11 Perbedaan Cara Menikmati Radio Pada Masa Dahulu dan Sekarang

Screenshot_2015-11-24-20-47-04

Lewat radio
aku sampaikan
Kerinduan yang lama terpendam
Terus mencari
biar musim berganti
Radio cerahkan hidupnya
Jika hingga mati ku tak bisa
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya
Menemukan hatinya lagi

Lirik Sheila on 7 – radio

Durasi mendengarkan radio akhir-akhir ini lebih sering daripada menyaksikan acara televisi. Saya hanya menyalakan televise ketika ada acara-acara seperti talkshow yang menginspirasi, standup, sedikit berita, atau saat ada motoGP. Selain memang televisi pada channel lokal yang menurut saya hanya 5% yang berkualitas dan netral, menonton televisi juga menyita waktu untuk melongo menatap layar.

Saat masih SMP hingga SMA saya sering sekali mendengarkan radio saat berada di kamar, karena televisi telah dikudeta untuk menonton sinetron :D. Radio itu enaknya bisa cukup hanya didengarkan, sehingga kita bisa mengerjakan hal yang lain. Kita cukup menggunakan indera pendengaran dan sedikit menajamkannya ketika ada hal yang menarik untuk dicerna.

Ada beberapa hal yang saya rasakan saat masih menjadi radioholic saat masih mengenakan logo OSIS di dada kiri saya. Apakah anda juga merasakan hal yang sama ketika menjadi penggemar radio dari dulu hingga sekarang?

-cerita ini berkisah antara akhir tahun 90an hingga 2010an-

1. Lagu yang diputar selalu ditunggu.

Radio hampir menjadi satu-satunya sumber lagu baru jaman dulu. Belum ada yang namanya internet dengan download bebas mp3, belum ada acara alay di televisi. Jika punya dana atau memang fans berat pasti akan berusaha membeli album penyanyi tersebut. Itulah mengapa lagu-lagu jaman dulu lebih awet ketika sedang nge-hits, karena susah untuk dihafal liriknya, terkadang sampai dicatat manual di buku. Kalau sudah akut, mentok direkam sendiri yang kadang suara sang penyiar ikut terekam bahkan kebablasan hingga iklan.

2. Mendapatkan salam terasa sangat seru.

Dalam semua susunan acara radio, hanya ada 3 bagian dalam setiap sesinya;

  • Kirim-kirim salam dan Request Lagu
  • Lagu yang diputar
  • Iklan

Ketika iklan tentu kita akan senantiasa menanti bagian kirim salam dan lagu yang diputar. Mengganti chanel secara analog pada tuning radio bukanlah hal yang mudah. Sekali mendapatkan salam walau hanya sekilas dan tidak terulang pasti biasanya akan mengundang senyum. Salam yang disampaikan selalu bersifat menggoda atau bahkan meledek kita, namun itu menjadi hal yang seru untuk ditunggu pada setiap acaranya.

Baca Juga :  Silaturahim dengan Polisi Kota Semarang

3. Kartu Atensi menjadi idola.

Lupakanlah apa itu SMS, BBM, WhatsApp, Line, Twitter dan lain-lain. Dahulu hanya ada 2 cara menyalurkan aspirasi kita ke radio; melalui telepon kabel atau melalui kartu atensi. Telepon kabel menjadi barang mahal saat itu, sehingga wartel (Warung telepon) dulu sering disatroni untuk sekedar kirim-kirim salam ke radio dengan tarif lokal per 3 menit. Kartu atensi lebih sering menjadi hal yang seru, karena kita harus datang ke stasiun radio untuk menulis dan memasukkan ke acara yang akan membacakan kartu atensi tersebut. Orang-orang yang ada di stasiun radio adalah orang yang pandai berbicara dan menarik.

4. Kuis berhadiah yang unik.

Dalam kurun waktu beberapa bulan, selalu ada kuis-kuis baru yang unik dan seru. Biasanya kuis ini hasil kopi paste dari stasiun radio lain, namun tetap saja dalam area lokal ini menjadi sangat seru untuk diperebutkan hadiahnya.

Ada 2 jenis kuis yang masih saya ingat sekali sampai sekarang;

  1. Kuis membuat pertanyaan dari jawaban yang dilempar oleh penyiar

Contoh :

Penyiar : “coba kamu buat pertanyaan dengan jawaban “mangga”

Penelpon : “ok mba,,,, sebentar saya mikir dulu mba”

Penyiar : “ayo buruan jangan kelamaan 😀 hadiahnya hilang lhoo”

Penelpon : “udah nemu mba, ini pertanyaanya…. “permisiii….”

Penyiar : “lho kok pertanyaanya cuman “permisiii…”? ”

Penelpon : “iya mba,,, saya biasanya mengucapkan “permisi…” kalau lewat di depan orang tua…terus orang tua itu menjawab “mangga….”

Penyiar : “gubraaaaggg… wekawekawekaweka “

Penelpon : “ :p “

  1. Kuis membuat plesetan dari sebuah kata yang dilempar oleh penyiar.

Contoh :

Penyiar : “ coba buat pertanyaan dengan memplesetkan “pensil”

Penelpon 1 : “lagu apa yang tidak pernah besar dari dulu…? “

Penyiar : “lagu apa emangnya?”

Penelpon 1 : “ bintang “pensil” di langit yang biru…amat banyaak.. “

Baca Juga :  Penyesalan itu seperti bola karet

Penyiar : “ok penelpon kedua sekarang… apa pertanyaanmu..? ”

Penelpon 2 : “ Kemarin si Jono abis operasi tuh, terus gak bisa jalan normal “

Penyiar : “ kok si Jono enggak bisa jalan normal, emang abis operasi kenapa? “

Penelpon 2 : “ya iyalaaah, si Jono kan abis operasi jadinya dipen silitnya “

5. Ada penyiar yang menjadi idola.

Masing-masing penyiar memiliki suara yang khas dengan gaya siaran yang unik. Dari sederatan penyiar biasanya ada yang memang diidolakan karena karakternya saat mengudara. Biasanya ketika suatu acara yang biasa dibawakan oleh penyiar idola tersebut, tiba-tiba sang penyiar tersebut tidak mengudara maka biasanya akan terasa aneh dan mungkin mood untuk mendengarkan radio menjadi berkurang. Anehnya ketika berkunjung ke stasiun radio tersebut akan sedikit menebak-nebak dari suaranya ketika ada sosok yang bersuara di ruangan tersebut. Ada rasa deg-degan begitu bisa mengetahui sosok asli yang suaranya akrab di ruang dengar kita selama di depan radio.

6. Drama radio kala itu sangatlah menarik diikuti.

Dahulu ada drama radio baik yang bersifat kolosal maupun drama anak muda. Salah satu kekuatan dari drama radio adalah suara latar dan improvisasi sang pengisi suara yang memang sangat cocok. Seakan-akan kita bisa terbawa imajinasi dalam situasi dan kondisi yang diciptakan oleh komposisi suara yang muncul dalam drama tersebut.

7. Acara offline di kantor stasiun radio biasanya selalu penuh peserta.

Terkadang ada kegiatan bersifat off-air yang diadakan oleh stasiun radio tersebut, baik sekedar seminar kecil atau workshop kecil. Dahulu mencari sumber informasi masih sangatlah sulit, sehingga ketika ada acara semacam itu yang diadakan secara gratis, maka pesertanya biasanya selalu melampaui kuota ruangan sederhana yang memang dipersiapkan untuk kegiatan seperti itu.

8. AM dan FM menjadi persaingan sejati.

Bagi anda yang biasa bermain radio analog pasti akrab dengan istilah kanal AM dan FM. AM biasanya untuk radio lokal dengan cakupan sekitar satu kabupaten, sedangkan FM lebih luas yang bisa mencapai luar kabupaten. Radio AM biasanya akan lebih panjang kanal frekuensinya, sehingga putaran tuner tidaklah harus presisi untuk mendapatkan suara yang tepat. FM memiliki jangkauan yang luas, namun kanal frekuensinya biasanya lebih harus presisi, terlebih jika antenna yang digunakan masih antenna dalam ruangan, perlu antenna tambahan untuk  meningkatkan tangkapan sinyal FM tersebut.

Baca Juga :  Sekelumit Kata Bijak Dalam Sebuah Pendakian Gunung Merbabu

Saat ini hampir semua radio telah beralih pada kanal FM, dengan tujuan jangkauan yang lebih luas dan jernih dengan kualitas stereo. Media digital layaknya radio internet juga semakin memangkas jarak antara pemancar dan penerima.

9. Radio hanya memakai perangkat Radio, bukan ponsel, terlebih streaming.

Radio adalah sebuah perangkat yang memang besar dan tidak bisa dimasukkan saku. Biasanya menjadi satu antara pemutar kaset pita analog dan perangkat radio tersebut. Ada sebuah meja atau sudut khusus untuk menempatkan radio tersebut di suatu ruangan. Ketidakpraktisannya inilah yang terkadang membuat bermalas-malasan atau mengerjakan tugas sekolah di ruangan dengan radio menjadi lebih seru dan terasa santai dengan ditemani cemilan.

10. Perlu antenna penguat sinyal radio.

Dengan antenna bawaan perangkat radio yang bisa ditarik ulur, biasanya ketika menangkap frekuensi FM akan kurang jernih. Perlu sebuah antenna tambahan yang akan lebih baik jika diletakkan di luar ruangan. Bahkan saya pernah membeli sebuah perangkat antenna ringkas yang berisi kumparan tembaga dan magnet ringat serta beberapa transistor, namun terasa sekali peningkatan kualitas sinyal yang diterima walau hanya diletakkan di dalam ruangan.

11. Tertabrak radio liar itu mengesalkan.

Istilah di tempat saya adalah “brik-brikan”, sebuah radio illegal yang biasanya berfrekuensi acak satu arah untuk komunikasi asal-asalan antar sesama penggunanya. Biasanya memang uji coba atau sengaja untuk mengganggu suatu pancaran sinyal stasiun radio.

Beruntung sekarang sudah ada penertiban dan sanksi yang tegas terhadap radio-radio illegal tersebut.

Apakah anda pernah mengalami kondisi radio seperti pada masa saya tersebut? Berarti hidup Anda memang lebih terasa seru dan keseruan asli. 😀

8 COMMENTS

  1. Waktu masih putih abu pasti stay tune di PTPN atau solo radio, penyiarnya namanya Rasti, kalau yg di ptpn penyiarnya suka bilang gini : bareng lagi sama aku, penyiar yg baik hati tidak sombong suka menolong rajin menabung rajin bangun pagi dan bukan pengemis cintaaaaa..

    Saat pindah jogja, pindah juga tune nya, pindah ke radio berlogo kribo, yg ada acara “putus” tiap pagi yg lagu nya dinyanyiin sama artis2 ngetop gitu..seruuuu

Leave a Reply