Sabang, Titik awal dimana keindahan Indonesia dimulai (part 1 of 2)

108
views
senja di pantai kasih

Pulau Weh atau lebih dikenal dengan Sabang merupakan sebuah pulau penuh keindahan yang juga merupakan tempat bertenggernya Tugu Nol Kilometer dari Negara Indonesia.

Selepas duduk manis selama 15 jam dalam bus AKAP jurusan Medan – Banda Aceh, akhirnya kami dapat meluruskan sendi di Terminal Kota Banda Aceh sebelum matahari terbangun. Bergegas menuju tempat seorang kawan untuk sekedar mencuci muka dan lebih meluruskan sendi-sendi di teras rumahnya. Segera kami menghubungi handai taulan lain yang hendak menikmati eksotisme Pulau Weh bersama kami, jadi total jumlah kami menjadi 6 orang. Tanpa membuang waktu segera kami memacu motor menuju Pelabuhan Ulee Lheue (dibaca : ule le) yang merupakan satu-satunya pelabuhan untuk menuju ke Pulau Weh. Tapi nasib beruntung belum menemani perjalanan kami, walaupun waktu masih menunjukkan 60 menit sebelum kapal feri berangkat namun telah penuh sesak sehingga motor kami tidak dapat dinaikkan ke dalam badan kapal feri (musim liburan sekolah). Ternyata pada hari itu hanya ada satu kali penyeberangan menuju Pulau Weh, membuat hati kami semakin kecewa.

senja di ulee lheue

“ya sudahlah” ucap dalam hati, “daripada kita di sabang keliling jalan kaki, lebih baik menyeberang besok saja” saran seorang kawan. Akhirnya kami berenam memutuskan menginap di Pelabuhan Ulee Lheue setelah meminta izin kepada petugas kemanan dengan syarat tidak berpindah-pindah tempat dengan alasan kemanan. Menikmati senja diantara batuan pemecah ombak, menyusuri ketenangan sejati dalam balutan angin laut dan tak lupa untuk mengabadikannya dalam frame-frame digital. Terlihat matahari merebahkan sinarnya dibalik Pulau Weh diselingi oleh beberapa gumpalan awan yang membuat senja semakin terasa berbeda (terbiasa menikmati senja di pegunungan :D).

Baca Juga :  Bersepeda di Gayo Lues
purnama bersama seulawah

Di saat sang surya mulai terbenam, ternyata rembulan mulai keluar dari peraduannya. Sinar purnama yang bersanding dengan Gunung Seulawah semakin membuat semakin sirnanya penyesalan akibat kegagalan penyeberangan hari ini. Kedai dan warung di dalam lokasi Pelabuhan Ulee Lheue tidak beroperasi pada malam hari, membuat kami harus berjalan menjauh dari pintu masuk Pelabuhan demi mempertahankan hidup (mencari warung makan terdekat :D).

gulita di ulee lheue

Setelah rasa lapar kami sirna, kembali kami berjalan kembali masuk ke dalam pelabuhan sembari menenteng air mineral dan biscuit kering (sedia cemilan sebelum lapar :D). Kukeluarkan sleeping bag dari dalam tas, mencari posisi yang nyaman untuk berkunjung ke alam mimpi sembari diterangi cahaya purnama, terdengar bisikan deburan ombak yang tengah bercengkrama dengan batuan pemecah ombak, “Selamat Malam Semua”.

ulee lheue di pagi hari

Sebelum ayam beraksi, kami telah terbangun oleh hembusan angin laut pagi itu. Rutinitas setelah bangun mulai dilaksanakan (kecuali membantu ibu merapikan tempat tidurku). Berjalan menikmati pagi di Pelabuhan Ulee Lheue sembari menunggu jam operasional loket tiket dan warung makan. Kami bergantian mengantri di depan loket tiket agar tak tertinggal lagi hari ini, beberapa kawan yang lain pergi ke warung makan untuk mengisi energi petualangan hari ini.

tiket dari u lheue lee ke balohan

Akhirnya 6 buah tiket kapal feri kelas ekonomi telah tertata rapi yang telah siap mengantarkan kami ke kabin kapal feri tujuan Pelabuhan Balohan (Pulau Weh). Klakson kapal telah berbunyi 3 kali, pertanda 2 jam lagi kami sampai di Pelabuhan Balohan. Cuaca cukup bersahabat untuk duduk di kabin teratas kapal feri, sehingga pemadangan sejauh mata memandang terisi oleh hamparan Samudera Hindia dan Pulau-pulau kecil di Kecamatan Pulo Aceh.

Baca Juga :  Dalam Sebuah Pendakian, Ada Harapan dan Kenyataan
siap berangkat
merapat ke sabang
menempel di sabang

Pulau Weh mulai terasa semakin mendekat, tanda petualangan kami akan segera dimulai. Badan kapal akhrinya bersatu dengan Pelabuhan Balohan, segera semua penumpang menginjakan langkahnya di Pulau Weh. Tanpa membuang waktu kami segera memacu kendaraan menuju Tugu Nol Kilometer Indonesia yang berwaktu tempuh sekitar 1.5 jam dari Pelabuhan Balohan. Jalan yang aspal berliku dan sempit mengantarkan kuda besi yang kami naiki menuju area parkir Tugu Nol Kilometer Negara Indonesia.

tugu nol kilometer Indonesia

Dalam hati merasa bangga, “saya sudah menginjakkan kaki di Titik 0 Km di NKRI” seraya menyentuh prasasti yang terdapat pada tugu tersebut. Dalam hitungan menit mulai terlihat tanda-tanda hujan yang memaksa kami berteduh sejenak di kedai yang telah lama ditinggalkan pemiliknya sembari menikmati mie goreng spesial. Kenapa mie goreng spesial?? Tentu saja karena kami menikmatinya di titik 0 km Negera Indonesia.

prasasti nol kilometer Indonesia
laut dibalik tugu nol kilometer Indonesia

Perjalanan berlanjut menuju Dinas Pariwisata Kota Sabang untuk mendaftarkan diri agar mendapat sertifikat sebagai bukti otentik telah berkunjung ke Tugu Nol Kilometer Negara Indonesia. Tak hanya sertifikat yang kami dapat, namun juga brosur dan pamflet serta peta lokasi wisata di Pulau Weh dan beberapa stiker dan souvenir dari Dinas Pariwisata Kota Sabang (sertifikat @15.000, brosur dll gratis).

sejenak berhenti pada suatu sudut di Pulau Weh

Tujuan selanjutnya mencari penginapan murah untuk kami berenam, benruntung kami menemukan Penginapan Samudera yang hanya berjarak 150 meter dari Dinas Pariwisata. Tarif perkamar 150.000 untuk satu malam, namun bisa diisi hingga 6 orang dalam satu kamar (penghematan besar). Segera semua beban yang menempel di badan seharian kami letakkan rapi dalam kamar penginapan sederhana namun berAC ini. Tanpa membuang waktu segera kami menuju Pantai Kasih, yang hanya memakan waktu tempuh 10 menit dari lokasi penginapan kami. Pantai Kasih merupakan spot andalan di Pulau Weh untuk dapat menikmati Sunset yang indah.

Baca Juga :  8 Fungsi Trekking Pole Dalam Pendakian Gunung
pantai kasih barat

Kami sempat terkejut mendapati Pantai Kasih yang digambarkan berpasir putih dalam brosur ternyata hanya berupa pasir karang berlumut, namun dengan insting seorang kawan mengatakan, “mungkin di sebelah sana” sembari menunjuk jalan aspal kecil di arah timur. Bergegas sepasang lajang bergerak untuk melakukan observasi terlebih dahulu, selang beberapa menit mereka memberi kabar melalui pesang singkat, “pasir putih, 300 meter dari spot tadi”. Segera 2 pasang kuda besi terpacu menuju koordinat yang telah dipublikasikan melalui ponsel tadi.

pantai kasih, sabang, pulau weh

Setelah kendaraan terparkir rapi dan aman, langkah kecil mulai terayun menuruni tangga beton yang segera berganti menjadi hamparan pasir putih. Menikmati pasir putih bersih dalam balutan air laut hijau toska membuat semakin terasa cepatnya hari ini terlalui.

Layaknya anak kecil di Pulau Weh

Berlarian layaknya anak kecil yang merindukan kebebasan, itulah gambaran sekilas tingkah laku kami di atas jutaan butiran pasir putih ini. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 18.50 WIB, saatnya menanti sunset tenggelam dalam balutan lautan. Awan sore itu terlalu tebal untuk dapat meneruskan cahaya senja kepada kami, mungkin esok hari cuaca akan lebih cerah untuk dapat menikmati matahari terbenam di Pulau Weh. Waktunya kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak sembari menanti waktu makan malam di pulau eksotis ini.

Bersambung….

Simak juga Ebook tentang perjalanan kami ke Sabang serta video perjalanan kami di Sabang.

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam