Silaturahim dengan Polisi Kota Semarang

76
views
suratnya romantis, warna merah muda

Ini kali kedua saya “bersilahturahim” dengan polisi di pantura, yang pertama kali saat masuk Kota Semarang dari arah Demak. Ini yang kedua, silahkan disimak :

Suatu waktu pernah saya kena tilang ketika melintas di bundaran Kali Banteng, Kota Semarang. Saya ditilang “katanya” karena melanggar marka di bundaran tersebut sehingga menghalangi mobil di belakang saya, padahal seingat saya mobil tersebut juga melintas marka ketika terhalangi oleh laju kendaraan saya. Saya berada di sebelah kanan, mobil tersebut berada di kiri, hingga akhirnya saya berada di kiri dan mobil tersebut berada di kanan.

Intinya adalah karena saya mengenakan pakaian layaknya orang naik motor luar kota, serta plat motor saya bukanlah plat pantura. Otomatis menjadi sasaran empuk polisi yang “menanti mangsa” berjaga di pos Kali Banteng tersebut.

Setelah diberhentikan secara paksa, saya ditawari mau bayar “uang damai” denda di tempat atau ikut sidang saja 2 minggu lagi. Saya terima saja sidang tersebut agar saya tahu bagaimana kondisi di area pengadilan ketika ada tindak pelanggaran lalu lintas.

Dalam waktu cepat dengan tulisan yang susah terbaca menempel di surat warna merah jambu tersebut yang sepertinya ada semacam nomor resi di sudut kanan atasnya. Saya tidak tahu nomor apa itu, semoga saja nomor itu bukan indikator pencapaian target untuk mendapati para pelanggar lalu lintas dalam satu kurun waktu unit operasi.

Baca Juga :  Penyesalan itu seperti bola karet

Dua minggu berlalu sudah, saya datang ke Semarang untuk mendapatkan kembali SIM C saya yang ditahan secara “paksa” hukum karena melanggar pasal 295 ayat 2 UU no. 22 tahun 2009 tentang LLAJ.

bolak-balik ternyata, makanya mahal

Saya herankan dari semua peraturan di negeri ini, tidak hanya untuk LLAJ, setiap ada kebijakan atau peraturan baru, selalu saja minim sosialisasi. Apakah hal tersebut memang “disengaja” terlupa, sehingga kami-kami yang bertahan hidup dari hari ke hari akan lebih mudah terkena akan hal-hal tersebut?

Sesampainya di lokasi sidang, seingat saya di Pengadilan Negeri yang berada di daerah Krapyak, Kota Semarang.Ternyata memang ramai sekali untuk ukuran sidang pelanggaran LLAJ untuk kurun waktu seminggu. Ternyata petugas kepolisiannya bekerja keras setiap hari sehingga selalu terkumpul sebanyak itu setiap hari Jumat. Bila anda melintas ke arah Kendal melalui Kali Banteng, lihatlah di kiri jalan sebelum masuk ke Jalan TOL, akan banyak kendaraan terparkir di sekitaran Pengadilan Negeri Tersebut.

sedikit tampilan dari parkirannya
mobil juga ada, banyak…

Dengan motor sebanyak itu, biaya parkir per motor 3000 rupiah yang dikelola oleh preman setempat. Saya tidak tahu berapa harga parkir untuk mobil. Calo juga berterbaran dan berterbangan menyambangi mereka yang baru menyandarkan motornya di parkiran illegal tersebut. Padahal di gerbang masuk Pengadilan Negeri ada tulisan “CALO DILARANG MASUK”, ah itu sudah menjadi hal biasa di Negara ini.

Saya sempat terpikirkan beberapa konspirasi yang mungkin tidak bisa saya buktikan kebenarannya.

  • Masing-masing unit penjagaan lalulintas memiliki target yang harus dicapai entah tiap minggunya atau tiap bulannya
  • Tukang parkir tersebut tentulah menjadi bawahan oknum yang mengelola parkiran illegal setiap jumat tersebut.
  • Calo tentu saja adalah orang yang memang sengaja dan disengajakan berada di sekitaran lokasi yang biasanya memiliki prosedur berbelit dan memang dibuat berbelit.
  • Para Jaksa dan Hakim Pengadilan, hmmmtt….
Baca Juga :  Langit Senja di Pantan Cuaca yang Melambai dan Merindu Syahdu

Yang jelas ke empat komponen tersebut dihubungkan oleh benang merah.

Jadi teringat musibah kebakaran yang menimpa Kantor POLDA di Jalan Pemuda, Kota Semarang. Mungkin karena suhu panas yang tinggi akibat banyaknya uang panas, mungkin itu asumsi saya.

yang saya foto gedung sebelah pengadilannya 😀

Bagaimanapun lengkapilah perlengkapan kendaraan anda agar anda bisa “cukup” terhindar dari tindak pelanggaran LLAJ. Walaupun terkadang kita sudah lengkap dan menaati peraturan, tetap saja kalau sedang sial ya sial saja.

Pernah teman saya tertilang karena menerobos LAMPU HIJAU di Kota Magelan, dan yang menilang tetap ngotot kalau teman saya bersalah. Itu adalah hanya salah satu contoh kecil ketidakbenaran yang memang sengaja diciptakan menjadi sistem untuk para pengendara.

Maju dan jayalah warung tegal, semoga tetap menyajikan makanan murah dan sedap untuk orang-orang bawah seperti kami. 😀



8 COMMENTS

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam