Pendakian Gunung Prau via Jalur Wates, Temanggung. Keramahan warga dan alam dalam kabut syahdu.

17
309
views

#prolog

Artikel ini saya tujukan untuk teman bloger saya, mas Hilman Firdaus yang baru-baru ini telah membuat perubahan besar dalam hidupnya, yaitu menikah. Selamat ya mas, anggap saja artikel ini sebagai kado pernikahan ya….., . Semoga selalu rukun dan langgeng sampai cucunya punya cucu lagi, amiiin :D. Singkat cerita Istrinya mas Hilman ingin naik gunung bareng Sang Suami, jadilah Gunung Prau yang dipilih untuk merasakan keromantisan di atas awan.

#intro

Gunung Prau sangat menjadi favorit bagi para pemula yang mencoba kemampuan fisik dan keterbatasan alat mereka. Pendaki senior juga mungkin menjadikan gunung prau untuk bernostalgia ketika tidak memiliki waktu cukup lama untuk berlibur ke gunung. Dari segi aksesbilitas dan jarak, memang pos pendakian via Patak Banteng menjadi primadona. Basecamp pendakian yang berada di tepian jalan raya Wonosobo – Dieng membuat angkutan umum semakin ramai oleh para pendaki. Jalur pendakian yang cukup singkat yang hanya sekitar 2-3 jam saja sudah bisa mencapai area puncaknya.

POSTINGAN PANJANG, HARAP MEMBACA DENGAN TELITI DAN SEKSAMA, SIAPA TAHU ADA INFORMASI BARU YANG BISA ANDA DAPATKAN, ATAU JUGA ADA KESALAHAN DALAM ARTIKEL INI YANG BISA ANDA KOREKSI.

#awalan

Berawal dari keinginan Istri saya yang ingin naik Gunung Prau beberapa tahun lalu saat kami belum menikah. Entah kenapa akhirnya saya dadakan saja untuk mengajak Istri saya untuk menaiki Gunung Prau sembari melatih kembali fisik yang sudah mulai tidak rutin berolahraga karena keterbatasan waktu dan minat. Hehehhe.

Kenapa Gunung Prau via Jalur Wates dipilih oleh kami? Ada banyak alasan :

  • -Jarak yang lebih dekat dari semarang dibandingkan basecamp Patak Banteng.
  • -Jalur ini masih bisa dikatakan cukup baru, sehingga harapan untuk jalur yang bersih memang menjadi impian.
  • -Jumlah pendaki yang lebih sedikit (sekali) membuat pendakian lebih tenang dan lebih menikmati.
  • -Jarak pendakian yang tidak terlalu dekat, sehingga bisa merasakan drama sepanjang pendakian.
  • -Ketersediaan air pada pos 1 dan pos 3 menurut informasi yang kami dapatkan.

#menuju base camp

Dari Semarang kami berangkat sekitar pukul setengah enam pagi, hari sabtu memang masih hari sekolah, namun sudah cukup dikurangi oleh para pekerja 5 hari.
Rute yang saya lalui adalah sebagai berikut :

Ungaran – Bandungan – Sumowono – Kaloran – Kandangan – Jumo – Ngadirejo – Muntung – Wonoboyo – Desa Wates.

Rute tersebut membuat Anda lebih cepat karena tidak melalui kota, bila Anda dari arah Yogyakarta dan sekitarnya, rekomendasi rute yang saya berikan adalah sebagai berikut :

Yogyakarta – Magelang  – Secang – Temanggung – Parakan – Ngadirejo – Muntung – Wonoboyo – Desa Wates.

Kecepatan yang memang dibuat untuk menikmati pemandangan membuat saya baru sampai di Ngadirejo sekitar pukul 8 pagi. Di Ngadirejo terdapat pasar yang bisa Anda gunakan untuk mengisi perbekalan Anda dan sarapan pagi di sana. Ada banyak pilihan, mulai warung tradisional hingga minimarket yang bisa Anda pilih sesuai dengan gaya berbelanja Anda.

Ghozaliq gudeg ngadirejo
Mari sarapan Gudeg, isi tenaga sebelum beradu dengan tanjakan

Sarapan mulai dari nasi rames, warung padang hingga gudeg juga bisa dengan mudah Anda temukan di Ngadirejo ini. Jadi Anda tidak perlu khawatir kelaparan di sini, asalkan Anda membawa uang yang cukup.

BILA ANDA PENGGUNA GPS,

Perlu Anda perhatikan ketika Anda akan menuju basecamp Wates dari arah Ngadirejo, pastikan Anda selalu mengikuti jalan aspal, ketika GPS memaksa Anda untuk berbelok menuju jalur beton alias keluar dari jalan aspal, abaikan. Biarkan GPS membuat rute baru untuk Anda, karena GPS akan memaksa Anda melintasi jalur beton dan bebatuan licin untuk memangkas jarak. Jika Anda ragu, pastikan Anda bertanya kepada warga sekitar dengan sopan arah ke Desa Wates.

Mulai dari arah Muntung – Wonoboyo – Desa Wates, kondisi aspal kecil nan halus, jalan meliuk dengan kaca cembung hampir di setiap tikungan. Anda akan dipaksa menanjak ketika Anda semakin mendekati area basecamp. Pada jalan tersebut juga ada petunjuk arah untuk Jalur Pendakian Gunung Sigandul, jika Anda sudah melihat tanda ini, berarti Anda tidak jauh lagi untuk menggapai basecamp Wates.

Koordinat Basecamp Wates adalah-7.2252693, 109.9595048

 

#basecamp

Ghozaliq basecamp wates
Jalan di depan Basecamp saat itu sedang ada betonisasi [Juli 2016]

Basecamp sangat mudah dikenali, selain dari tulisannya, ada juga yang berjaga pada akhir pekan untuk mengarahkan para pendaki untuk melapor dan melakukan regristrasi serta membayar retribusi.

Ghozaliq prau parkiran
parkirannya cukup luas dan terlindung dari panas

Basecamp memang tidak bisa menampung motor banyak, mungkin sekitar 50-70 motor saja di dalam aula yang saya tempati untuk berkemas kembali. Mobil sebenarnya bisa juga, setahu saya ada tempat untuk parkir 2 buah mobil dengan atap. Di samping basecamp ini juga terdapat pos kesehatan, sangat berguna bila Anda ingin memeriksa kondisi Anda baik sesudah atau sebelum pendakian jika ada sesuatu hal yang diluar keinginan Anda.

Segera beragam peralatan saya keluarkan dari kedua tas carrier kami, bertukar beban dan dimensi untuk mempermudah kegiatan pendakian bersama sang Istri.

Bila Anda bersama rombongan cukup banyak, maka dari basecamp menyediakan jasa guide gratis sampai ke puncak. Informasi ini saya dapatkan ketika saya mengobrol dengan salah satu pemuda yang berjaga di basecamp ini.

Ghozaliq Prau tiket Wates
harga retribusi dan parkir

Untuk kamar Mandi, Anda bisa menggunakan kamar Mandi bebayar atau yang gratis dengan jarak sekitar 50 meter dari basecamp ini. Warung makan sepertinya ada, namun saya hanya menemukan beberapa warung kecil saat melintas di pemukiman warga.

Peta dan peraturan dalam pendakian bisa Anda lihat dalam gambar di bawah ini. Penjabaran masing-masing titik akan saya jelaskan pada masing-masing point berikut.

Ghozaliq Prau Denah peta Wates
Jalur pendakian dan peraturan pendakian gunung Prau via wates

INGAT, DENAH ANTAR POS DAN LOKASI TIDAK MENGGUNAKAN SKALA YANG VALID, JADI PASTIKAN ANDA TETAP SEMANGAT MENAPAKI TIAP JENGKALNYA.

#basecamp – pos 1 (BLUMBANG KODOK)

Pukul 11.00 – 12.30 WIB

Bagi Anda yang merasa ingin menghemat waktu dan tenaga, Anda bisa menggunakan jasa ojek dari basecamp menuju pos 1 dengan biaya Rp. 15.000 per orang. Sangat direkomendasikan bagi Anda yang ingin mempersingkat waktu dan jarak tempuh. Namun biasanya Anda akan menjadi bahan bercanda oleh rekan-rekan Anda. Jadi ya sikapilah dengan bijak, toh kemampuan fisik dan mental manusia itu berbeda-beda.

Baca Juga :  Review dan Pengalaman Memakai Cozmeed Chumbu Step X60 Untuk Pendakian Gunung

Tenang saja, di area pemukiman warga ini ada banyak persimpangan, namun petunjuk arah menuju puncak sangatlah banyak, jadi janganlah takut tersesat saat Anda tidak bisa menemui orang untuk ditanya.

Baru sejenak meninggalkan area pemukiman warga, petugas basecamp mengejar kami di sebuah tanjakan kecil, berteriak sembari menunjukkan sebuah kunci motor. Setelah saya mengecek kembali, ternyata itu bukan kunci motor saya, melainkan milik rombongan yang naik tadi malam. Segera petugas tersebut memutar kembali motornya di jalan setapak yang sempit tersebut. Baik sekali kamu mas….  🙂

Saya tidak begitu bisa memperhitungkan jarak dari basecamp menuju pos 1, namun dengan gaya pendakian kami memakan waktu sekitar 90 menit termasuk istirahat dan foto-foto. Ketersediaan air di pos 1 ternyata kurang layak untuk dikonsumsi, entah saya yang tidak bisa menemukannya atau memang sedang kering. Hanya ada kolam-kolam kecil untuk menampung air untuk ladang warga.

Ghozaliq prau kebun
kiri kanan yang ada hanyalah kebun pertanian warga

Salah satu hal yang saya suka adalah ketika kita mulai melintasi perumaan warga hingga ladang warga, setiap kita berjalan dengan mudahnya sapaan kita dibalas atau kita yang disapa terlebih dahulu. Jujur, menurut saya ini sangat berbeda dengan “jalur sebelah”. Menyapa petani yang melintas ketika membawa hasil bumi atau ibu-ibu yang sedang memupuk tanaman sayuran mereka menjadi salah satu rutinitas wajib kami ketika melintasi jalur ini.

Ada kejadian lucu yang kami alami, ketika Istri saya sedang sejenak menepi untuk beristirahat sembari mempersilahkan sebuah motor yang akan menuju ke sebuah petak kebun, petani bermotor tersebut berhenti sejenak sejajar dengan kami. Kemudian terjadilah obrolan dalam bahasa jawa kromo yang sudah saya bahasa Indonesia kan seperti ini :

Petani : “Mau ke puncak mas?”

Saya : “Iya pak,,”

Petani : “Lho, bukan malam minggu kok muncak mas? Tumben?”

Saya : “ini kan malam minggu pak,,,”

Petani : (berfikir sejenak) “eh iya mas, saya kira ini malam sabtu, hehehe. Kalau ban motor saya gak gembes” (sembari melihat ke ban belakang), “saya bonceng sampai ke pos 1 mas,,”

Saya : “waah pak, terima kasih, lain kali saja, saya jalan kaki saja pak” (sembari tertawa)

Petani : “ya sudah mas, saya duluan,,”

Saya : “iya pak, hati-hati, terima kasih…”

Jadi kondisi seperti inilah yang saya rindukan ketika melakukan pendakian, hingga saya melintasi motor beliau di sebuah petak kebun namun beliau tidak terlihat, malah saya menjumpainya kembali saat kami turun keesokan harinya.

Saya bertemu dengan satu rombongan yang berjumlah tiga orang, mereka berangkat kemarin malam. Sepertinya mereka mengejar matahari terbit untuk kemudian turun saat matahari belum terlalu tinggi. Sapaan pelan sembari saya menanyakan apakah ada yang kehilangan kunci motor, karena petugas basecamp menemukan sebuah kunci motor yang tertinggal di parkiran basecamp. Segera mereka menyadari bahwa kunci motor dari salah satu dari mereka tertinggal saat masih berada di basecamp.

Ghozaliq prau kabut
ketika kabut mulai turun

Kabut mulai merubah situasi sekitar semakin dingin dan mistis, namun seksi. Jalan setapak masih dengan mudah terlihat, hingga sampailah di POS 1 yang merupakan batas antara hutan dan kebun warga.

Ghozaliq prau pos 1
POS 1 diambil saat perjalanan turun

Dominasi jalanan setapak yang berbatu serta sesekali tanjakan landai menjadi pemanasan yang cukup untuk menggapai POS 1. Trekking pole belum begitu diperlukan untuk perjalanan dari basecamp menuju POS 1.

#pos 1 (BLUMBANG KODOK) – pos 2 (CEMARAN)

Pukul 13.00 – 15.30 WIB

Jalur dari POS 1 menuju ke POS 2 merupakan jalur yang tertutup vegetasi cukup rapat, nyaman untuk berjalan siang hari. Dengan kondisi jalan yang menanjak namun tidak terlalu terjal, namun lebih miring dari landai. Saking rimbunnya, sampai Istri saya merasa seperti seorang Botani yang sedang melakukan ekspedisi.

Ghozaliq prau wates
POS 1 menuju POS 2, diambil saat perjalanan turun

Jalan setapak yang terkadang tertutup semak membuat kami harus berhati-hati agar tidak tersandung sesuatu. Treking pole telah kami bentangkan untuk menahan laju kami kami agar tidak terpeleset. Cuaca berubah menjadi mendung dan dingin, sesekali gerimis turun, namun reda. Hingga pada satu waktu kami harus membuat shelter darurat dari fly sheet untuk berteduh.

Berada di shelter darurat selama sekitar 60 menit membuat badan kami cukup merasakan dingin, akhirnya dengan keyakinan semakin tinggi suatu lokasi maka curah hujan akan semakin mereda, kami melanjutkan perjalanan dalam gerimis yang sudah cukup mereda dibandingkan 60 menit yang lalu.

Ghozaliq prau pos 2
POS 2, diambil saat perjalanan turun

Ternyata jarak tempat kami mendirikan shelter menuju POS 2 hanyalah sekitar 50 meter saja, namun di POS 2 tidak ada bangunan satupun, hanya tanah cukup terbuka yang dibersihkan dari semak dan belukar. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke POS 3 dengan alasan waktu yang semakin sore dan semakin dingin.

#pos 2 – pos 3 (SUDUNG DEWO)

Pukul 15.30  – 16.30 WIB

Ghozaliq prau cemara
POS 2 ke POS 3, diambil saat perjalanan turun

Sebenarnya bisa lebih cepat dari ini, hanya saja kondisi jalan yang licin membuat kami memendekkan langkah kami agar lebih aman. Treking pole sangat membantu dalam kondisi seperti ini, mengurangi beban pangkal kaki serta membuat tangan tidak bersliweran mencari pegangan.

Ghozaliq prau halang ilalang
POS 2 ke POS 3, diambil saat perjalanan turun

Menuju POS 3 mudah dikenali dengan perubahan vegetasi yang tadinya pohon pinus menjadi ilalang yang membuat Anda mudah melihat langit lepas. Katanya dari jalur POS 2 menuju POS 3 ini kita bisa melihat air terjun di sebelah kanan jalur, namun ternyata saya tidak bisa melihatnya, entah karena kabut atau memang jalannya tertutup sesuatu.

Sesampainya POS 3, kondisi fisik semakin lelah dan dingin, beberapa makanan seperti coklat dan biskuit kami keluarkan untuk menopang fisik kami. Tak begitu lama kami berada di POS 3 yang lapang dan teduh ini, mengejar waktu agar sampai di camp area sebelum petang.

#pos 3 – Tangga Cinta

Pukul 16.30 – 17.30 WIB

Ghozaliq prau pos 3
POS 3, diambil saat perjalanan turun

Entah mengapa dinamakan Tangga Cinta, rasanya rasis sekali untuk para jomblo. Mungkin karena jalanan setapak sejajar dengan igir dengan jurang di sebelah kanannya membuat kita perlu meneguhkan mental dan fisik untuk melahap tanjakan “nanggung”. Kenapa saya sebut “nanggung”? karena untuk lari tidak bisa, untuk berjalan rasanya terlalu landai untuk mendekatkan puncak.

Baca Juga :  Bukit Sikunir dan Bisiknya kepada para penjamah
Ghozaliq prau sepatu
Terima kasih telah melangkah bersamaku

Terlebih kondisi tubuh yang sudah kedinginan dan kelaparan, sesekali kami berhenti, membuka roti rasa coklat yang sengaja diletakkan di bagian yang mudah dijangkau.

“Oh puncak, kenapa terasa sejauh ini, apakah aku terlalu membandingkannya dengan jalur Patak Banteng?” Gumamku dalam kabut yang menutupi ujung Tangga Cinta tersebut.

Sempat bertanya dalam hati, “apakah itu camp area yang disebutkan? Apakah itu hanya puncak bayangan saja? Apakah masih ada tanjakan lagi seusai kabut itu?” Pokoknya tinggal jalan saja, karena ketika kami diam, tentu saja itu tidak membawa kami kemanapun kecuali ke dalam kedinginan dan kelaparan.

POS 3 tidak tersedia air, karena ada bekas longsor yang menutupi mata air tersebut. Jadi lebih baik bawalah air yang cukup untuk kegiatan pendakian Anda.

#tangga cinta – pelawangan

Pukul 17.30 – 18.00 WIB

Seusai melintasi Tangga Cinta, pemandangan di belakang kami cukup bersih, sehingga bisa melihat POS 3 dari titik ini, namun kabut masih menutup pandangan kami terhadap jalur selanjutnya. Segera kembali membuka denah tadi, sepertinya Pelawangan seusai bukit kecil yang tertutup kabut tersebut. Menapaki kembali tanjakan yang bisa dikatakan cukup licin untuk kondisi saat itu.

Ghozaliq prau tanjakan cinta
Tanjakan Cinta, diambil saat perjalanan turun

Sesampainya di ujung tanjakan, kami disambut oleh jalan datar namun diselimuti kabut yang membuat saya semakin buta arah. Kompas tidak bisa kami gunakan karena kami tidak tahu kami datang dari arah mana. Ternyata kami telah sampai di Pelawangan, sebuah hamparan sabana kecil yang tertutup kabut saat itu.

Ghozaliq prau bukit
Pelawangan seperti ini jika cerah, sehingga terlihat jelas ada di mana camp area tersebut. diambil saat perjalanan turun

#plawangan – camp area

Pukul 18.00 – 18.30 WIB

Pelawangan didominasi oleh sabana yang sesekali terlihat pohon cemara di ujung ruang pandang saat itu. Terbelah oleh jalan setapak yang cukup licin dan sempit, diapit oleh rerumputan yang membelai kaki Anda ketika melintasinya.

Ghozaliq prau pelawangan cerah
Pelawangan memang nyaman untuk bersantai dan tiduran, selain datar, juga anginya sepoi menenangkan. diambil saat perjalanan turun

Menyusuri jalan setapak yang licin dan sepi tersebut membuat badan terasa semakin dingin dan kelelahan. Hingga saat sebuah lubang kecil membuat saya terpeleset dan langsung “JEDEEEER”, kaki saya kram, segera Istri saya mendorong ujung telapak kaki untuk mengurangi rasa sakit tak tertahankan kala itu.

Tak berapa lama, segera counterpain saya oleskan di kedua kaki saya. Mengurangi rasa nyeri yang ngeri dan menghangatkan kaki yang telah dingin oleh sapuan butiran dingin.

Sedikit terseok akibat kram tadi membuat saya semakin hati-hati dalam melangkah dalam kabut tersebut. Jangan sampai saya salah ambil persimpangan hingga saya harus menempuh jarak yang lebih jauh.

Suara riuh terdengar dari beberapa arah, membuat saya bingung mau mengambil jalan yang mana saat ada persimpangan. Bismillah, saya mengambil jalan menanjak dengan harapan kami mendapatkan ruang pandang yang lebih luas. Sesampainya di puncak sebuah bukit kecil, terlihatlah beberapa lampu yang menembus kabut tebal saat itu.

Orientasi arah saya kacau karena kabut tersebut, memberanikan diri untuk mengambil jalan turun dengan harapan mendekati arah lampu tersebut. Ternyata benar, itu adalah camp area yang kami nantikan dalam kelelahan ini.

#malam hari

Bergerak secepat mungkin dalam kondisi tubuh yang dingin dan lelah ketika saya mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda eiger strom 1 yang sudah 3 tahun bersama saya. Segera mencari lokasi yang cukup berjarak dari tenda lainnya agar tidak terganggu dengan kegaduhan gunung pada malam minggu.

Saya tidak bisa melihat arah timur, karena memang kabut terasa sangat tebal. Prioritas saya hanyalah mendirikan tenda dan segera memasak agar Istri saya tidak kelaparan, hhehehe. Setelah semua telah bisa dikendalikan, saatnya masuk ke dalam sleeping bag. Menghangatkan diri dan berharap terlelap pulas hingga matahari terbit.

Ternyata, ada beberapa tenda yang memutar musik dengan pengeras suara portable, merusak suasana gunung yang sakral dan khusyuk. Polusi suara di gunung memang rasanya sudah di atas batas wajar, inikah gunung jaman milenia?

Ada beberapa orang melintas dan membuat suara yang membuat saya terbangun tengah malam saat masih di dalam tenda. Ada beberapa obrolan yang saya sangat ingat saat berada di dalam tenda ketika beberapa orang melintas di sekitar tenda saya.

Obrolan 1 : (terjadi saat kabut masih tebal di luar tenda kami)

A : “Waah, ini apa?” (mungkin sembari menunjuk tenda eiger strom 1 saya yang bentuknya jarang muncul di gunung)

B : “itu tenda,”

A : “ada orangnya gak ya?” (mungkin kalau tidak ada, mau ditempati dia)

B : “ya adalah, sudah jalan terus saja..”

Ghozaliq tenda malam
Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat jelas saat kabut telah menghilang.

Obrolan 2 (terjadi saat kabut sudah hilang di luar tenda kami)

Cewek :  “Waaaah, pemandangannya keren, kalau di sini terus aku mau, pokoknya aku gak mau pulang, mau di sini saja” (mungkin baru pernah naik gunung dan mendapati cuaca cerah)

Cowok 1 : “ya sudah terserah kamu, mau gak pulang ya gak papa,,”

Cowok 2 : “sudah, ayo cari tempat untuk mendirikan tenda saja,”

Saya jadi penasaran ingin melihat ke luar, apakah sudah cerah, karena saya berniat memotret milky way saat itu. Melongok sejenak ke luar tenda, memang kabut sudah menghilang, namun bulan bersinar terlalu terang, jadilah saya mengurungkan niat memotret milky way.
Cukuplah sejenak memotret pemandangan malam saat itu.

#matahari terbit

Mulai terdengar keributan para penggila matahari terbit, mungkin lebih tepatnya penggila baru matahari terbit dari ketinggian. Pengalaman pertama kali mungkin memang susah untuk menyembunyikan beragam ekspresi di tempat seperti itu.

Ghozaliq prau sunrise
Selamat pagi dari Gunung Prau

Saya melongok ke luar tenda, ternyata tenda saya terletak cukup terpisah dari tenda-tenda lainnya, dan berada di tepian jalan menurun. Pintu tenda tepat menghadap ke timur, sehingga Istri saya bisa melihatnya dari dalam tenda bersama dekapan sleeping bag.

Ghozaliq prau ramai
Ya sudah, duduk saja sembari ngopi dan menonton orang sibuk jepret-jeprat

Jepret ke sana ke sini sejenak dengan membawa tripot, kemudian mengacuhkan para pendaki kertas dan para pendaki tongsis yang bertebaran di area itu. Memanaskan air untuk membuat kopi panas merupakan tujuan hidup saya saat itu.

Ghozaliq prau pagi
Mumpung ada panas dan angin, mari jemur yang kemarin basah dan lembab.

Menikmati kopi panas saat Mentari bersinar, di sebuah ketinggian dan bersama Istri. Waktu, Lokasi dan Orang yang tepat, sempurnalah pagiku saat itu.

Ghozaliq prau tenda
View dari camp area yang sebenarnya. Rekomendasi, jangan buka tenda di sini, berisik 😀

Tak terlalu banyaklah kegiatan pagi itu selain menggoreng tempe dengan mentega dan menghabiskan roti coklat kemari. Segera mengeringkan peralatan yang lembab, menghangatkan diri dan menyisir sampah-sampah yang berada di sekitaran tenda.

Baca Juga :  Review Tenda Eiger Strom 1 Person.

#perjalanan pulang

Mungkin sekitar pukul 9 pagi kami sudah siap untuk turun, semua peralatan telah masuk rapi ke dalam tas carrier. Beban yang cukup berkurang dan badan yang telah hangat membuat rasa untuk turun gunung semakin siap. Banyak orang yang masih menikmati pemandangan yang cerah kala itu, memang sayang untuk dilewatkan.

Perjalanan pulang dalam kondisi cerah membuat saya harus mengingat kembali jalan mana yang kami lalui kemarin saat kabut tebal mendampingi kami. Alhamdulillah, dengan ingatan dan melihat arah mata angin, kami bisa menemukan jalur tersebut.

Ghozaliq prau couple
Ternyata, saya lebay, wkawkawk 😀

Menuruni bukit sembari berfoto-foto sejenak, bahkan saya baru ingat bahwa buku nikah kami terbawa sampai ke tempat tersebut. Jadilah kami memasuki ranah lebay, memotret buku nikah kami dengan latar belakang yang memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya.

Ghozaliq prau jalur wates
Mari turun, selagi cuaca cerah dan perut sudah kenyang.

Waktu turun bisa dikatakan sangatlah cepat, selain kondisi fisik dan mental yang membaik, kondisi cuaca yang cerah juga membuat kami semakin mudah melihat kondisi jalan. Jalanan yang masih cukup lembab karena guyuran hujan kemarin sore membuat kami harus berhati-hati melangkah.

Ghozaliq prau pelawangan
Walaupun terlihat panas, namun tanah masih basah dan licin.

Dalam kondisi ini, saya sangat merekomendasikan kembali untuk menggunakan trekking pole.

Ghozaliq prau menuju pos 3
Menuruni Tanjakan Cinta menuju POS 3

Sesampainya di POS 3, kami beristirahat sejenak, berteduh dalam sejuknya udara di bawah pohon pinus serta menghabiskan cemilan yang ada di dalam tas. Ketika kami mulai berjalan dari POS 3 yang dimana area terbuka, terdengar sahutan dari arah Tangga Cinta, segera kami menoleh, memberikan balasan kepada rombongan tersebut.

Mungkin mereka sangat antusias karena bertemu pendaki lain di jalur ini, karena saya saja total hanya berpapasan 1 rombongan saja saat naik kemarin siang, kemudian bertemu 1 rombongan yang ada di belakang kami tersebut. Jadi total kami hanya bersua dengan 2 rombongan dalam perjalanan naik turun.

Dengan memulai perjalanan turun pukul 09.00 dari puncak, kami bisa sampai POS 1 pada pukul 11.00 WIB. Perjalanan tersebut juga kami isi dengan istirahat sejenak dan foto-foto sepanjang perjalanan. Mungkin akan lebih cepat bila kita melihat waktu efektifnya.

Ghozaliq prau pemandangan pos 1
Plang yang berada di POS 1

Di POS 1, kami beristirahat sejenak, menatap kebun warga sembari mengeringkan keringat yang menempel di baju kami. Sekitar 15 menit, rombongan yang tadi menyapa kami dari kejauhan telah sampai di POS 1. Rombongan tersebut terdiri dari 4 orang lelaki yang bisa dikatakan berumur 20an tahun, dengan suluruhnya membawa tas carrier seingat saya.

Terlihat dari sepatu mereka yang penuh bekas tanah di bagian atas, menandakan mereka sempat terpeleset melintasi jalan yang masih cukup basah tadi. Jabat tangan dengan kami membuka pintu obrolan di antara kami, sebuah kejadian yang sudah cukup langka di dunia pendakian saat ini.

Perasaan waktu tempuh naik yang rasanya terlalu lama ternyata tidak hanya dirasakan oleh kami, rombongan terebut juga merasakannya. Selain terkena hujan juga, mereka juga mengaku terlalu berharap seperti melintasi jalur Patak Banteng. Sehingga membuat harapan pendakian semakin jauh dari kenyataan. Ternyata kita sama mas 😀

Segera kami pamit, melanjutkan kembali tujuan ke Basecamp sebelum cuaca berganti. Waktu tempuh dari POS 1 menuju Basecamp mungkin hanya sekitar 30-45 menit, cukup nyaman untuk bisa berjalan cepat dan anti licin. Kondisi juga tetap sama, kembali menyapa dan disapa sepanjang perjalanan dengan warga sekitar.

Sesampainya di Basecamp, meluruskan badan sejenak, menata isi tas carrier kembali, dan berpamitan dengan penjaga Basecamp. Meluncur ke arah Ngadirejo dengan harapan melahap nasi padang yang pedas disanding dengan es teh. 😀

#rangkuman estimasi waktu

Rangkuman berikut ini bisa Anda jadikan patokan ketika cuaca cerah dan kondisi tim yang optimal dengan fisik yang rata-rata.

Perjalanan naik :

  1. Basecamp – POS 1 : 90 menit.
  2. POS 1 – POS 2 : 60 menit.
  3. POS 2 – POS 3 : 60 menit.
  4. POS 3 – Tanjakan Cinta : 45 menit.
  5. Tanjakan Cinta – Pelawangan : 30 menit.
  6. Pelawangan – Camp Area : 15 menit.
  7. Camp Area – Puncak Tertinggi : 10 menit.
  8. Camp Area – Tower : 30-45 menit.

Estimasi waktu ini saya perkirakan untuk pendaki pemula yang cukup olahraga. 😀 Setahu saya, biasanya bisa lebih singkat dari estimasi waktu saya tersebut.

