Boon Pring Andeman, Tepian Nirwana di Desa Wisata Sanakerto

Boon Pring Andeman terletak di sudut timur Desa Wisata Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Nuansa alam khas pedesaan dengan sumber mata air yang menjadi salah satu sumber kehidupan manusia hadir sangat dekat di Desa Wisata Sanankerto. Denai embun saat fajar masih melekat erat dalam ingatan saya saat mengujunginya pagi itu.

Cahaya merupakan salah satu Anugrah dari Tuhan untuk umat manusia

Boon Pring, memliki arti “anugrah yang turun di hutan bambu”, kurang lebih seperti itulah saya menangkap informasi yang diberikan oleh PokDarWis Desa Sanankerto. Memang benar adanya, sumber air bersih nan jernih, udara yang lebih bersih dari ruangan ber-AC, juga tanah yang subur dengan beragam tanaman yang tumbuh.

 

Pagi masihlah terlalu muda saat saya dan Mas Sitam beranjak menuju teras homestay Pak Dono. Rupanya Pak Dono telah siap untuk mengantarkan kami berpindah ruang pandang ke sebuah objek wisata alam di Desa Wisata Sanankerto. Belalang tempur milik Pak Dono telah bersandar rapi di teras rumah, seekor kuda besi dikeluarkannya lagi sebagai tunggangan saya dan Mas Sitam.

Kami bertiga segera melipat jarak dari beranda sederhana menuju hutan bambu yang terbatasi tirai rintik embun. Sejenak menanti rombongan lainnya, sejenak menarik nafas lebih dalam, sejenak meresapi ketenangan di sudut semesta yang beranjak bercahaya.

Ada 65 jenis bambu di Hutan Bambu Boon Pring Andeman ini

Lebih dari separuh piantan telah kami habiskan berkeliling di Desa Wisata Sanankerto, namun rupanya masih ada satu lokasi dengan beragam atraksi menikmati pagi. Ketika semua anggota tim #EksplorDeswitaMalang telah berkumpul bersama anggota PokDarWis Desa Sanankerto, segera kami memulai langkah kecil menyusuri hutan bambu di Boon Pring Andeman.

Lewati gunung, lompati lembah. *nyanyi

Seok langkah yang beradu dengan dedaunan bambu kering sepanjang perjalanan menjadi iringan merdu menuju arah matahari terbit. Kami segera bergegas untuk masuk semakin dalam ke dalam hutan bambu, berburu jemari cahaya pagi yang menggapai bumi dan menembus lapisan embun.

Pagi mulai menyibak di sela-sela batang bambu

Atmosfer pagi di sekitaran kami saat itu kurang dipadati embun, musim hujan memang bukanlah saat yang tepat mencari embun tebal di antara pepohonan. Semesta tetap menghadirkan sebuah keindahan pagi untuk kami, para pejalan yang rindu dekapan pagi. Tepat di depan kami muncullah Rays of Light (RoL) pertama pagi kami, semua bergempita menyambutnya.

Baca Juga :  Sabang, Titik awal dimana keindahan Indonesia dimulai (part 1 of 2)
Bahkan cahaya-pun tetap ingat untuk kembali membumi.

Rays of Light (RoL) merupakan fenomena alam dimana cahaya matahari sebagian terhalang dan sebagian lolos, sehingga memunculkan beberapa garis lurus yang diperjelas oleh partikel di atmosfer. Biasanya RoL alami muncul saat pagi hari ketika embun pagi masih berada di bumi, atau sore hari saat awan menutupi cahaya matahari dengan menyisakan beberapa lubang untuk meloloskan cahaya. Saya sering menjumpainya di dapur rumah saat masih kecil, dimana asap dari tungku kayu mempertegas sinar pagi yang masuk melalui genting kaca.

Kabut tipis semakin memperkuat cahaya yang melintas

Raungan rana beradu dengan celoteh pagi anak manusia, walaupun tawa dan canda tak terekam dalam bingkai digital. Aroma tanah basah selalu menggoda saya, terlebih dengan butiran embun yang enggan lepas dari dedaunan.

Foto Keluarga dahulu, agar kelak ada cerita untuk rakyat kita nanti

Beberapa kelompok pohon bambu sempat membuat kami berhenti sejenak, menyaksikan dan mengabadikan dalam bentuk gambar diam. Kami benar-benar beruntung sekali pagi itu, mendapati RoL yang tiada henti tersuguhi kepada kami tanpa tetapi. Kondisi pagi seperti ini ialah salah satu dari jutaan anugrah dari Tuhan yang banyak dilewatkan orang, juga seperti do’a, hal yang murah dan bisa mengubah.

 

Saya beryukur telah beberapa waktu terakhir ini belajar mengenai dokumentasi dalam format foto panorama 360. Mungkin sejenak saya memohon kepada Anda para pembaca untuk sudi berkeliling secara visual di salah satu sudut Boon Pring Andeman berikut ini.

 

Foto Panorama 360 di atas hanya berjalan dengan baik pada browser yang telah mendukung html5. Bila Anda berkenan, Saya juga kebetulan telah membuat sebuah Vitrual Tour 360 di Boon Pring yang berisi 5 buah foto panorama 360. Jika berkenan, saya persilahkan untuk berpindah ruang ke artikel Virtual Tour 360 Boon Pring Andeman, Desa Wisata Sanankerto.

Baca Juga :  Melepas Senja di Gardu Pandang Goa Seplawan, Segaris Batas Jawa Tengah dengan D.I. Yogyakarta
Boon Pring Andeman Desa Sanankerto
Beruntung sekali kami, sebelum keluar dari hutan bambu ini tetap disuguhi keindahan kecil di semesta yang maha besar ini.

 

Pagi sudah mulai beranjak remaja saat kami melangkah keluar dari hutan bambu tersebut. Sesekali kami menengok ke belakang, berharap mendapati RoL yang bergelora. Alam memang tak pernah ingkar kepada manusia yang terkadang melupa, sekali lagi kami tersinari cahaya surga tersebut. Segera kusiapkan pencahayaan tambahan, lalu jadilah sebuah foto keluarga yang akan selalu bercahaya di linimasa.

Jawabnya ada di ujung langit, kita ke sana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani. *nyanyi

Pemandangan syahdu selain RoL di hutan bambu tersebut menurut saya adalah ketika hijaunya dedaunan remaja bersading melapisi langit biru tanpa awan. Entah mengapa terlihat begitu menenangkan dan meneduhkan, seakan ada relung jiwa di atas sana, sembari mencari Tuhan yang selalu tahu kita ada dimana.

Airnya segar, jernih dan yang jelas tidak perlu merogoh saku. Alam menyediakan untuk manusia, manusia tinggal bersyukur dan selalu ingat serta waspada.

Kami melintasi sebuah beberapa sumber air yang ada di sekitaran Boon Pring. Terlihat betapa terjaganya kondisi hutan di Desa Wisata Sanankerto. Sumber air di daerah ini juga bisa diminum langsung, dijamin airnya bersih dan jenih. Beberapa dari kami membasuh muka untuk merasakan betapa segarnya air tersebut.

Hamparan kesuburan tak henti-hentinya memenuhi ruang pandang kami.

Air gunung dan manusia, ada sebuah pesan bijak dari seorang paruh baya yang pernah saya wawancara.

“Sering-seringlah bermain di air yang mengalir, sifat sombong manusia atas alam akan hanyut bersamanya”

Jadi apabila Anda melihat mereka yang gemar membanggakan dunia, mungkin mereka sudah lama tidak main ke sungai. Ajaklah mereka untuk bermain air di sungai dengan air gunung yang jernih dan segar.

Salah satu foto yang membuat saya ingin sekali berkunjung kembali ke Desa Wisata Sanankerto.

Ketenangan tidak hanya dihadirkan oleh langit dan pepohonan di tepian hutan bambu tersebut, kolam air juga ikut terlihat tenang tanpa riak. Pantulan langit yang mengisyaratkan bahwa yang di atas juga bisa di bawah, semua ada waktunya. Tetaplah ingat dimana kita berpijak, karena hidup itu hanya mampir sejenak untuk merasakan tangis dan tawa.

Ingin mencari ketenangan atau membentuk ketenangan? Di sini tempatnya

 

Lokasi yang akan dijadikan museum hidup 100 jenis bambu di Desa Sanankerto. Semoga segera terwujud

Pelestarian hutan bambu di Desa Wisata Sanankerto rupanya tidak hanya sampai di sini, Kepala Desa Sanankerto telah memantapkan niat untuk membangun sebuah museum bambu. Sebuah museum hidup yang akan diisi 100 jenis bambu, untuk sementara di Desa Sanankerto baru ditemukan 65 jenis pohon bambu.

Baca Juga :  5 Kaos Andalan Ketika Saya Traveling
Jika kakimu lelah, menepi dan berteduhlah. Jika hatimu yang lelah, berbahagialah dan berbiasalah.

 

Gerbang bambu untuk berpindah pulau

Langkah kami kembali terhenti di sebuah gapura kecil yang bertuliskan “Pulau Putri Sekar Sari”, sebuah pulau kecil di tengah danau yang ada di kawasan Boon Pring Andeman. Sebuah jembatan sederhana mengantarkan kami untuk berpindah pulau.

Foto ini diambil dari Pulau Putri Sekar Sari

Di tengah pualu tersebut, ada sebuah gazebo kecil yang terletak di sudut pulau. Beberapa tanaman, baik tanaman tingkat tinggi maupun tanaman berbunga tumbuh tertata rapi untuk menyambut langkah pengjunjung.

Area parkirnya saja terasa teduh, serasa dipayungi olehmu, iya olehmu..

Berpindah ke sebelah baratnya, ada sebuah area lapang yang digunakan untuk lahan parkir pengunjung. Dari area ini kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling danau, atau jika ingin lebih sehat kita bisa menyewa perahu kayuh berbentuk bebek.

Naik perahu berkeliling danau juga bisa, suasanya tenang dan adem di hati

Sebuah kolam renang dengan air yang jernih dan mengalir tersedia untuk anak-anak, dalamnya sekitar 60 cm. Terlihat beberapa anak kecil dengan riang saling melempar kesegaran di tengah sejuknya udara sekitar.

Kolam renangnya cocok untuk membiasakan si kecil mengenal air

Langkah kami kembali melaju ke sebuah bangunan yang terlihat terawat kebersihannya. Bangunan tersebut merupakan Makam Mbah Singorejo, beliau adalah orang yang pertama kali mbabad alas (membuka lahan) di Desa Sanankerto pada tahun 1910. Untuk kisahnya sebenarnya menarik, namun panjang, sehingga saya belum berani menulisnya sekarang. Perlu informasi tambahan lainnya agar sejarah tersebut benar tertulis dalam artikel saya.

Di ujung sana, di dalam ruangan tersebut, ada Makan Mbah Singorejo

Lokasi Objek Wisata Alam Boon Pring Andeman di Desa Wisata Sanankerto ini terletak di -8.1554850, 112.7626767

Anda juga bisa melihatnya melalui peta berikut ini.

 

Apabila anda ingin memerlukan informasi lebih lanjut jika ingin berkunjung ke Desa Wisata Sanankerto, silahkan hubungi kontak berikut ini.

 

Alamat Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kab. Malang, Jawa Timur
Telp: 0838-4882-4802 (Mas Rudi)/ 08533-167-4242 (Mas Wahyudi)

Terima kasih atas segalam keramahannya kepada kami :D. Sampai jumpa di lain waktu dengan keadaan yang sama bahagianya 🙂

Tulisan ini dibuat atas perjalanan bersama tim blogger #EksplorDeswitaMalang pada tanggal 14-16 April 2017 pada 4 Desa Wisata di Kabupaten Malang.

 

12 COMMENTS

  1. Kesan pertama ketika di sini yang paling diingat adalah kita berdua menjadi tamu pertama Pak Dono, dan beliau rela meminjamkan motor untuk kita berdua. Selain itu lokasi Boon Pring, Pulau Sekar, dan Kolam anak itu berdekatan. Jadi bisa memungkinkan pengelola menggaet banyak wisatawan bareng keluarganya ke sini.

    Oya makasih loh sudah berbagi tips memotret RoL sewaktu di Boon Pring. Itu membantu banget hahahahahha

    • Iya, terlebih Pak Dono juga meninggalkan kesan yang baik selaku tuan rumah.

      Semoga ke depannya Boon Pring ini semakin menjadi pilihan menghabiskan waktu bersama keluarga yang ramah untuk wisatawan.

      ahahaha sama-sama Mas, saya juga masih belajar kok 🙂 , senang bisa berbagi…

  2. Beruntung, ya, masih pagi, dan diberikan akses eksklusif ke sana. Coba misalnya tempat wisatanya dibuka umum sejak pagi, niscaya deh lama-lama motret ROL nggak bakal sekece ini.

    Bentar, tanya, Mas Rudi itu yang gimbal bukan?

    • wakawk kece karena masih jarang yang mau bangun lebih pagi agar lebih kece. Percayalah, banyak orang yang ingin tampil kece di sore hari aja.

      waduh, kamu nanya ke orang yang salah, aku gak tau, taunya Mas Gimbal aja….awkakwkaw

  3. Boon Pring, memliki arti “anugrah yang turun di hutan bambu”, dan dia juga anugrah yang turun dari mana :p
    Mas sungguh foto-fotomu telah didampingi serasi dengan pilihan katanya :))
    Boon pring itu, sejuknya berlipat-lipat. Ada airnya berlimpah, bisa buat mandi cahaya juga ketika pagi.

    • Turun dari mata terus ke hati lalu ke KUA Mbak….akwkawka

      Hehehe, kebetulan aja cuaca sedanag bagus mbak, jadi foto-fotonya ketularan bersih.
      Sudah lama juga gak nulis di blog dengan kata yang kayak gitu, nostalgia lah…

      Seru lho Mbak di sana, terlebih yang suka main air, duh…saat kaki kena air di sana tuh mak nyeess adem sampai ke hati… hihihih

  4. Lah fix, saya jadi bingung fokus lihat foto sama fokus membacanya. Tulisan alam dan pengingat yang saling mengingatkan ini mah 😍

    Air sama suasana sepinya menggiurkan ya.

    Dan fix, di depan rumah sebelah kanan itu ada segerombolan “wit empring” dan kadang liat juga ada cahaya yang menyelinap di situ. Biasa aja sih kayanya hehehe. Tapi setelah liat-liat foto ini jadi penasaran besok pas ada RoL nya wkwkwk.

    • Fokus ke semuanya aja Mbak, hehehe
      Fotonya emang kebetulan sedang diberi keberuntungan mendapatkan momen yang pas, lalu tulisannya juga emang sedang kangen nulis dengan gaya seperti itu. 😀

      Menggiurkan sekali Mbak, bisa duduk berlama-lama di sini sembari nulis puisi lho…hahaha

      Belakang rumah saya persis juga ada hutan bambu Mbak, tapi ya sama kayak njenengan itu, merasa biasa, dan tetiba mbaca komen Njenengan jadi ingin ikutan motret ntar ah pas mudik ke kampung….ahahhaa

      • Pas lagi kangen dengan gaya tulisan dulu pas masih dulu ya wkwk.

        Cuma duduk aja di sini bisa menghasilkan puisi ya? Wkwkwk

        Haha tapi ini belum saya coba. Pas itu kalau tak inget inget apik e. Tadi niat nungguin malah pagi pagi mendung 😂😂

        Tapi ya sama aja saya nggak ada kamera hahaha. Baiklah selamat mencoba di kampung halaman, jangan lupa halaman berapa 😂😂

      • iya, dulu kalau nulis seringnya seperti itu,

        bisa, kan dapet sinyal, tinggal browsing aja Mbak…akwakw

        paling enak pas kemarau Mbak, aku dulu kalau lewat dari Wates ke Sentolo itu sering nemu RoL di pinggiran jalan saat musim kemarau.
        Pasti ingatlah halaman berapa, kan sudah dikasih pembatas halaman, kwkwkw

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam