Mengikuti Upacara 17 Agustus di Gunung Sibayak, Sumatera Utara

Awan mendung menyelimuti brastagi ketika saya turun dari angkutan umum yang berangkat dari kabanjahe (Ibu Kota Kabupaten Karo, Sumatera Utara). Sesampainya di brastagi, saya mencari losmen (yang murah aja lah) untuk bersitirahat dan mengisi ulang baterai hape dan kamera.

Hawa dingin yang menjadi ciri khas Brastagi menjadikan saya lebih sering berada di dalam kamar untuk menghindari hembusan angin dingin kala itu. Setelah makan malam, saya mempersiapkan segala keperluan untuk melakukan perjalanan ke Gunung Sibayak esok hari. Alhasil carier yang telah tertata beserta isinya menjadi teman bisu untuk melewati keheningan malam.

Terbangun pukul 5 pagi, kala mentari masih belum menampakkan sayap sinarnya saya sudah bergerak menuju ke tempat pemberhentian angkutan umum untuk menuju simpang Doulu. Bersaha bergerak cepat agar tak tertinggal kegiatan Upacara Bendera memperingati Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Rebuplik Indonesia.

Sesampainya di Simpang Doulu, saya menerima tawaran oleh seorang tukang ojek untuk megantarkan saya ke pertigaan PLTPB (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi )yang berada di kaki Gunung Sibayak. Tak berapa lama sampailah saya di PLTPB, baru berjalan beberapa langkah menapaki jalanan aspal yang memanjang, sebuah mobil bak terbuka milik seorang warga menghampiri saya untuk menawarkan tumpangan gratis menuju pertigaan yang merupakan pertemuan dari jalur Brastagi dan jalur dari Simpang Doulu.

Segera tanpa lama, saya menaiki angkutan tersebut tepat di sudut belakang mobil bak terbuka tersebut di temani oleh seekor anjing peliharaan yang telah terikat pada sebuah rantai. (Untung diikat, kalau gak saya mending milih gak naik deh :D, takut dengan hewan yang satu ini, heheh)

Pertigaan jalur sibayak dan jalur simpang doulu, Gunung Sibayak

Setelah diturunkan di pertigaan antara jalur Brastagi dan jalur Simpang Doulu tersebut, kemudian saya mengucapkan terima kasih yang dibalas jawaban ramah dan senyuman yang ikhlas oleh sang supir tersebut :D).

Sejenak merasakan teh hangat, Gunung Sibayak

ternyata ada beberapa tenda yang ada di sekitar pertigaan tersebut yang bermalam karena cuaca pada malam hari yang tidak mendukung untuk segera menuju ke area puncak Gunung Sibayak. Setelah sekedar duduk mengobrol dan merasakan teh hangat, segera saya melanjutkan perjalanan menapaki jalan aspal yang terasa tidak nyaman sekali di pergelangan kaki.

Baca Juga :  Carrier ukuran besar? Kekurangan dan Kelebihannya Dalam Pendakian
Jalan yang terlewati, Gunung Sibayak
Hampir sampai, Gunung Sibayak

Ada salah satu titik di jalan aspal tersebut yang tertimbun oleh longsoran beberapa waktu lalu, dan terlihat beberapa kendaraan terparkir di sudut tikungan kecil tersebut. Sekitar 45 menit berjalan menapaki jalan minyak hitam tersebut, saya mendapati tanah lapang yang ternyata sudah banyak tertata tenda beraneka warna beserta penghuninya. “Ternyata banyak juga yang ingin ikut meramaikan kegiatan yang sarat dengan nilai Nasionalisme ini rupanya” gumam saya dalam hati.

Kumpulan tenda, Gunung Sibayak

Segera memasuki jalanan diantara semak yang didomnasi oleh tanah berkapur, tak berapa lama setelah pintu rimba tersebut, saya dihadapkan pada potogan tangga dari beton yang beberapa telah terkoyak oleh cuaca.

