Mempelajari Apel dan Jeruk di Desa Wisata Poncokusumo

Desa Wisata Poncokusumo menghadirkan atraksi wisata berupa kunjungan ke perkebunan apel dan perkebunan jeruk yang banyak tersebar di Desa Poncokusumo. Sebagian besar merupakan milik pribadi warga Desa Poncokusumo, sehingga akanlah sangat menyenangkan berkunjung ke sebuah kebun buah dimana tuan rumah dengan ramah menyambut.

 

Saya dan rekan-rekan tim Eksplor Desa Wisata Malang turun dari sebuah angkutan desa yang digunakan untuk mobilitas kami selama di Desa Wisata Poncokusumo. Kami harus berjalan sekitar 50 meter di antara tanaman teduhan yang berada di tepian perkebunan.

Salah satu gembok di gerbang yang menjadi pagar.

Kami masuk melalui sebuah gerbang berupa 2 pohon yang dengan segera mengantarkan kami ke pepohonan apel di sekeliling kami. Segera Pak Mbah yang menjadi pemandu kami, mendekat ke sebuah pohon apel yang telah berbuah. Beliau memulai dengan menyebutkan jenis apel tersebut, baik dengan nama lokal maupun nama aslinya.

Semuanya entah mengapa terlihat sibuk sekali mengarahkan kamera, ahaha

Ternyata dalam satu pohon apel, bisa menghasilkan beberapa jenis buah apel. Sistem okulasi yang diterapkan mnejadikan satu dahan adalah satu jenis apel. Saya baru mengetahui hal tersebut ketika Pak Mbah menjelaskannya dengan gamblang kepada kami.

Sayangnya apel yang merah ini tak boleh dipetik, ahaha menggoda sekali

 

Kerumunan apel yang bisa dengan mudah kita gapai lalu kita santap.

Saya lupa-lupa ingat apa saja nama buah apel yang ada di kebun tersebut. Ada banyak sekali jenis buah apel yang disebutkan kepada kami, namun saya hanya ingat saja warnanya. Paling mudah dilihat adalah apel hijau, apel merah, apel hijau kekuningan dan juga apel merah hijau. Saya tidak begitu paham bagaimana rasa masing-masing jenis tersebut. Saya hanya sempat mencicipi satu buah apel hijau.

Baca Juga :  Ramainya Dieng Saat Musim Libur Lebaran 2015 Membuat Saya Kapok
Langit saat itu terlihat biru sekali,

Hal yang membedakan antara apel lokal dengan apel import adalah kulitnya. Apel import memiliki lapisan lilin untuk membuatnya lebih awet, sehingga kita perlu mengupas kulitnya sebelum dimakan. Namun untuk apel lokal, cukup dicuci saja dengan air bersih, lalu bisa kita makan dengan kulitnya. Seperti pesan dari dr. Hembing, kalau makan buah, jangan lupakan kulitnya.

Sapinya benar-benar berukuran besar, saya hampir kalah tinggi

Di tengah perkebunan apel tersebut terdapat sebuah kandang yang berisi 2 ekor sapi. Keberadaannya merupakan sebagai pupuk organik untuk perkebunan apel tersebut. Rerumputan yang sering menjadi gulma di perkebunan tersebut dijadikan sebagai pakan ternak. Jadi dari tanah, kembali ke tanah.

SMP, setelah makan pamitan, ahahaha

Lalu kami berpamitan kepada pemilik perkebunan apel tersebut, berucap terima kasih atas ijin yang diberikan serta beberapa buah apel yang kami santap di lokasi.

******

Gerbang masuk perkebunan jeruk

Masih di Desa WIsata Poncokusumo, kami mengujungi perkebunan Jeruk yang terletak tidaklah begitu jauh dari Perkebunan Apel tadi. Untuk perkebunan jeruk yang kami datangi ini, kami tidak menjumpai pemiliknya, namun ada banyak pekerja yang sedang berada di lokasi. Jadilah kami dengan diantarkan oleh Pak Mbah melakukan wawancara sederhana dengan salah seorang pekerja yang ada di perkebunan jeruk tersebut.

Semua sedang mengorek informasi mengenai jeruk sembari celingak-celinguk mencari jeruk yang sudak masak.

Pak Kustanto, beliau dengan ikhlas menghadapi beragam pertanyaan dari kami. Perkebunan Jeruk yang kami datangi ini ternyata baru berumur 5 tahun, sebelumnya adalah Perkebunan Apel. Total luas perkebunan jeruk tersebut sekitar 2 hektar dengan jumlah hampir mencapai 1.000 pohon. Jenis jeruknya adalah geprok siyem yang menggunakan sistem okulasi.

Baca Juga :  Pemerahan Susu Sapi di Agro Wisata Nusa Pelangi, Desa Gubugklakah
Adakah yang melihat truk dalam gambar ini?

Perlu waktu 2.5 tahun untuk memulai pemanenan pertama. Per pohon hingga 30 kg dalam jangka waktu 3 bulan, lalu perlu menunggu 9 bulan untuk berbunga dan beruah kembali. Karena kualitasnya yang bagus, jeruk dari perkebunan ini seringnya dijual di supermarket.

Jebakan betmen untuk lalat buah yang menjadi hama di perkebunan ini.

Untuk menghadapi hama, mulai dari lumut, kutu dan lalat buah, ada beberapa teknik untuk menghalau hama tersebut. Seperti memasang perangkap lalat buah, mengecat pohon menggunakan kapur, juga menggosok dahan pohon dengan sabun khusus.

Sapinya di ada banyak, namun ini yang paling ramah dengan kamera.

Perkebunan jeruk ini juga memiliki sebuah kandang sapi yang digunakan sebagi penghasil pupuk kandang. Perawatan yang baik bisa membuat pohon jeruk bertahan hingga umur 15-20 tahun. Perkebunan jeruk ini tidak melayani petik beli kepada para pengunjung, namun sementara hanya sekedar kunjungan produksi dan juga petik di tempat.

Pohon jeruk bisa menjulang hingga umur 20 tahun.

 

Jeruk yang hampir siap panen.

Pohon jeruk yang ada di perkebunan ini telah dibuang durinya, dibuang secara manual agar aman saat dipanen. Pembuangan duri pada pohon jeruk tidak mempengaruhi kualitas dari jeruk yang dihasilkan.

Modelnya hanya cukup diambil tanganya saja.

 

Untuk Kebun Apel terletak di -8.0504733, 112.8143783
Berikut saya sematkan peta yang menujukkan dimana lokasi kebun apel tersebut.

Sedangkan Kebun jeruk terletak di -8.0587350 , 112.8109050
Berikut saya sematkan peta yang menujukkan dimana lokasi kebun jeruk tersebut.

Bila anda ingin mengujungi Kebun apel dan kebun jeruk tersebut, anda bisa menghubungi kontak person berikut ini :

 

Desa Wisata Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Contact Person : 0851-0502-5770 (Pak Khoirul Anam / Pak Mbah)

Baca Juga :  Tegal, dari hujan hingga kepanasan

 

 

Tulisan ini dibuat atas perjalanan bersama tim blogger #EksplorDeswitaMalang pada tanggal 14-16 April 2017 pada 4 Desa Wisata di Kabupaten Malang.

 

10 COMMENTS

  1. Di Poncokusumo kita tidak hanya memetik apel saja, tapi kita juga diberi pengetahuan dasar berkaitan dengan Apel. Sama dengan Jeruk, walau perkebunan Jeruk itu milik orang buka milik desa, tapi cukup menarik sebagai pilihan berkunjung.

    Seperti yang diutarakan pemandu, kalau desa Poncokusumo bakalan membuat kebun Jeruk juga, itu menjadi menarik bagi para wisatawan nantinya.

    • Betul Mas, saya juga baru tahu seluk beluk apel itu ternyata cukup panjang dari proses penanaman hingga panen. Jadi setelah piknik itu jadi tambah pinter, ahahha

      iya, perlu 5 tahun lagi hingga berbuah kalau baru menanam…ahahhaa

  2. Satu yang kuingat, pas Alid manggil si sapi dengan sebutan tomblok, eh sapinya malah bersuara. Oya, aku pengin cobain apel merah itu, sayang hanya boleh dilihat.

  3. foto kedua dari atas, kenapa pas dijelaskan malah pada sibuk dengan “senjata” masing-masing hahaha
    yang merah kenapa gak boleh dipetik mas?

  4. Aku dari dulu memang ga tertarik dengan jeruk hijau, pikirku rasanya pasti kecut, eh pas kemarin yang dipetikin sama Ibunya kok ya manis ya, kayak jeruk2 impor hahah,,,

Comments are closed.