Review Prosumer BenQ Gh-600

224
views
BenQ GH600 dalam genggaman

Kamera BenQ Gh600 ini saya dapatkan dalam kondisi bekas namun masih terawat. Pemilihan kamera ini karena memang saya sedang mencoba ke tahap prosumer saat itu dikala DSLR masih terlalu mahal untuk kantong saya. Kamera ini pernah beberapa kali menemani perjalanan saya kala itu walau tidaklah terlalu sering saya pakai karena ukurannya yang cukup besar untuk dimasukkan ke tas pinggang saya.

Perlengkapan BengQ GH600

Garis besar menurut saya ketika menggunakan kamera ini adalah sebagai berikut :

1. Body
Ergonomis memang menjadi salah satu hal yang menonjol dari tipe kamera prosumer, grip yang lebih mantap memang menjadikan lebih nyaman digenggam. Bagi anda yang bertangan besar mungkin akan kerepotan karena kelingking anda tidak mendapat tempat pegangan pada grip kamera ini. Bahan dari plastik yang menurut lebih dari cukup kualitasnya untuk kegiatan anda di luar ruangan walau harus tetap berhati-hati.

2. Tombol
Jumlah tombolnya terasa sedikit, kualitas material tombolnya juga terbilang keras untuk ditekan.

Tombolnya ada di sebelah kanan semua

3. Lensa
Seingat saya karena crop factor pada kamera ini, rentang lensanya sekitar 25 mm – 400 mm kalau tidak salah. Zoomnya memang terasa jauh dan terbantu dengan sistem stabilizernya. Pastikan anda telah membuka tutup lensanya sebelum anda menyalakan kamera ini, karena tutup lensa masih bersifat pasang copot secara manual.

Lensa saat posisi baru menyala

4. Mode PASM
Ada mode PASM pada kamera ini, sehingga anda bisa bermain manual terhadap apeture, speed shutter dan iso. Speed shutter dibatasi pada kecepatan 15 detik.

Baca Juga :  Review Sony alpha 230

5. Baterai
Menggunakan 4 buah baterai AA yang menjadikannya berdimensi cukup besar. Walau sudah diiisi baterai namun menurut saya masih terasa ringan ketika ditenteng.

Saya menggunakan 4xAA enloop dan SD card 4 gb

6. Fitur
Ada banyak fitur dalam mode pemotretannya seperti mode macro, panorama dan beberapa efek lainnya yang jarang saya pakai, hanya sesekali saja saya gunakan ketika ingin melakukan percobaan. Mode panorama memang lebar, namun resolusi yang dihasilkan juga terkompres.

7. Hasil
Ini salah satu hal yang membuat saya rela melepas kamera ini, entah dari segi hardware maupun dari kesiapan sistem pengolahan gambarnya pada kamera. Preview pada layar saat akan melakukan bidikan terasa selalu over, namun saat telah tersimpan dalam kartu memori maka previewnya cukup bagus terlihat pada layarnya. Setelah dipindah di komputer untuk dilihat melalui layar monitor makan terlihat pengurangan kualitas gambar yang menurut saya kurang cocok untuk saya. Hasil video HD pada kamera ini berjalan pada 30 fps, terlihat distorsi dan pengurangan kerapatan piksel pada focal length 25 mm dan akan terlihat lebih tajam ketika anda merekam video pada focal length beberapa mm di atas 25 mm.

Kardusnya kalau dari luar, dari dalam tidak bisa difoto

Sepertinya itu saja yang bisa saya paparkan ketika sempat bercengkrama dengan kamera ini. Fiturnya memang cukup bagus secara hardware, namun akan lebih baik ketika didukung software dan hasil dari kamera yang lebih baik dan cocok untuk yang mencari kelas prosumer.
Salam jepret 😀

Baca Juga :  Review Singkat Kamera Olympus EPL-2