Berbagi Cerita Seorang Guru Garis Depan di Sumba Timur

Setelah sekian lama, akhirnya terbitlah artikel di kategori inspirasi. Kali ini saya akan mewawancari rekan saya yang mengikuti program Guru Garis Depan, atau lebih mudah diucapkan sebagai GGD. Mungkin dari beberapa dari pembaca belum tahu apa itu GGD, mari kita simak wawancara yang saya kemas dalam bentuk deksripsi narasi ini.

Rekan saya bernama Sulistiyani, dulu pernah bertugas di kabupaten yang sama saat kami mengikuti program SM-3T angkatan pertama. Beliau lulusan Pendidikan Kimia dari Universitas Negeri Yogyakarta, tinggal di Semarang namun mengaku rumahnya di Boyolali.

A post shared by sulisabdullah (@sulisabdullah) on

Guru Garis Depan yang selanjutnya akan saya sebut sebagai GGD, adalah guru dengan status PNS yang ditempatkan di daerah 3T. Daerah 3T adalah daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal. GGD merupakan salah satu program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertujuan untuk pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia, salah satu langkahnya yaitu dengan distribusi guru yang hingga tempat yang terpencil.

Sulistiyani mengikuti program GGD semenjak bulan Juni 2015, dengan lokasi penempatan di Kabupaten Sumba Timur, NTT. Sebuah daerah yang jauh lebih panas bila dibandingkan dengan suhu udara di kampung halamannya.

Bagi Sulistiyani, ketika mendapati namannya muncul di lembar pengumuman hasil seleksi GGD untuk ditempatkan di Kabupaten Sumba Timur, dirinya sudah siap. Kesiapannya bukan tanpa alasan, sudah ada pertimbangan sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil hasil pengumuman tes GGD tersebut.

Beruntung Sulistiyani memiliki seorang sahabat yang dulu sempat tinggal di Sumba Timur selama satu tahun. Sehingga melalui sahabatnya tersebut, bisa diketahui sebagian besar kondisi di Sumba Timur, mulai dari aksesbilitas hingga fasilitas.

Selain memiliki sebuah pelabuhan, Kabupaten Sumba Timur juga memiliki sebuah bandara. Jika di jalur laut ada 4 hari dalam seminggu terdapat kapal ferry yang singgah, maka di jalur udara ada 5 penerbangan setiap harinya. Aksesbilitas ini yang membuatnya lebih mudah untuk pulang saat ada libur panjang. Cukup beberapa jam dari Bandar Udara Umbu Mehang Kunda untuk bisa mencapai rumahnya di Kabupaten Semarang.

Baca Juga :  Flash Blogging Kominfo : Asyik Ngeblog dan Tetap Pancasilais

Sebagaimana kita tahu, bagi seorang pendatang, dimanapun itu, hal yang tersulit namun juga termudah adalah beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dalam benak Sulistiyani, membawa diri ke dalam lingkungan masyarakat di Sumba Timur membuatnya bisa mengenal bahwa mereka sangat ramah dan tulus.

A post shared by sulisabdullah (@sulisabdullah) on

Sudah 3 tahun lebih dirinya tinggal dengan sikap cerewet dan supelnya di Sumba Timur. Menjaga sikap di masyarakat, serta menghargai apa saya yang orang lain berikan kepada dirinya. Terkadang menemukan adanya perbedaan cara berfikir, namun selalu ada titik temu untuk mengatasi perbedaan tersebut.

“Tetap menjadi diri sendiri dan terus belajar menempatkan diri sesuai keadaan itu sangat membantu untuk berbaur dengan masyarakat Sumba Timur” – Sulistiyani (2018)

Sulistiyani menceritakan bahwa dirinya pernah mengalami sendiri bagaimana toleransi di sini amat tinggi. Pernah ketika di suatu acara pesta, dirinya pernah diundang untuk membantu “sorong kayu” istilah untuk membantu pekerjaan di dapur, menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat yang mayoritas beragama Kristen Protestan menghargai yang muslim.

Mulai dari tungku yang terpisah jauh, alat masak yang berlainan, bumbu bahkan sampai tempat cuci piringnya pun tidak menjadi satu. Mama yang bertugas memasak betul-betul menjaga agar tidak bercampur.

Sering juga sedang bertamu, saat tuan rumah menyuguhkan hidangan, mereka selalu menyampaikan bahwa yang menyembelih hewannya adalah si fulan. Jadi halal. Tahu si fulan itu siapa kan? hehehe

Kembali ke statusnya sebagai seorang Guru, dirinya ditempatkan di SMA Negeri 1 Lewa, dengan 662 siswa yang dibagi dalam 20 rombongan belajar. Sebagian besar muridnya beragama Krister Protestan, begitu pula dengan guru di SMA tersebut.

