Pengalaman Menginap Semalam di Kampung Labasan Resort Bersama Keluarga.

Kampung Labasan berlokasi di Pakem, Sleman, D.I. Yogyakarta, sebuah penginapan yang mengusung konsep penginapan berbentuk rumah untuk keluarga. Suasana pedesaan yang sederhana mencoba diusung oleh Kampung Labasan.

Saya datang menginap di Kampung Labasan pada bulan Januari 2017, saat itu ada saudara yang akan melangsungkan pernikahan di daerah Pakem. Sehingga saya bersama keluarga dari pihak istri saya berencana untuk datang sehari sebelumnya agar tidak terlalu lelah dengan perjalanan yang harus ditempuh.

Sempat bingung hendak menginap dimana, karena jika menginap di tempat saudara tersebut akan terasa kurang nyaman karena pasti semuanya akan tumpah ruah di satu rumah. Maka dari itu, berbekal hobi istri saya yang suka buka-buka aplikasi travel untuk melihat-lihat penginapan, maka ditemukanlah Kampung Labasan Resort.

Bagi Anda yang jenuh dengan konsep penginapan berbentuk hotel di Yogyakarta, mungkin Anda harus mencoba untuk menginap di Kampung Labasan Resort. Paket menginap yang ditawarkan bukan berbentuk kamar seperti hotel pada umumnya, namun berbentuk rumah. Iya, rumah dengan beragam kapasitas yang bisa disesuaikan dengan jumlah rombongan anda.

Saya berkesempatan berkunjung ke Kampung Labasan bersama keluarga dari Istri saya, total ada 6 orang yang ada di rombongan kami. Sebenarnya kami memesan untuk menginap di Rumah Melayu, namun karena ada kesalahan sistem antara pemesanan online dengan pemesanan manual, maka ada double booking untuk Rumah Melayu. Jadilah kami menginap di sebelahnya Rumah Melayu, yaitu Rumah Kudus.

Untuk Rumah Kudus sebenarnya bisa digunakan untuk 12 orang, dengan 6 orang di lantai pertama dan sisanya di lantai atas. Untuk Rumah Melayu hanya bisa digunakan untuk 6 orang, sehingga kita mendapatkan Rumah Kudus dengan harga Rumah Melayu. Rejeki awal tahun, alhamdulillah.

Baca Juga :  Homestay Pak Dono, Rekomendasi Penginapan di Desa Wisata Sanankerto
Pintu masuknya memang tidak terlihat dengan jelas saat itu (januari 2017), entah saat ini seperti apa.

Kami datang hampir tengah malam saat itu, lalu ketika semua urusan check in sudah selesai, lalu kami diantarkan ke rumah tempat menginap kami. Lalu kami ditawari welcome drink oleh salah petugas yang mengantar kami, ditawarkan hendak teh, kopi, atau jahe. Tentu saja jahe adlah pilihan paling tepat dengan waktu dan suhu udara saat itu. Tidak lama kemudian satu set minuman jahe datang dengan teko motif cendol dan gelas klasik jaman dulu. Menarik.

Satu set jahe hangat yang menemani kami malam itu saat baru sampai di lokasi.

Ada beberapa bangunan berupa rumah yang disewakan untuk para tamu menginap. Ada juga bangunan yang digunakan untuk kegiatan operasional. Juga ada aula yang memang ditujukan untuk acara besar.

Pemandangan dari rumah yang kami inapi. Saya sih tidak perlu pemandangan yang luas, yang penting hijau ada banyak.

Beberapa bangunan berbentuk rumah yang dijadikan sebagai tempat penginapan tersebut berdiri di atas sebuah kolam, walaupun tidak semua bagian bagunan, namun kita masih bisa merasakan sensasi damai ketika tinggal di atas kolam.

Filosofi kehidupan yang pernah saya dapatkan dari seseorang ketika sedang melakukan kegiatan survey di Samigaluh, Kulonprogo adalah :

ketika manusia melangkah di atas air, maka sifat duniawinya akan luluh

Entah benar entah tidak, namun saya cukup percaya akan hal tersebut, perhatikanlah di sekitaran anda, apakah orang-orang yang gemar bermain air memiliki sifat yang lebih membumi dalam kehidupan sehari-hari? Air bersih ya yang saya maksudkan, bukan air keruh.

Sungai kecil atau kalen yang ada di Kampung Labasan Resort, jernih kan airnya?

Di belakang rumah yang kami gunakan untuk menginap, terdapat sebuah sawah yang bisa dengan mudah diakses dengan menyeberang sebuah sungai kecil, atau kalen dalam bahasa jawa. Airnya jernih dan mengalir cukup deras, sebenarnya jika kiri-kanan kalen ini dibersihkan lagi, akan bisa menjadi atraksi tersendiri bagi mereka yang sudah lama tidak main air.

Baca Juga :  Homestay Bu Rini di Kampung Pelangi, Desa Wisata Bejalen
Rumah penginapanya terbuat dari kayu yang bisa dibongkar pasang.

Untuk interior rumah dan kamar mandinya tidak saya foto, karena saya datang ke Kampung Labasan Resort adalah untuk menginap, bukan berniat untuk melakukan review. Bagian dalam rumah sebagian besar didominasi oleh mebel dari kayu, mulai dari kursi, meja, kusen, hingga dipan. Pada bagian kamar mandi, saya mendapatkan set kamar mandi yang tergabung dengan toilet, ornamenya berasa di luar ruangan karena tidak memiliki atap sebagian, jadi kalau hujan pasti lebih seru.

Kucingnya ada banyak, banyak

Jika Anda pecinta kucing, maka Kampung Labasan Resort adalah tempat yang sangat cocok bagi Anda. Ada banyak kucing dengan bulu-bulu yang menggemaskan. Sebenarnya saya lebih suka menyebutnya rambut kucing ya, karena bulu itu seperti bulu ayam dan sejenisnya. Bahkan ada rumah kucing dengan tempat tidur yang dibuat menyerupai etalase dengan kaca yang besar sebagai dinding. Kesehariannya, kucing-kucing ini dilepas begitu saja di sekitaran penginapan, sehingga sudah terbiasa bercengkrama dengan manusia.

Beberapa gazebo sederhana di utara penginapan.

Di sebelah utara penginapan terdapat juga sebuah tanah lapang yang sepertinya memang biasa digunakan untuk membuka tenda atau kegiatan outbond sepertinya. Tanahnya cukup luas dan udaranya terasa segar serta asri. Tidak jauh dari lokasi tersebut juga ada beberapa kolam ikan yang sepertinya bisa digunakan untuk memancing oleh pengunjung. Sepertinya ya, karena saya melihat beberapa alat pancing di tempat yang mudah terlihat.

Kolam-kolam ikan yang sudah pasti ada ikannya.

Saat saya berkunjung tersebut, terlihat juga sebuah bangunan beton yang belum selesai dibangun, sepintas saya melihat ada beberapa ranjang tingkat yang ada di dalam bangunan tersebut. Mungkin akan digunakan untuk penginapan kelas backpacker atau rombongan yang lebih besar.

Baca Juga :  Pengalaman Bermalam di Susan Spa & Resort, Semarang
Tanah lapang ini mungkin biasa digunakan untuk pernikahan model outdoor gitu.

Setelah saya merasa cukup berkeliling Kampung Labasan Resort bersama istri saya yang tengah hamil muda saat itu, segera kembali ke rumah yang kami gunakan untuk menginap. Rupanya sarapan sudah siap dan menutupi meja yang ada di teras rumah.

Sarapan yang hadir membuat kami semakin bahagia di pagi itu, bisa dilihat pada foto di bawah ini. Sangat mengggiurkan bagi saya, entah untuk yang lain. Nasi sebakul ditambah dengan sayur mayur lengkap dengan sambal kacangnya, juga ada telur goreng dan tahu yang jumlahnya melebihi jumlah kami, hahaha. Datang juga satu sisir pisang yang siap dilahap sebagai pencuci mulut pagi itu, juga ditambah teh hangat yang membuat suasana pagi di Kampung Labasan Resort semakin nyaman.

Sajian sarapan di Kampung Labasan Resort
Semakin sehat dengan penambahan buah segar yang masih terbungkus kulit. segel belum terbuka.

JIka anda berminat berkunjung ke Kampung Labasan Resort, anda bisa mengikuti peta yang saya sematkan berikut ini :

Kampung Labasan Resort

Alamat : Jalan Kaliurang KM 17.5, Pakembinangun, Pakem, D.I. Yogyakarta
no Telp : 0274 – 895896 | 0274 – 2860357 | (Wasap) 08175421999
Website : https://www.kampunglabasan.com/

 

Sekian artikel mengenai pengalaman menginap di Kampung Labasan Resort, Pakem, Yogyakarta. Saya sangat merekomendasikan kepada Anda yang ingin merasakan suasana menginap yang sangat ramah untuk keluarga anda. Pokoknya jika Anda ingin merasakan balek ndeso maka Kampung Labasan Resort adalah salah satu penginapan yang saya rekomendasikan. Artikel ini bukan sponsored post lho ya, 🙂

Salam.

10 COMMENTS

  1. Woow, sangat tradisional dan kembali ke alam. Saya suka banget penginapan seperti ini. Saya yakin beristirahat akan terasa semakin nyaman karena suara-suara alam di malam hari akan terdengar begitu menenangkan. Cocok untuk pengunjung yang sedang bosan menginap dengan suasana kota dan ingin benar-benar merasakan nuansa tradisional serta alam pada saat yang sama. Terima kasih ya untuk rekomendasinya.

  2. Perhatian saya langsung ke bagian bawah post, wkk karena udah menduga ini artikel berbayar, ternyata bukan. Tapi jogja emang mantep sih, walo sekarang udah beda bgt :/

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam