan bermain air. Air sungai di tempat ini cukup dingin, sehingga saya kira tidaklah perlu sampai Rengganis berendam di tempat ini. Cukup bermain air dengan kaki dan tangannya saja.

Yap, air sungai yang jernih dan dingin, betah sekali di sini.

Air segar nan jernih seperti ini memang benar-benar menggoda untuk mandi rasanya, namun juga harus melihat situasi juga. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak lebih dari 15 menit bermain dengan air ini.

Maunya kemana-mana padahal jalan sendiri saja belum fasih.

Saya bergantian dengan Istri saya memegangi Rengganis ketika bermain air, juga bergantian menekan shutter kamera. Lalu saya melangkah ke seberang sungai, mencari lokasi yang sekiranya cocok untuk menanam pohon kelengkeng yang saya bawa. Ketemu, sebuah titik di bawah pepohonan kopi liar yang cukup terbuka bagian atasnya.

Lalu saya mulai menggali tanah secukupnya, setelah saya rasa cukup, saya kembali menyebrang ke tempat peralatan kami. Segera saya ambil bibit pohon kelengkeng, kamera, GPS Garmin Colorado 300i, dan sebuah ember kecil.

Sebenarnya saya ingin mencari tempat yang lebih terbuka dengan intensitas cahaya pagi yang banyak, namun kondisinya tidak memungkinkan, jadi saya rasa tempat ini sudah cukup untuk membiarkan pohon kelengkeng ini tumbuh dengan pupuk alami di sekitarnya.

Setelah saya ambil semua plastik pembungkus tanah induk semangnya, lalu saya tanam dengan kembali menutupnya dengan tanah dan seserahan daun kering yang ada di sekitar saya. Saya foto sejenak dan segera mengambil titik koordinat penanaman bibit pohon kelengkeng tersebut.

Bismillah, semoga pohon kelengkeng ini tumbuh subur dan berbuah dengan lebat. Sehingga bermafaat bagi mereka yang melintas.

Selesai, Project : Pohon Rengganis yang perdana telah selesai. Alhamdulillah, semoga bisa tumbuh subur, berbuah lebat dan bermanfaat kelak.

Saya kembali ke tempat dimana Istri saya sedang menemani Rengganis bermain air sungai. Tak berselang lama, kami memutuskan untuk mengangkat Rengganis dari air. Awalnya dia memberontak, namun harus dipaksa, kami tidak ingin Rengganis kedinginan karena bermain air terlalu lama.

Lalu saya mengambil sepasang buah pisang yang kami bawa dari rumah. Sembari dipangku oleh Istri saya, Rengganis mulai duduk diam sembari menikmati suap demi suap buah pisang tersebut.

Perlu trik agar mau diangkat dari air, lalu menyuapinya dengan 2 buah pisang yang dilahapnya dengan cepat.

Setelah habis, kami naik ke atas, menuju area rumah pohon. Di area ini terdapat tanah yang cukup lapang serta kamar kecil. Rengganis berganti pakaian dengan pakaian kering, tidak lupa minyak telon untuk menghangatkan badannya.

Setelah semua telah berganti dengan pakaian kering, saatnya memulai perjalanan kembali ke area parkir. Jaraknya sekitar 2 km, namun tidak terasa karena memang sepanjang jalan suasananya terasa asri dan tenang.

Giliran saya membopong Rengganis dengan menggendong ransel, sedangkan Istri saya menggendong tas hiking baby carrier. Baru berjalan sekitar 100 meter, Rengganis sudah mulai menggoda Istri saya dengan tertawa sembari berusaha menggapai tas merah tersebut. Rupanya dia gemas dengan gerakan tas hiking baby carrier yang bergerak ke kiri dan ke kanan.

Lalu sembari menepi di pintu air, Istri saya berusaha duduk, lalu saya mencoba memasukkan Rengganis ke dalam tas hiking baby carrier ini. Kakinya diam, tak berontak seperti saat berangkat tadi. Lalu, dalam sekejap, posisi Rengganis sudah duduk dengan mantap di dalam tas hiking baby carrier.

Akhirnya, mau digendong, dan malah kegirangan dengan goyangan yang tercipta ketika berjalan menggunakan tas ini.

Dengan perlahan Istri saya berdiri, lalu Rengganis nampaknya semakin girang ketika mulai ada goyangan bersama tas tersebut. Beberapa meter awal dihiasi dengan tawa gemas Rengganis, saya mengawasinya dari belakang karena dalam posisi tersebut Rengganis tidak mau memakai sabuk pengaman. Namun karena posisinya yang masuk ke dalam tas, saya rasa aman jika hanya berjalan pada jalur seperti ini.

Di jembatan merah ini, sudah mulaiterlihat mengantuk, namun Rengganis sepetinya iingin tetap menikmati pemandangan sekitar.