Tangga beton, Gunung Sibayak

Berjalan di atas tangga beton tersebut ternyata terasa tidak nyaman karena serasa langkah kaki kita telah diatur.

Gunung Sinabung dari Gunung Sibayak
Dari sana ku melangkah, Gunung Sibayak

Tidak sampai satu jam, saya telah sampai di area Puncak Gunung Sibayak tersebut yang ditandai dengan pagar batu yang menjulang tinggi di hadapan saya. Aroma belerang yang menusuk juga disertai oleh keluarnya asap dari beberapa lubang yang terdapat di salah satu sudut Gunung Sibayak. Raungan belerang yang terdengar di telinga semakin menambah khas daerah tersebut.

Kepulan belerang, Gunung Sibayak
Narsis dulu ah, Gunung Sibayak

Terlihat beberapa panitia sedang melakukan gladi bersih untuk melakukan kegiatan Upacara Hari Kemerdekaan Rebuplik Indonesia. Saya segera bergerak menuju salah satu puncak dari ketiga puncak yang ada di Gunung Sibayak.

Pagar alam, Gunung Sibayak
Pagar Alam, Gunung Sibayak

Ada bule, Gunung Sibayak

Sejenak duduk menatap keindahan alam sekitar, sembari berkenalan dengan beberapa pendaki lain. Salah satu pendaki yang saya temui di sana ada Bang Esa Pratama dan seorang temannya yang (kebetulan) saya lupa namanya, sebuah orbolan ringan perkenalan diri membawa saya untuk ingin berfoto dengannya. Dengan latar belakang Gunung Sinabung yang juga masih terlihat kepulan aktivitas kawahnya, saya bertiga berfoto sembari berpose dengan gaya masing-masing. Ternyata tanpa disadari, bendera yang terpegang oleh teman Bang Esa Pratama tersebut terbalik, dan itu baru disadari setelah saya sampai di losmen.

Bersama Bang Esa Pratama, Gunung Sibayak

HADDDUUUUHH, ya sudahlah, ini juga karena bukan faktor kesengajaan, kan gak mungkin saya kembali ke tempat tersebut dan berfoto lagi T_T. setelah meminta alamat email dan jejaring sosial Bang Esa Pratama, tak lama kemudian saya berpamitan kepada Bang Esa Pratama untuk segera menuju puncak yang lainnya.

Baca Juga :  Sabang, Titik awal dimana keindahan Indonesia dimulai (part 1 of 2)

Baru berjalan beberapa langkah berjalan, kemudian saya bertemu pendaki lain, yaitu Bang Soni, Bang Jimi, Bang Wahyu dan juga Bang Gomeng. Obrolan ringan yang bermulai dari perkenalan diri beserta asal muasal di mulai.

Sebuah kisah, Gunung Sibayak

Tak lupa juga berfoto bersama dengan latar belakang kawah Gunung Sibayak yang masih terlihat bersih dari kabut kala itu.

Kisah yang berlanjut, Gunung Sibayak

Tak lupa juga kami saling bertukar kontak agar perkenalan ini tidak sia-sia. Sampai detik ini pun hubungan saya dengan mereka masih terjalin walau hanya lewat jejaring sosial, apa daya karena kini jarak yang teramat jauh memisahkan (Sumatera Utara – Jawa Tengah). Kemudian saya berpamitan untuk melanjutkan aktivitas menuju puncak yang sempat tertunda tadi.

dalam sebuah keceriaan, Gunung Sibayak

Ketika saya hendak melanjutkan perjalanan ke puncak yang tadi sempat tertunda, ternyata Upacara Hari Kemerdekaan Rebublik Indonesia akan segera di mulai. Segera saya turun kembali untuk mengikuti kegiatan tersebut. Terlihat semua panitia telah siap, kemudian para peserta Upacara diinstruksikan untuk segera membentuk barisan di depan tiang yang akan mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Persiapan upacara, Gunung Sibayak
Segera dimulai, Gunung Sibayak
Dikibarkan, Gunung Sibayak
kerumunan, Gunung Sibayak
Berkibar dalam kabut, Gunung Sibayak

Kegiatan yang berlangsung sederhana namun sarat nasionalisme tersebut akhirnya selesai setelah Sang Saka Merah Putih berkibar dihembus oleh angin di Gunung Sibayak.

