Nostalgia Bersama Film Power Rangers 2017

Artikel tentang Film Power Rangers (2017) ini bukanlah spoiler, namun lebih kearah kesan saya sebagai orang dewasa yang pernah mempersilahkan film fiksi tersebut mengisi masa kecil saya. Jadi, tenang saja karena saya tidak akan memunculkan penampakan yang melebihi dari gambar spoiler.

Pastikan anda membuka artikel ini melalui komputer dekstop atau laptop, karena saya menyematkan lagu dari The Score – Unstoppable dari soundcloud. Lagu ini sebelumnya sering saya dengar di awal tahun 2017 di National Geographic Channel sebagai latar suara di promosi program-program barunya di tahun 2017. Lagu ini juga menjadi OST Film Power Ranger (2017) pada bagian akhir film.

Saya hanya ingat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya lupa saya berada di kelas berapa. Saat itu saya menonton film Power Rangers (1995) di satu-satunya bioskop di kabupaten tempat saya tinggal. Saya masih ingat saya kehilangan jam tangan ketika turun dari angkot, serta dimarahi Bapak saat pulang ke rumah.

Silahkan tonton trailernya bagi anda yang belum menontonya. Sebagian besar trailer film hanya mengangkat penggalan dari aksi atau moment yang dirasa akan mengundang rasa penasaran.

Saya bukanlah seorang yang bisa mengomentari sebuah film dengan sudut pandang yang objektif. Jadi dalam artikel ini saya hanya akan menceritakan apa yang saya rasakan saja ketika menonton Film Power Rangers (2017).

Saat saya masih kecil, saya menonton seri Power Rangers di tiap hari minggu. Hanya sekedar permulaan, konflik lalu penyelesaian cerita dalam 30 menit. Saya merasakan keseruan saat ada banyak efek visual dan saat Zord-nya keluar melawan musuh yang menjadi raksasa. Sisi cerita mungkin tidak bisa saya tangkap, entah karena saya yang masih terlalu kecil atau memang karena dari tiap episodenya sendiri.

Baca Juga :  Sayonara kepada ribuan kisah dalam sekeping micro SD

Untuk Film Power Rangers (2017) ini menurut saya adalah sebuah film yang bagus dan layak ditonton, bukan hanya sekedar nostalgia. Ada kesan bahwa film ini digarap bukan hanya untuk nostalgia semata, namun disesuaikan dengan selera penonton saat ini. 

Seperti unsur komedi yang berkelas, grafis yang memukau atau juga pengisian beberapa plot sejarah yang kosong. Semisal siapa sih Rita Repulsa dan bagaimana ia bisa menjadi jahat. Karena penonton sekarang sudah tidak puas ketika menghadapi tokoh yang tiba-tiba saja jahat tanpa alasan.

Saat saya menontonya bersama istri saya di Bioskop E-Plaza Semarang pada 4 April 2017. Sengaja menonton saat film sudah tayang beberapa waktu agar tidak terlalu ramai. Terlihat ada beberapa penonton lainnya yang usianya sebaya dengan saya. Beberapa dari mereka ada yang sudah membawa anak kecil, ada pula beberapa yang menonton bersama teman-temannya, bahkan tak jarang juga ada yang menonton sendirian. Memang, banyak yang merasa ingin bernostalgia dengan kelima Rangers warna-warni tersebut.

Selain grafis yang memukau, sesuailah dengan teknologi visual sekarang ini. Kita juga akan dihadapkan pada sebuah alur cerita yang lebih mendalam dan fokus dalam satu jalan. Tidaklah terlalu terlihat pengabur alur cerita dalam film Power Rangers ini. Walaupun kita akan tahu bahwa Power Rangers akan menang melawan Rita Repulsa, namun ada banyak sekali penampakan yang membuatnya terasa berbeda. Saya sangat menikmatinya.

Baca Juga :  Mencoba Belajar dari TEDxBandung - Enda Nasution - Social Media Timeline

Filosofi tentang sebuah keluarga dan persahabatan diangkat jelas oleh film ini. Menguatkan bahwa sesuatu itu ketika berjalan bersama maka akan terasa lebih dan baik. Mungkin saja Power Rangers yang dulu sudah mengangkat hal ini, namun saya belum cukup umur untuk menangkap hal yang tersirat tersebut. Pada umur sekarang ini mungkin menjadikan saya lebih mudah untuk menangkap pesan tersembunyi yang sering muncul.

Anda akan sering tersenyum dengan beberapa humor yang datang dengan frekuensi yang tidak diduga-duga. Pokoknya tahu-tahu saja Anda akan tertawa lepas pada penggalan gambar di hadapan anda. Lionsgate memang tahu betul meramu Film Power Rangers (2017) ini dengan beragam genre.

Pokoknya Anda akan lebih merasa dari sekedar nostalgia apabila menyaksikan film Power Rangers (2017). Bila Anda penyuka film aksi, petualangan, humor dan fiksi, maka film ini cocok untuk menemani nostalgia masa kecil anda. Satu hal lagi, di film ini tidak ada umpatan atau romansa percintaan yang keterlaluan, apalagi adegan ciuman, jadi bisa dikatakan amanlah untuk tontonan keluarga. Walaupun masih ada adegan kekerasan seperti berkelahi, maka dari itu dampingilah apabila anda menyaksikannya bersama anak anda.

Satu hal lagi yang hampir terlupakan, lokasi pengambilan gambarnya di beberapa scene mirip seperti di Kota Takengon – Aceh Tengah. Pemandangan berupa danau di antara perbukitan, mirip Danau Laut Tawar dengan perbukitan di sekelilingnya. Mungkin kelak akan banyak film-film internasional yang terpikat untuk mengambil gambar di nusantara.

Baca Juga :  FILOSOFI dari sebuah buku

Selamat menyaksikan bagi yang belum menyaksikan.
Saya malah ingin menyaksikannya lagi, 🙂

Salam.

NB : Foto bersumber dari official Film Power Ranger (2017)

Blogger amatir asal Banjarnegara yang ingin jadi macan tapi belum kesampaian. Belajar menulis semenjak belajar fotografi khususnya bidang Landscape. Menyukai aktivitas luar ruangan dan warung sederhana di pinggir jalan. Lebih suka menghitung bintang daripada menghitung denyut nadi.
SHARE

13 COMMENTS

  1. Aku dulu malah terobsesi sm robotnya yg gede itu mas, dr berbagai pesawat dn sebagainya wkwkwk
    Trus nyetir nya di bagian mata 😀
    Sampe2 aku bikin mainan dr kertas di lipet2 trus digabungin jd robot gede hahahaha

  2. ini film yg aku tunggu2 dari tahun lalu, akhirnya sempet juga nonton kemarin….tapi entah ya di tengah film aku rada ngantuk…mungkin krn konfliknya terasa dipanjang2in, sementara biasanya kan kita nonton serial Power Rangers di TV cuma 30 menit 😀

Leave a Reply