Gunung Kemiri (3315 mdpl), mencicipi pesona Taman Nasional Gunung Leuser

31
26
views

Gunung kemiri (10)

Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu dari 3 Taman Nasional yang ada di Pulau Sumatera setelah Kerinci dan Bukit Barisan Selatan. Disebutkan juga Taman Nasional Gunung Leuser ini sebagai paru-paru dunia :D. Keanekaragaman flora dan fauna dapat ditemui dalam kawasan TNGL ini. Dalam edisi kali ini, kami mencoba menapaki puncak Gunung Kemiri (3315 mdpl) yang berada di dalam TNGL.  Panjang track Gunung Kemiri hanya 1/3 dari panjang track menuju ke titik tertinggi Gunung Leuser (3404 mdpl). Sebuah perjuangan panjang untuk menikmati alam dengan segala keaslian dan keindahannya.

Merasakan hembusan angin di atas kap angkutan L300 yang mengantarkan kami melewati gapura “SELAMAT DATANG DI TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER” membuat semakin bersihnya udara pagi kala itu. Tak terasa setelah 90 menit perjalanan telah mengantarkan kami menuju titik 0 pendakian di Desa Gumpang, Kec. Putri Betung, Kab. Gayo Lues. Seorang kawan yang berprofesi sebagai Polisi Hutan telah menunggu untuk mengantarkan kami menuju kediaman guide yang siap membawa kami berpetualang menembus rimba TNGL. Segala persiapan segera kami selesaikan, mulai dari perijinan ke pihak terkait sampai belanja untuk perbekalan selama 5 hari ke depan. Menikmati santap siang berupa mi rebus dan secangkir the, diselingi beberapa wejangan dari guide yang akan mengantarkan kami.

Gunung kemiri (45)

Gunung kemiri (1)

Kami berlima memulai perjalanan didampingi oleh 1 guide dan 1 polisi hutan. Perjalanan dimulai saat terik mentari tepat berada di ubun kepala. Beban carier yang berat ditambah langkah sempoyongan membuat jembatan gantung yang melintang di atas sungai alas seakan menari mengikuti keceriaan kami. Perjalanan selama 4 jam mengantarkan kami menuju pos pertama yang telah masuk jauh ke dalam rimba. Guide memutuskan untuk membuka tenda di pos pertama ini, perjalanan malam dinilai sangat beresiko dalam setiap pendakian gunung, terlebih gunung di TNGL ini. Banyak faktor yang membuat perjalanan malam harus dihindari, selain peluang nyasar juga ada peluang bertemu hewan-hewan yang kurang ramah terhadap manusia. Semua resiko tersebut bisa diminimalisir bila melakukan perjalanan pada siang hari. Malam bertabur bintang terlihat dari sela-sela rimbunnya dedaunan diatas tenda kami.

Gunung kemiri

Pagi hari usai mengisi tenaga dan jerigen air, kami mulai bergerak menuju pos kedua yang beda di ketinggian 2851 mdpl. Track yang menjulang dan panjang tersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan, entah berapa kali harus terhenti untuk sekedar menengadah ke atas dan meneguk pelepas dahaga.

Gunung kemiri (2)

Gunung kemiri (3)

Pemandangan sekitar berubah oleh hutan lumut yang masih enggan memberikan langit biru kepada mata kami, enggan memberikan pijakan padat kepada langkah kami dan enggan memberikan angin semilir untuk kulit kami. Target yang semula pos kedua tak dapat tercapai karena cahaya senja telah terlihat menembus dedanuan. Segera tenda dan peralatan masak tumpah ruah dari dalam carrier, berbagai gelak tawa membahas cerita tanjakan perjuangan mulai menemani api unggun yang telah membagi kehangatannya.

Baca Juga :  Review dan Pengalaman Memakai Cozmeed Chumbu Step X60 Untuk Pendakian Gunung

Gunung kemiri (4)

Gunung kemiri (6)

Hari ketiga dengan beban carier yang telah berkurang (sedikit), langkah kecil dimulai menuju pos kedua yang sempat tertunda oleh gelap malam. Hutan lumut terganti secara perlahan oleh hutan perdu, mulai terlihat beberapa kamera pengintai yang sengaja terpasang untuk menangkap berbagai aktivitas hewan di kawasan tersebut. Tanaman kantong semar terlihat sepanjang perjalanan kami, seakan memberi tanda bahwa pos kedua semakin dekat. Tak terasa setelah 2 jam kami menghabiskan waktu dengan menapaki jejak guide, sampailah di pos kedua yang berada di ketinggian 2851 mdpl. Langit biru yang kami rindukan selama 3 hari ini akhirnya terlihat biru dengan awan halus di kejauhan. Selang 15 menit setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pos ketiga yang tak terlihat dari pos kedua karena berada dibalik bukit.

Gunung kemiri (7)

Perjalan dari pos kedua menuju pos ketiga sangat bervariasi, dimana kami harus menuruni tebing hingga sampai pada sungai kecil dengan air es cair, bertemu kembali dengan hutan lumut yang telah memberikan akarnya sebagai pijakan langkah kami. Hutan perdu kembali terlihat sebagai pertanda hutan lumut telah terlewati, namun hanya berselang sebentar, hutan lumut kembali berada di depan kami dengan lorong-lorong yang membuat kami harus mencoba berbagai posisi untuk melaluinya. Tengah hari kami telah mampu keluar menembus rimbunya tanaman perdu yang mengantarkan kami menuju kawasan sabana dengan puluhan gundukan mungil dengan berbagai ketinggian.

Gunung kemiri (8)

Mengamati sekitar didalam kesunyian hutan, guide segera berjalan membuka jalur untuk kami lalui tanpa lupa untuk membuat tanda agar saat memudahkan saat perjalana pulang nanti. Setiap kali berada di puncak gundukan kecil selalu merasa bimbang untuk mengambil jalur pendakian, antara menyusuri sabana rendah dengan peluang melenceng jauh atau menapaki gundukan naik turun berjibaku dengan semak penghalang. Berjalan di sabana terasa begitu berat, tas carier yang masih bertengger di badan membuat setiap pijakan seakan menekan tanah gambut semakin padat dalam setiap langkah kami.

Gunung kemiri (11)

Tak terasa pos ketiga telah tertapaki, namun guide mengajak untuk bergerak terus dengan tujuan membuat tenda dengan posisi terdekat dengan puncak Gunung Kemiri. Ditengah langkah gontai kami, seekor rusa yang tengah santai meneguk air mengagetkan kami. Disusul elang hitam yang terbang rendah mendekat bayangan melayang didekat kami beristirahat. Tak selang berapa lama guide menemukan lokasi untuk membuat tenda, tanah yang cukup lapang dengan beberapa semak sebagai pelindung angin.

Gunung kemiri (13)Pada ketinggian sekitar 3100 mdpl, kami diberi hadiah tambahan berupa pelangi tipis di atas gumpalan awan yang terpendar cahaya senja. Sungguh indah dan damainya pemandangan di senja itu, dipeluk erat oleh dingin yang menusuk tulang seakan membuat kami untuk bergegas mengumpulkan kayu bakar. Besarnya api hanya mampu menghangatkan sementara, ketika beranjak menjauh dari jilatannya maka udara dingin telah menanti untuk kita dekap. Cahaya senja telihat hangat, namun sama sekali tak berpengaruh terhadap angin dingin yang menyapa kami tiada hentinya.

Baca Juga :  [Ebook] Perjalanan ke Nglimut (bekas) mahasiswa geo06rafi UNNES

Gunung kemiri (14)

Gunung kemiri (16)

Gunung kemiri (18)

Gunung kemiri (20)

Malam hari hanya kami lewati dengan makan malam dan menyiapkan tombak untuk berjaga-jaga apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Bintang yang bertaburan di gelapnya langit saat itu belum bisa membangkitkan kemauan untuk mampu berdiri menantang dinginya malam itu diluar rumah sementara kami. Benar-benar dingin yang baru pernah kami rasakan sepanjang hidup kami, berlapis pakaian belum mampu memisahkan tubuh kami dari belaian udara pada saat itu.

Gunung kemiri (22)

Hari keempat dimulai dengan membuka resleting tenda, menoleh ke arah datangnya cahaya saat itu. Lautan awan telah siap untuk diarungi di depan mata, segera kutinggalkan sleeping bag di dalam tenda lalu kuraih kamera untuk menangkap gelombang awan yang saat itu berada di depan mata.

Gunung kemiri (24)

Gunung kemiri (26)

Gunung kemiri (29)

Dinginnya udara pagi itu seakan mengalahkan semangat ini untuk mengabadikan lekuk paras awan saat itu. Usai puas mengabadikan lautan awan tersebut, segera saatnya mengisi tenaga dan bersiap menuju puncak yang terlihat di depan mata. Makanan ringan dan air minum 2 botol menemani perjalanan kami menuju puncak Gunung Kemiri, sekitar 1 jam kami baru berhasil berdiri di atas campuran semen dan pasir yang telah terkoyak sebagai penanda puncak tertinggi di gunung kemiri.

Gunung kemiri (31)

Perjuangan selama 4 hari telah sampai pada saat yang ditunggu, berbagai pose dilakukan pada ketinggian 3315 mdpl tersebut. Sejenak memandang ke seluruh penjuru, semua terlihat hijau dengan awan putih terpayungi birunya langit, pesona TNGL yang benar-benar tidak ada duanya.

Gunung kemiri (34)

Gunung kemiri (36)

Gunung kemiri (44)

Gunung kemiri (43)

Terlihat jauh di arah barat, Puncak Leuser dan Puncak Looser menjulang tinggi seakan melambai untuk mengundang kami berkunjung dan singgah disana. Perjuangan menapaki puncak Gunung Kemiri selama 4 hari membuat kami harus lebih dalam segala persiapan menuju puncak leuser dan puncak looser tersebut yang memakan waktu sekitar 14 hari untuk naik turun.

Gunung kemiri (40)

Setelah merasa (cukup) puas berada di puncak gunung kemiri, saatnya kembali ke tenda untuk segera berkemas menuju pos ke dua. Sebuah pengalaman pertama bagi kami semua, saat sibuk menata perbekalan yang berserakan, kami dikejutkan dengan getaran tektonik selama 1 menit yang makin terasa di area tanah gambut tersebut. “waaah….gunungnya mau meletus ini….!!!” Celetuk salah seorang kawan, kami semua pucat pasi mendengar candaan yang terasa mengerikan tersebut.

Dengan langkah bahagia karena beban carier sudah berkurang banyak, perjalanan menuju pos kedua dimulai. Namun kabut mulai menutup  pandangan kami yang seakan membuat kami berada di dalam awan, semua terlihat putih dan semakin membuat kejelian membaca jalan diuji. Walau sempat mencicipi cerita nyasar naik turun tebing selama 90 menit hingga saling taring menarik agar mampu melewati jurang, akhirnya kami menemukan kembali jalan menuju pos kedua. Senja hampir hilang saat kami mulai mencapai pos kedua, beruntung tenda telah kokoh berdiri saat malam mulai menyelimuti suasana saat itu. Esok pagi perjalanan turun dimulai, beban carier mulai terasa saat menuruni jalan yang sempat membuat kita ngos-ngosan saat naik, letih terasa di persendian lutut dan nyeri di bagian pundak seakan tidak menjadi halangan kami untuk kembali ke titik awal pemberangkatan.

Baca Juga :  [Video] pendakian Gunung Kemiri 3315 mdpl (Kawasan TN Gunung Leuser) 4/4

Perjalanan turun lebih cepat saat naik, karena beban yang sudah berkurang juga medan yang tinggal mengikuti gravitasi. Seekor orang hutan yang bergelantungan bebas di pohon meranti menarik perhatian kami yang harus sedikit waspada oleh dahan pohon yang dipatahkan lalu dihempaskan oleh orang hutan jantan tersebut yang sepertinya sedang “galau”.