Rengganis makin menikmati posisinya berada dalam tas hiking baby carrier tersebut. Sembari di ajak bernyanyi dan bercerita, juga ditunjukkan beberapa serangga yang terlihat di depan. Rengganis nampak antusias, hingga akhirnya dia terlihat diam dengan mata yang terlihat mengantuk.

Rengganis sudah mulai terdiam, mulai menikmati nikmatnya mengantuk di tengah udara yang sejuk.

Terlihat Rengganis mencari posisi tidur, dan celakanya desain tas hiking baby carrier ini tidak untuk membawa balita tidur. Jika bersandar maka terlalu menengadah, jika ke depan maka tumpuannya hanya mengandalkan dagu. Saya tidak membawa bantal angin untuk leher yang biasanya berada dalam tas ransel saya. Mungkin jika Istri saya mengenakan bantal angin tersebut di lehernya, Rengganis jadi lebih nyaman untuk tidur.

Langkah demi langkah, ditambah dengan suasana yang tenang dan sejuk membuat Rengganis akhirnya kalah oleh rasa kantuknya. Sekitar separuh perjalanan pulang, Rengganis tertidur lelap walau badannya ikut bergoyang seirama dengan langkah kaki Istri saya.

Iyak, skor sementara antara Rengganis dan Tas adalah 1 : 0

Akhirnya kami sampai di area parkiran, Istri saya juga sudah mulai kepalaran. Lalu kami mencari warung yang menyediakan tikar untuk lesehan. Beruntung ada warung telah membuka tikar lengkap dengan bantalnya, posisinya di bawah pohon cengkeh pula. Sepertinya sempat digunakan juga untuk menidurkan bayi bila melihat dari sebuah sarung yang digantungkan di dahan pohon cengkeh.

Dengan perlahan Istri saya meletakkan tas dalam posisi berdiri di atas permukaan yang datar, Rengganis masih tidur. Lalu saya menyiapkan tempat untuk berbaring Rengganis. Gerakan perlahan nan seirama kami lakukan hingga akhirnya Rengganis bisa tidur terlentang di tempat yang telah saya siapkan.

Sembari menunggu pesanan gorengan dan es teh, jepret dulu Rengganis yang tertidur pulas.

Tidurnya pulas, di bawah pohon cengkeh dengan aromanya yang khas, angin sejuk di ketinggian 800 mdpl. Suasana yang menenangkan saat melihatnya tertidur. Lalu kami memesan makanan dan minuman guna mengisi kembali tenaga yang sempat terkuras.

Hampir satu jam kami duduk di bawah pohon cengkeh, menanti Rengganis bangun dengan sendirinya. Suasana yang tenang saat itu semakin membuat tidurnya makin dalam. Hingga akhirnya dia membuka mata, lalu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, melihat ke sekitar seakan bingung sedang ada di mana.

“Iya nok, kamu ada di bawah pohon cengkeh” sambutku pada muka polosnya.

Alhamdulillah, terbangun dengan sendirinya dan tanpa rengekan tangis. Tidur bayi yang berkualitas. Saya membantunya berdiri, rasa penasaran akan sekitar kembali muncul. Perlu sekitar 5 menit bagi Rengganis untuk kembali mengumpulkan kondisinya dari tidur.

Setelah Saya rasa Rengganis sudah dalam kondisi siap untuk perjalana pulang, kami segera membereskan peralatan kami dengan segera. Semua sudah siap pada tempatnya, kami memulai perjalanan pulang. Lalu, tidak sampai 15 menit kami memulai perjalanan pulang, Rengganis kembali tertidur hingga sampai ke depan pintu rumah. Hahahaha….

********

Membawa serta balita ke tempat seperti ini memang sering menjadi perhatian pengunjung lain, terlebih saat menggunakan tas hiking baby carrier maka siap-siaplah jadi pusat perhatian di lokasi. πŸ™‚

Big thanks to Ms. Kylie, make our experience of trekking to the next level. πŸ™‚

Kisah hari ini membuat pengamalan perjalanan kami menuju ke level selanjutnya. Memang membawa balita untuk treking seperti ini memang ribet, mulai dari persiapan hingga kondisinya di jalan. Namun, percayalah, kelak saat ia sudah dewasa, pasti momen-momen seperti inilah yang dirindukan. Begitu kan?

Salam lestari…

37 COMMENTS

  1. Uwooow petualangan pertama Rengganis di alam terbuka πŸ˜€
    Hmm bapaknya sepertinya mulai meracuni virus petualangan kepada si anak 😏

    Bagi koordinatnya mas, nanti kalo berbuah tak tiliki wes :p

  2. Jadi gemes baca tulisannya. Baca tulisan ini, rasanya ngebayangin seperti melakukannya… Memang ribet sih, tapi kayaknya seru dam asyik…

  3. bhahaa… aku rencana kesini bawa anak belum jadi juga. soalnya istri gak mau. bhahaha
    padahal dulu pas masih pacaran, pasrah aja diajak masuk hutan naik turun curug lawe – benowo.

    aku minjem ransel balitane… hehe
    kira-kira masih cukup buat anak 2 tahun gak yo?

    ah nulis buat temen lari

    • pie? penak jamane pacaran po wes mbojo Mas?

      Monggo Mas nek meh minjem, setahuku sampai umur 3 tahun masih cukup, aku sih enggak tahu beban maksimalnya berapa, mungkin untuk anak 20 kg masih oke. Catatan, anaku ini sudah 10 kg beratnya,

  4. Jadi pengen ngajak anak travelling model begini juga yawla… Eh bentar, anaknya belum ada, setidaknya ngajak calon bapaknya dulu yawlaaa..

    Rengganis lucu aneeettt… Btw, sebagai bapak-bapak blogger, yang paling ditakutkan kalau bawa anak ke alam terbuka begini apa nih mas?

  5. Yay! Aku melu seneng. Aku berpikir, telah lahir satu anak yang kelak punya kepedulian pada kelestarian alam. Karena dia dibiasakan mengenal alam sejak kecil. Dan pohon itu, jadi amal buat kalian.

    Sesok nek ketemu aku nangis gak yo πŸ˜‚

    • Iyo Mas, sebenarnya secara sederhana ya itu, lebih murah dan lebih besar manfaatnya ketika main ke alam, πŸ˜€
      Iya, semoga tahun kedua lebih dilancarkan nanti urusan tanam-tanam pohonya,,

      Selama kamu masih berkumis, enggak Mas, hahahha

  6. Baru kali ini baca blogpost jalan-jalan yang isinya nggak cuma sekedar ‘jalan-jalan’ tok. Keren mas. Saya jadi kepengen juga, sambil jalan-jalan–bawa bibit buat ditanem di tempat tujuan. Semoga kapan-kapan bisa terealisasi. Oiya, semoga pohon Rengganisnya bisa tumbuh dan berbuah, jadi bisa bermanfaat dan jadi ladang pahala buat njenengan dan keluarga–Aamiin πŸ™‚

    Dulu saya sempet ikutan lomba blog yang visit Jawa Tengah 2016 juga, tapi kalah. Hahaha

    • Terima kasih Mas Wisnu, selamat datang di blog saya yang sederhana ini.
      Iya, silahkan, nanti jangan lupa diambil koordinatnya, lalu di share yak, kalau yang ditaman pohon buah kan lumanayan, nanti siapa tau bisa aku samperi…
      Amin, amin, semoga juga bermanfaat bagi sesama kelak.

      Saya ya juga gak nyangka saat itu bisa menang, ahaha, semangat Mas Wisnu, masih banyak lomba-lomba lain yang beterbaran… πŸ™‚

  7. Aku nggak pernah ikut lomba-lombaan *langsung curhat

    Rengganis tidurnya pules sekalii habis maem pisang terus diayun-ayun gendong belakang :p
    Hmm pohon kelengkengnya kira-kira udah mulai berbuah boleh deh diampiri lagi, dipetik sama Rengganis terus masuk di blogpost lagi :))
    Mas, di Curug Lawe, Rengganis nggak digigitin nyamukkah?

    • aku ikut lomba itu motivasi terbesarnya adalah hadiahnya, wkwkwk

      Iya, ntar coba meluangkan waktu buat rutin jenguk pohon kelengkengnya,
      gitu aja terus, biar kontenya enggak abis-abis, hahah

      Enggak, alhamdulillah, udah bawa baby cream juga sih buat jaga-jaga. Sempat mau nyari stiker anti nyamuk tapi udah keburu mau berangkat, jadi ya udah…

  8. hai rengganis! waktu itu dapet info lahiran sekarang udah gede aja yaa.. pipinya emeeeshhhh.
    Barakallah, semoga tumbuh jadi anak shalehah. Dan pohon rengganis tumbuh subur jugaa.

    btw, iya sih bawa bayi trekking jadi perhatian orang πŸ™‚ dan posisi tidurnya pewe bangeeet πŸ˜€

    sha menikmati ceritanya dari awal sampe selesai, ceritanya nyampe banget ke hati karena di tulisnya pake kasih sayang yaa. sering2 nulisin tentang rengganis πŸ™‚

    • Hai Tante Sha, iya…sekarang sudah tumbuh besar dan sehat, alhamdulillah sampai pipinya kemana-mana.

      Amiin Teh Sha…

      iya entah pewe entah sudah tak kuat menahan kantuk, haha
      Makaish Teh sudah baca sampai selesai, untuk cerita Rengganis selanjutnya, nanti ditunggu aja di wasap, wkwkw

  9. Halo Rengganis.. Wah asyiknya udah diajak Bapak ibumu dolan mendekat ke alam. Travelling bareng bayi itu sangat seru ya mas. Kebahagiaan tingkat lanjut bagi traveler.. πŸ˜€

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here