Segera saya menuju ke sebuah sudut untuk sekedar melepas lelah sembari kecewa melihat dua puncak lainnya yang belum sempat terdatangi namun telah tertutup kabut pekat.

Tertutup kabut, Gunung Sibayak

Selagi duduk memandangi daerah sekitar beserta kegiatan masing-masing pendaki, Bang Soni, Bang Jimi, Bang Wahyu dan Bang Gomeng datang kembali menghampiri saya dari belakang. Sejenak saling berbagi bekal disertai obrolan ringan, kami menikmati pekatnya kabut di Gunung Sibayak. Masih teringat jelas ketika Bang Gomeng dibangunakn dari tidurnya di atas sebuah batu ketika akan di ajak oleh yang lainnya untuk mendekat ke tempat Sang Saka Merah Putih Berkibar :D). Segera mereka berjalan menuju tempat tujuan, dan menunjukkan rasa hormat mereka kepada Sang Merah Putih.

Baca Juga :  [Ebook] perjalanan ke nglimut bersama BroNgkos
Hormat Grak, Gunung Sibayak

Karena cuaca yang diselimuti kabut kemudian disusul oleh rintik hujan, saya segera memakai kostum anti hujan yang telah saya persiapkan di dalam ta carier. Berjalan di antara para pendaki lain yang juga sudah mengenakan mantel, saya bergerak pelan sembari sesekali menyeka air yang membasahi wajah saya kala itu. Menapaki jalan tangga yang seakan menjadi saksi kedatangan dan kepulangan saya dari Gunung Sibayak.

Sampai di jalan aspal kembali, ternyata saya dapat berkumpul lagi dengan rombongan Bang Soni, Bang Wahyu, Bang Jimi dan Bang Gomeng. Segera berjalan turun menapaki aspal bersama-sama dalam kucuran hujan yang disertai dengan canda tawa, seakan menghangatkan suasana yang dingin tersebut. Mulai dari saling bercipratan air di jalan, hingga saling mengejek barang bawaan masing-masing yang memiliki bentuk yang menyerupai beberapa benda. Sebuah kejadian yang sepertinya akan perlu waktu lama sekali untuk bisa terulang.

Tak terasa perjalanan telah sampai di pertigaan tempat tadi saya turun dari mobil bak terbuka milik seorang warga sekitar. Ternyata sudah ada angkutan umum yang menanti rezeki dengan menunggu para pendaki yang hendak menuju brastagi. Setelah mengumpulkan para penumpang, segera angkutan umum tersebut berjalan menyusuri aspal kecil di tengah rimbunnya pepopohan menuju Brastagi. Di dalam angkutan tersebut beberapa dari mereka tertidur karena merasa kelelahan karena pendakian ini. Tak berapa lama, kami telah sampai di Brastagi yang terlihat mendung kala itu. Segera saya berpamitan untuk segera menuju losmen, sebuah jabat tangan mengakhiri pertualangan hari itu.

Di titik itulah terakhir saya berjumpa dengan mereka, mereka yang saya temui di tengah kabut dan dalam dinginya hujan. Walau kini jarak memisahkan, namun semua masih akan tetap sehangat ketika hujan membasahi kami kala turun dari Gunung Sibayak. Terbesit dalam hati untuk mengunjungi mereka lagi dikemudian hari suatu saat nanti apabila ada waktu dan rezeki. 😀

Saya tunggu kalian di tanah kelahiranku !!! hehehe 😀

memoriku, Gunung Sibayak

3 COMMENTS

Leave a Reply