Gunung kemiri (42)Terus menuruni jalan membelah hutan, melompati robohan kayu lapuk dan menghindari duri rotan yang sejajar dengan kepala seakan menjadi tantangan yang harus kami lewati sekali lagi agar sampai di titik pemberangkatan. Tak terasa mulai memasuki kawasan perkebunan yang menandakan bahwa tinggal sedikit lagi kami harus menopang carier ini. Langkah gontai mewarnai setiap langkah yang kami ambil, langkah demi langkah akhirnya mengantarkan kami menuju rumah guide yang menggendong “carier goni” selama perjalanan 5 hari ini.

Pesona TNGL yang benar-benar membuat kami makin bersyukur akan semua yang diberikan oleh-Nya kepada kami. Kelestarian alam yang harus kita jaga untuk menjaga masa depan kita dan anak cucu kita di kehidupan selanjutnya. Berbagai macam flora dan fauna ternyata menjadi daya tarik tersendiri dalam pendakian dalam kawasan TNGL ini. Titik 0 pendakian yang semakin jauh dari puncak membuat semakin asrinya perjalanan penuh perjuangan yang akan terlewati nanti.

Terimakasih kepada Aziz, Heru, Saefur dan Yogo  yang rela melangkahkan kaki bersama, Bang Wahyudi sebagai Polisi Hutan yang telah memperkenalkan setiap lekuk TNGL kepada kami, serta Aman Firman sebagai guide yang telah mengantarkan kami menuju puncak gunung kemiri dan kembali ke titik pemberangkatan dengan selamat.

“Marilah menjaga hutan, marilah menjaga nasib kita kelak”

Salam landscaper Indonesia 😀

 

Galeri

Salam Landscaper 😀

Agar dapat lebih meresapi perjalanan kami ini, hehehe

telah saya buat ebooknya,, bisa anda dapatkan gratis di bawah sini

Free [Ebook] Gunung Kemiri 3315 mdpl

check the trip playslit on youtube

31 COMMENTS

  1. Hi salam kenal…. Very interesting trip, dan berniat juga ingin kesana. Kalau boleh minta no kontak guide nya? Terimakasih sebelumnya 🙂

    • Kalo dari bekasi terbang aja ke medan. Dari bandara di medan ke pangkalan l300 paling gak nyampe 10rb kalo naik angkot. kalo naik l300 ke gayo lues (blangkejeren) sekitar 100rb-130rb, itu estimasi transport ke sana bang. Biaya guide juga belom termasuk ya, kalo abang minat, saya ada rekan polisi hutan di sana yang bisa bantu

  2. Salam kenal Mr. Ghozaliq
    artikel yg bagus dan bermafaat agar kita tau lebih alam Indonesia ini ..

    bdw.. TNGL punya 7 Puncak di atas 3000 MDPL lho !! ini buat nambah wawasan kita aja kawan² .. cuma yg terkenal yaa Leuser .. sebab itu Leuser puncaknya paling jauh dan berada di tengah² Pegunungan yg mengelilinginya .. Leuser tingginya 3119 MDPL .. masih kalah sama Kemiri ini ..

    detailnya seperti ini :
    Tanpa Nama 3445 MDPL
    Loser 3404
    Karang Puteh 3370
    Kemiri 3315
    Bandahara 3030
    Bivak III 3003
    .
    kira² seperti itu penjabarannya mudah mudahan bermanfaat ..
    .
    cmiwiw …

    • Salam kenal juga mas Rifky,
      terima kasih atas kunjungan dan informasinya,,

      kalau setahu saya, puncan Tanpa nama itu sekitar 3500an,
      Puncak Leuser dan Loser sekitar 3400an,
      saya pernah lihat peta rute pendakian TNGL ketika berkunjung ke Titik pendakian TNGL di Kedah, Kab Gayo Lues,
      seingat saya seperti itu,,

      Jarak pendakian terbilang super memang memakan waktu pendakian yang cukup sakti, 9-14 hari untuk perjalanan PP,
      namun kesan perjalanan petualangan yang tak pernah terlupakan memang menjadi daya tarik tersendiri,
      salam.

Leave a Reply