Bioskop : Dahulu, Sekarang dan Sekelilingnya

tiket kapal, mengantrinya sama kayak antri tiket bioskop
tiket kapal, mengantrinya sama kayak antri tiket bioskop

Akhir pekan merupakan waktu yang memang biasanya menjadi waktu untuk memanjakan dan melemaskan pikiran Anda ketika telah melakukan rutinitas dari awal minggu. Beberapa orang memilih untuk bermalas-malasan di rumah, berwisata, belanja, atau menonton film bioskop. Biasanya pada akhir pekan, semua yang berhubungan dengan rekreasi biasanya harganya akan naik sedikit dari harga normalnya. Ini dikarenakan memang menjadi sebuah komoditi ekonomi yang berlabel “dibutuhkan” saat akhir pekan. Salah satu contohnya adalah harga tiket bioskop yang biasanya di hari biasa berkisar antara Rp. 25.000 hingga Rp. 35.000, maka saat akhir pekan bisa mencapai antara Rp. 40.000 hingga Rp. 75.000. Memang harganya lebih tinggi, namun penontonnya juga lebih banyak daripada hari biasa.

Saya bisa dikatakan jarang menonton film bioskop di saat akhir pekan, karena kegiatan saya lebih sering berada di akhir pekan. Dalam tahun 2015 ini saya sepertinya baru 2 kali duduk di bangku bioskop, selain memang tidak ada film yang sangat ingin saya tonton, juga memang tidak ada anggaran berlebih saat ini untuk mampir ke bioskop.

Bioskop sekarang sudah jauh berbeda dengan bioskop pada masa saya masih kecil sekitar 90-an akhir hingga awal 2000-an. Ada beberapa hal yang saya alami antara bioskop dahulu dan bioskop sekarang, silahkan disimak sebagai berikut :

Media Promosi

Bioskop dahulu sering menggunakan media promosi dengan sebuah mobil promosi berupa colt atau pick up dengan poster dari kanvas yang digambar secara manual. Pengeras suara yang senantiasa mempromosikan synopsis singkat film lantang terdengar dalam laju lambat mobil promosi tersebut. Biasanya mobil promosi ini berkeliling sebelum siang hari.

Baca Juga :  Sekelumit Kata Bijak Dalam Sebuah Pendakian Gunung Merbabu

Bioskop sekarang sudah sangat terbantu dengan internet dimana mulai dari jam tayang, poster, sinopsis dan trailer sudah tersedia secara digital. Mereka hanya perlu mengatur pelayanan di bioskop, selebihnya biarkan media online yang bergerak menyebarkannya.

Penonton

Penonton pada bioskop dahulu lebih sering didominasi oleh orang dewasa dan orang tua serta anaknya. Anak sekolah jarang hadir ke bioskop karena memang dahulu hiburan anak kecil bukanlah hanya menatap layar. Sekarang saya sering melihat anak berseragam sekolah yang masuk ke bioskop

Sistem Sensor

Film bioskop dahulu masih dengan sensor manual, yaitu dengan menutup sorot lampur proyektor yang mengarah ke layar. Sekarang sudah beralih ke pemotongan scene tersebut secara langsung.

Saya agak menyayangkan penyusupan secara bertahap mulai dari adegan kekerasan, rasis, hingga seksual ke dalam film-film sekarang. Adegan ciuman dianggap sudah menjadi wajar ketika tayang di bioskop, adegan bercumbu seakan sudah menjadi biasa dipertontonkan, kekerasan yang menapilkan darah bercucuran juga semakin banyak. Sebuah kondisi yang memprihatinkan untuk kita alami sekarang, potret macam apa yang hendak disusupkan oleh sang sutradara kepada para penonton sebenarnya?

Tiket

Antrian panjang sudah biasa terjadi ketika sebuah film bioskop masih tayang perdana, semakin awal datang maka semakin leluasa Anda memilih tempat duduk. Calo tiket bioskop juga sering beterbaran kala itu, menjajakan tiket ketika menit-menit akhir film akan dimulai.

Bioskop sekarang sudah sangat mudah, dengan menggunakan fasilitas tiket online membuat Anda tidak perlu ikut berdiri mengantri memilih tempat duduk. Cukup menunjukkan kode tiket yang telah anda bayar secara online, maka anda akan menghemat tenaga dan waktu untuk ikut mengantri.

Baca Juga :  Penyesalan itu seperti bola karet

Dominasi Film

Film bioskop dahulu sangat didominasi film lokal seperti Warkop dan sejenisnya. Film dari luar negeri masih jarang sekali saya temui, atau memang saya yang hanya taunya Warkop saja ya? Hehehe.

Film bioskop sekarang sudahlah sangat bervariasi, mulai dari film lokal, barat, asia, hingga india juga sudah mulai tayang mengisi teater-teater di bioskop.

Mungkin beberapa hal di atas berbeda dengan yang anda rasakan, namun tidaklah terpaut jauh menurut saya.

Bagaimana dengan layar tancap, apakah anda pernah mengalaminya? Hiburan rakyat yang berkonsep bioskop luar ruangan tanpa tiket masuk tersebut sering diadakan pada sebuah acara hajatan di kampung-kampung saya dulu. Kantuk sering menjadi musuh saya ketika beramai-ramai bersama rekan sebaya berjalan kaki menuju lokasi layar tancap tersebut. Salah satu hal yang seru ketika ada layar tancap adalah banyaknya penjual jajanan yang terkadang hilir mudik di depan penonton sembari menawarkan camilan serta minuman ringan.

Sekarang dengan adanya koneksi internet, distribusi film secara digital telah diluar kendali. Pembajakan konten digital seperti film bioskop masih banyak kita temui sekarang ini. Ada banyak pembelaan dan alasan mengapa orang lebih suka mengunduh film tersebut kemudian menikmatinya melalui layar komputer.

Satu hal yang sangat tidak bisa disaingi ketika menonton film di bioskop adalah kualitas suara yang menggelegar, bahkan pada beberapa studio dengan konsep 4 dimensi, kursi penonton bisa ikut bergerak sesuai dengan beberapa adegan yang muncul pada film bioskop tersebut.

Baca Juga :  Mencoba Belajar dari TEDxBandung - Enda Nasution - Social Media Timeline

Ketika semua orang sudah mulai ramai datang ke bioskop, ketika semua orang sudah rela mengantri di bioskop, ketika semua orang sudah puas menyaksikan drama di layar lebar tersebut, pihak manakah yang menurut anda diuntungkan? Produsen film tersebut kah? Pemain film tersebutkah? Pihak pengelola Bioskop tersebut kah? Atau mungkin Anda sebagai penonton yang ikut merasa diuntungkan?

Sebuah seni, pada dasarnya hanya menuntut sebuah apresiasi atas karya yang ditampilkan. Bukanlah hal munafik pada masa sekarang bahwa pada apresiasi tersebut berupa nominal uang. Pekerja seni juga perlu dana untuk melanjutkan hidup dan mengembangkan karyanya lebih baik.

Jadi, sudahkah anda berkarya dan diapresiasi atas karya anda terebut?