Pendakian Via Jalur Sigedang atau Tambi Menuju Puncak Gunung Sindoro (3153 mdpl) 2 of 3

15_ghozaliq_semak
Hamparan terbuka, tidak rekomendasi untuk musim hujan 🙂

sebelumnya pada HIJAUNYA JALUR SIGEDANG MENUJU PUNCAK GUNUNG SINDORO (3153 MDPL) 1 OF 3 kami telah sampai pada batas perkebunan teh dengan semak, selanjutnya kami mulai merasakan betapa pentingnya pohon teduhan 😀

16_ghozaliq_ituwatususu
Kami terlihat kecil sekali, hanyalah sebercak dalam gundukan mungil milik-Mu

Mulai dari daerah bersemak belukar inilah puncak terlihat jelas di depan mata, yang sangat pelan sekali terlihat mendekat :D. Memang ada beberapa anggapan bahwa naik gunung enaknya malam hari agar kita tidak melihat seberapa jauh lagi langkah kita, tapi ada juga anggapan lain yang berpendapat bahwa dengan melihat jarak yang tersesisa maka kita akan lebih semangat melangkah. Semangat bisa berkompromi dengan stamina, namun stamina tidak bisa berkompromi dengan kata lapar :D.

15_ghozaliq_pohon
Banyak tanda yang akan mengantarkan anda agar tidak tersesat

Tenaga yang mulai melemai memaksa saya banyak kali untuk duduk sembari melihat pemandangan di belakang saya untuk melihat seberapa jauh jarak yang sudah kami tempuh, dan mendongkak ke atas untuk mengukur jarak yang masih harus kami tempuh. Pada beberapa jalan yang bisa dibilang ada persimpangan yang membingungkan, cukup perhatikan tanda yang menempel di pohon, baik berupa ikatan tali rafia, maupun plat yang terpaksa dipaku di batang pohon.

16_ghozaliq_ngaso
Berisitrahat sembari melihat ke pemandangan di utara sana

Setiap jarak beberapa puluh meter ada beberapa tempat yang cukup untuk meluruskan kaki kami berempat, duduk bersama sembari mengeringkan keringat dan menyeka peluh di dahi masing-masing.

15_ghozaliq_semak (2)
kiri-kanan semak tinggi seperti ini tidaklah banyak

Perjalanan selanjutnya tetap didominasi Heru dan Agung di depan kami, sekitar 30 meter ada saya, sekitar 30 meter lagi baru ada Yogo. Hari semakin sore, semakin dingin dan jarak antar kami semakin memanjang. Sesekali terdengar teriakan diantara kami untuk memastikan bahwa kami masih sama-sama dalam jangkauan langkah.

Baca Juga :  Bukit Sikunir dan Bisiknya kepada para penjamah
16_ghozaliq_herunaikk
Heru masih tetap bertenaga di depan sana

Memang dalam rute ini sangat susah sekali untuk menemukan tempat untuk membuka tenda, selain medan yang curam berbatu, juga pepohonan perdu yang masih tegak berdiri.

17_ghozaliq_edelweis
Bisa diambil, namun fotonya aja bro.. 😀
18_ghozaliq_jalanterus
Yogo berhenti, saya juga 😀

Kami sempat bertemu rombongan dari Jakarta yang mendirikan tenda pramuka di sela-sela tanaman perdu, dan menurut saya tempat yang mereka pilih cukup bagus karena cukup terlindung dari angin kencang.

19_ghozaliq_awanmendekat
Yang orange lebih terlihat, itulah warna “unik” di alam bebas

Ketika hari semakin gelap, udara semakin terasa dingin dan semakin menerpa kencang. Berhenti sejenak dalam posisi yang masih seperti sama semenjak tadi, kukenakan jaket yang sedari tadi saya tanggalkan. Saya tersadar bahwa headlamp saya berada di tas saya, sedangkan tas saya di bawa oleh Agung yang sudah berada di depan saya. Saya bergegas untuk bergerak mendekat sembari menjauh perlahan menginggalkan Yogo yang berada di belakang saya.

20_ghozaliq_senja
Gerbang senja telah terlihat, segera bersiap untuk malam

Kejaran saya selingi dengan teriakan kepada Agung dan Heru untuk berhenti dan membuka tenda ketika menemukan tempat lapang, kondisi sudah mulai gelap sore itu. Sepertinya mereka mulai terlihat terhenti di sebuah persimpangan diantara dua jalur menuju ke puncak, segera saya susul mereka sembari tetap berteriak untuk berhenti sembari memikirkan akan lmelanjutkan perjalanan atau membuka tenda dengan melihat kondisi team yang seperti ini.

Terdengar sayup suara teriakan Yogo yang sudah hampir mencapai batas fisiknya, terlihat tas warna orange dalam remang diantara semak yang berada di bawah kami. Kami hanya menyemangatinya untuk segera mencapai ke titik kami, tentu saja karena kami paham kondisi tersebut bukanlah kondisi yang darurat, sehingga scenario penjemputan tidak perlu dilaksanakan. Setelah semua berada di satu titik, terpaan angin menjadi semakin kencang serta makin menusuk, sedangkan alat penerangan hanya ada 3 buah untuk 4 orang. Kondisi seperti ini tentu saja membuat keputusan untuk mendirikan tenda menjadi semakin membulat. Dalam gelap terjadi keriuhan ketika mulai mendirikan tenda, lokasi yang hanya memberikan ruang datar untuk satu tenda membuat kami ekstra hati-hati agar tidak terperosok. Terpaan angin malam itu semakin menaikkan tempo pendirian tenda. Sebegitunya tenda telah berdiri, segera Yogo masuk untuk mulai menata barang bawaan yang mulai kami masukkan ke dalam tenda. Saya, Heru dan Agung masih berada diluat untuk memasang frame pada bagian vestibule dan mengencangkan beberapa pasak serta memastikan guyline terpasang dengan baik. Walau jumlah pasak kurang dari jumlah seharusnya yang terpasang, maka sistem prioritas kami gunakan untuk mengurangi terpaan angin malam kala itu.

Baca Juga :  Pitulasan di Petilasan Gunung Muria

Gelaran matras menjadi alas kami berempat ketika memulai membuka nasi bungkus yang memang untuk makan malam kami. Walau sudah tak terasa hangat lagi, ya memang harus dimakan untuk mengembalikan stamina dan menghangatkan tubuh. Sebuah senter kecil dan posel pemutar musik kami letakkan pada gantungan tepat di atas kepala kami. Senandung musik malam itu ditemani bisikkan riuh angin malam menemani tiap suap rezeki hari ini. Angin sekencang malam itu membuat kami enggan untuk menikmati atau memotret deretan lampu pada jalan raya Wonosobo – Dieng, walaupun saya sesekali melirik untuk memastikan cuaca aman terkendali sehingga skenario terhadap hujan tidak perlu dilaksanakan. Sleeping bag mulai membalut rapat tubuh kami, walau badan lelah namun saya sering merasa sulit terpejam ketika berada di ketinggian. Kondisi fisik saya memang seakan menolak terpejam ketika lelah yang terlalu terasa, terlebih kondisi udara yang dingin malam itu. Sesekali terpejam untuk kemudian terbangun melihat arloji pada pergelangan tangan kiri saya. Sekitaran pukul 22.00 barulah rombongan pendaki dari Pekalongan yang kami temui di basecamp dan sempat kami dahului ketika di perkebunan teh akhirnya menyusul kami dan mendirikan tenda di dekat tenda kami dengan tanah datar yang memang minimalis sekali luasnya :D.

lanjutan kisah pendakian menuju puncak da kembali ke basecamp ada pada HIJAUNYA JALUR SIGEDANG MENUJU PUNCAK GUNUNG SINDORO (3153 MDPL) 3 OF 3

Baca Juga :  Cara Memilih Sandal Gunung yang Baik dan Benar

4 COMMENTS

    • Bila Mas sering naik gunung atau sering pramukaan, bisa terlihat dengan jelas kok dengan beberapa tanda di ranting dan jalan air yang sering dilintasi pendaki.

Leave a Reply