Baca Juga :  Netizen Semarang Ngobrol Seru Bersama MPR RI di Hotel Grandhika Semarang

Di SMA Negeri 1 Lewa, terdapat bangunan laboratorium biologi, fisika, kimia, dan komputer. Tentu saja dengan alat dan bahan yang terbatas, protret klise yang tak kunjung terbenahi dalam cerita pendidikan di daerah terpencil.

A post shared by sulisabdullah (@sulisabdullah) on

Beruntung, halaman sekolah sangatlah luas, saat musim hujan akan terhampar hijau dengan rumput yang rajin dipangkas. Juga di sekitarnya ada beberapa pohon dengan kursi yang bisa digunakan untuk merangkai sajak di bawahnya.

Bukan perantau namanya bila belum menghadapi tantangan. Hal tersulit bagi Sulistiyani adalah mempertahankan idealisme. Terutama dengan idealisme yang berkaitan dengan cara mengajar dan mendidik murid.

Sebagian besar guru di daerah tersebut selalu berpedoman “Kalau tidak keras, anak-anak akan merendahkan guru, menganggap rendah guru”. Sulistiyani selalu bertolak belakang dengan pedoman tersebut, sementara dirinya masih bertahan dengan keyakinan bahwa potensi anak akan muncul ketika mereka berlajar dengan rasa nyaman. Dan rasa nyaman tersebut bisa diperoleh tanpa kekerasan, namun dengan kelemah-lembutan yang tegas.

Sulistiyani ingin menanamkan rasa kasih di dalam hati murid-muridnya sebagai bekal kelak, kasih kepada diri sendiri, sesama manusia, dan kepada alam sekitar.

Seusai jam sekolah berakhir, Sulistiyani memiliki beberapa aktivitas yang rutin dilakukannya. Seperti membaca buku, menulis pengalamanya melalui blog, memberikan les, melatih pramuka, bersepeda, juga menyempatkan dirinya menjabat sebagai sekertaris organisasi pramuka tingkat kecamatan di Lewa.

Seringkali juga dirinya mengikuti kegiatan Patroli Baca yang diadakan oleh Polsek Lewa, kegiatan tersebut berupa mengantarkan buku untuk anak-anak di desa yang masih masuk ke dalam wilayah kecamatan Lewa, kemudian membaca bersama anak-anak tersebut.

Sebagai anak pramuka, Sulistiyani hingga sekarang masih teringat moment ketika pengukuhan Gudep SMA Negeri 1 Lewa dan Ranting Lewa, dimana melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan kegiatan tersebut.

Baca Juga :  Lamun dan Dugong untuk Bahari yang Lebih Lestari

Namanya juga manusia, dimanapun berada, pasti akan bertemu dengan orang yang tidak sepaham dengan kita. Dirinya pernah mengikuti sebuah rapat, dalam rapat tersebut ia mengungkapkan kritik dalam rapat, lalu sesampainya di kos, dia mendapatkan pesan singkat berupa ancaman.

Anak rantau yang jauh dari keluarga, tentu saja rasa rindu akan selalu menggebu. Rindu akan keluarga serta kampung halaman. Baginya, melakukan telewicara maupun panggilan video sebanyak 2 kali sehari dengan keluarganya sudah cukup untuk sedikit menutup rasa rindu. Saat mudik, Sulistiyani selalu mencoba mengabadikan semua momen dengan kamera, sebanyak mungkin yang bisa dijepretnya.

A post shared by sulisabdullah (@sulisabdullah) on

Sebagai pribadi yang sedang menempa diri di belantara nusantara, Sulistiyani merasakan arti yang mendalam akan “berbagi”. Baginya, dimana ia berada sekarang bukanlah untuk dirinya sendiri. Kehadirannya harus bisa memberi manfaat, khususnya untuk masyarakat Sumba Timur. Belajar untuk menghilangkan rasa egois, menempa diri diri untuk beriskap mandiri.

Sebuah mimpi besar sedang mencoba dirajut olehnya, yaitu pemerataan kualitas pendidikan, sesuai dengan tujuan program GGD yang mengatarkannya hingga ke Sumba Timur. Dirinya sadar bahwa mimpinya itu tidaklah mudah, namun dirinya yakin, dengan langkah demi langkah yang dilakukannya, mimpi itu akan mendekat, mendekat, mendekat dan tercapai.

Bagi pembaca yang ingin mengenal Sumba Timur lebih dekat melalui foto dan tulisan-tulisan Sulistiyani, bisa berkunjung ke blog pribadi dan akun instagramnya.

******

Semoga dirimu menjadi semakin tangguh di sana ya kawan, hahaha sebuah hal yang menyenangkan ketika mendengar kabar akan kawan di peratauan sedang mendapati dirinya menjadi lebih baik.

Sekian artikel inspirasi kali ini, semoga bisa membuka wawasan akan apa itu GGD dan juga bagaimana kehidupan singkat seorang GGD di Sumba Timur.

Tabik.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here