Perjalanan turun

  1. Camp Area – Pelawangan – Tanjakan Cinta – POS 3 : 30 Menit
  2. POS 3 – POS 2 : 30 Menit
  3. POS 2 – POS 1 : 30 menit
  4. POS 1 – Basecamp : 30 Menit

Biasanya, bagi mereka yang jarang berolahraga, jarak POS 1 ke basecamp adalah jarak paling kejam. Selain kondisi jalan yang cukup keras, kondisi kaki yang telah terkuras sedari puncak, ditambah juga panjang rute yang setara POS 1 hingga Tanjakan Cinta, terlebih Anda sibuk mencari-cari alasan atas kelelahan fisik Anda ketika Anda diledek oleh rekan Anda untuk mempercepat langkah Anda. Lengkaplah sudah penderitaan sepanjang POS 1 menuju Basecamp.

Kondisi ini juga sering terjadi di semua gunung dan biasanya saat akhir pekan semakin banyak yang memasang wajah frustasi dari POS 1 menuju Basecamp. Tidak percaya? Silahkan Anda jalan-jalan saja saat hari minggu siang hingga sore ke tempat-tempat seperti itu 😀

Ghozaliq prau pohon
“LINGDUNGI AKU” tapi kok nempelnya pakai paku? gagal paham

#perlengkapan tambahan yang wajib dibawa

Selain perlengkapan (minimal) wajib untuk pendakian, saya merekomendasikan beberapa alat berikut :

  1. Trekking pole, sangat membantu baik naik ataupun turun, terlebih saat jalan licin
  2. Fly sheet, untuk membuat shelter darurat saat hujan datang tiba-tiba, karena daerah ini merupakan daerah bayangan hujan.
  3. Kompas analog, berada di bukit teletubis membuat Anda harus bisa tahu arah mata angin agar Anda tidak salah naik turun bukit.
  4. Senter yang super terang, untuk memastikan saat pendakian malam tidak ada babi yang berada di jalur pendakian Anda.
  5. Tripod, karena lebih keren ketimbang tongsis, ahahah

JANGAN LUPA UNTUK TETAP MENJAGA KEBERSIHAN DAN KESOPANAN SEBELUM HINGGA SESUDAH PENDAKIAN YA…. SETELAH PENDAKIAN YA TETAPLAH SEPERTI ITU UNTUK BUMI LESTARI.

BILA ADA YANG PERLU DITANYAKAN, SILAHKAN DI KOLOM KOMENTAR.

SALAM LESTARI

 

17 COMMENTS

  1. Pertama, saya ucapkan terima kasih atas tulisan yg mas dedikasikan utk saya dan istri saya. Saya jd terharu, mas. Hiks hiks.
    Kedua, Sabtu dpn tgl 20 Agustus 2016 istri saya mengajak utk ke gunung Prau. Adakah gerangan mas goz dan istri memiliki kekurangan waktu utk ikut serta bersama kami?
    Yang ketiga, saya meminta maaf krn belum sempat membaca secara detail seluruh tulisa n berkenaan dg jaringan yg sering hilang tiba-tiba di rumah kontrakan.
    Yang keempat, perkenankan saya utk bertanya, sudah cukup panjangkah komentar ini?
    Piye mas? Hahaha

  2. akhire muncak Prau…kapan” kalo mau mendaki gunung daerah Jawa Tengah bisa bareng mas…kumpul” blogger ngadain acara naik kemana gt kayake asik…November saya ada rencana ke sumbing nie mas…

    • iya mas, penasaran sama jalur ini 😀

      november gak rekomendasi mas naik sumbing, pengalaman 3 tahun lalu keteteran kena badai,
      sumbing nyaman saat april/mei mas, cuaca gak begitu panas tapi air masih mengalir,, 😀

      kalo kumpul” blogger, mending kemping ceria aja mas… sharing sama gegoleran di alam 😀

  3. waduwhh….tmn” ngajake bulan itu…pas di sindoro lihat puncak sumbing kog masih lebih tinggi lagi, jadi pengen kesana. Kalo camping ceria di Gunung Api Purba Yogyakarta lebih recomended mas, tempate asik, banyak gazebonya.

    • Mending cari waktu lain mas kalau ke sumbing, pengalaman via utara atau selatan sama saja kalau pas musim hujan.

      Ahahaha, berkali kali ke sana gak ada keinginan camping di sana malah mas, gak tau kenapa, kayak “feel” nya gak dapet gitu kalau camping,

      Coba Mas’nya ikuti Landscapeindonesia.com saya sering kumpul2 sama mereka, biasanya tiap bulan ada acara kemping ceria di sekitaran jogja biasanya….

Leave a Reply