Pengalaman Mencetak Ebook buatan sendiri

ghozaliq-ephotobook-2

Draft postingan ini ternyata sudah saya unggah semenjak bulan februari tahun 2015, tak terasa menganggurkan sebuah ide itu bukanlah hal yang baik, terutama untuk ide-ide selanjutnya. ­čśÇ

Kali ini saya akan mencoba berbagi sebuah pengalaman ketika saya mencetak ephotobook saya sehingga menjadi photobook. Tujuan awal saya membuat ephotobook sebenarnya hanyalah untuk mendokumentasikan kegiatan travelling saya sehingga lebih menarik untuk dinikmati, namun lama-kelamaan saya menjadi kecanduan membuatnya hingga akhirnya saya cetak dalam bentuk buku bersampul yang nyaman untuk dinimkati.

saya mencoba membaginya menjadi beberapa tahap proses belajar saya mencetak ephotobook saya tersebut.

Pertama

Saya mencari di mesin pencari untuk menemukan jasa percetakan ephotobook di sekitaran Yogyakarta, namun yang saya temukan paling banyak adalah berupa ebook teks biasa yang paling hanya menggunakan kertas HVS biasa atau paper book. Sampai saya menemukan beberapa situs yang menawarkan jasa khsus mencetak photobook, namun harganya bisa dibilang diluar jangkauan dana saya saat itu (saat ini juga) :D. Saya urungkan niatan mencetak ephotobook saya tersebut.

Kedua

Berbekal informasi dari Romli yang memiliki saudara yang memiliki percetakan, saya diberi informasi harga jika mencetak dalam kertas ukuran A3 itu akan lebih murah jika semakin banyak. Lalu saya mencoba menanyakan harga perlembarnya dalam order minium kemudian mengalikannya secara kasaran tanpa adanya potongan. Ternyata untuk satu buku masih cukup mahal perlembarnya.

Ketiga

Belajar mencari informasi mengenai jenis kertas yang biasa digunakan untuk percetakan membuat saya semakin mudah untuk mengkalkulasikan dana yang tersedia. Beberapa kali saya lewat di depan beberapa percetakan selalu ada promo untuk beberapa jenis kertas cetak yang tersedia di sana. Lalu saya berfikir sejenak, kenapa promo?  jangan-jangan itu kertas jelek sehingga tidak laku, lalu digunakanlah strategi promo untuk meningkatkan penjualan terhadap jenis kertas tersebut.

Baca Juga :  Picture Style Canon - Y| Download

Hasil mencari informasi di internet membuat saya mulai merasakan jenis kertas undangan yang biasa mampir ke kos saya. Kebetulan saat itu Romli baru saja mencetak undangan dari Firman & Jati dalam jumlah ratusan. Segera saya berbincang mengenai harga produksi serta proses finishing-nya. Kualitas cetak berdasarkan dpi juga saya perhatikan pada kertas undangan tersebut, sehingga saya yakin untuk mencetak foto pada kertas-kertas tersebut.

Keempat

Berbekal hasil job motret di nikahannya Romli, kemudian saya juga ingin memberikan kado yang unik, maka saya membuat saja photobook yang lebih ke arah wedding journal pernikahannya Romli. Saya sempat mengusulkan untuk patungan kepada Menik dan Ummu, mereka setuju untuk iuran untuk mencetak photobook tersebut.

Setelah tahap pembuatan ephotobook selesai, tibalah waktunya nekat datang ke percetakan dengan maksud yang saya sendiri masih bingung untuk menyampaikannya kepada operator cetak. Hingga ada bantuan dari seorang operator yang paham maksud saya untuk mencetak ukuran A5 pada kertas A3. Maka dengan bantuan software untuk melakukan imposisi pada file ephotobook saya yang berformat *.pdf maka tertalah dengan baik untuk bolak-baliknya secara presisi.  Tercetaklah photobook saya tersebut dengan kertas ivory 260 yang saat itu saya pilih karena sedang promo :D.

Kerepotan terjadi setelah dicetak :

  • Ternyata proses penataan imposisinya tidak menganut format “cut and stack” sehingga perlu mengurutkan halaman secara manual pada 2 ekslempar photobook tersebut setelah dipotong menjadi A5 dari cetakan yang menggunakan ukuran kertas A3 (repot).
  • Entah mesin cetaknya atau jenis kertasnya, saya kurang puas dengan kualitas cetaknya (serakah).
  • Saya melupakan sampulnya, alhasil jenis sampulnya sama dengan jenis kertas isinya (telak).
  • Saya tidak memikirkan hendak menggunakan jenis jilid seperti apa, padahal lebih rapi menggunakan jilid lem, namun karena ketebalan 124 halaman pada kertas ivory 260 membuat saya terpaksa menggunakan jilid spiral (hasilnya kurang menarik)
Baca Juga :  14 Tips Memotret Saat Musim Hujan

Hasilnya setelah selesai, saya cukup puas dan sudah menemukan cara selanjutnya untuk mencetak ephotobook saya selanjutnya. Bagaimanapun juga, ini adalah ephotobook terakhir saya yang saya susun, namun saya cetak pertama dari kesekian ephotobook saya.

Kelima

Berbekal pengalaman sebelumnya, saya memilih jenis kertas lain yang lebih tipis dan akan lebih murah perlembarnya jika akan mencetak dalam jumlah yang cukup banyak. Ephotobook edisi Gunung Kemiri menjadi sasaran ekspreimen saya selanjutnya untuk dicetak.

Saya membawa photobook pernikahan Romli yang saya cetak sebelumnya untuk menjembatani ide saya kepada operator cetak yang berbeda dengan tempat sebelumnya saya mencetak. Untuk kali ini lebih enak karena disediakan contoh kertas dan contoh finishing, serta tabel ukuran font ketika dicetak pada ukuan kertas A3. Maka saya pilih dengan spesifikasi kertas Artpaper 150 yang lebih tebal dari kertas majalan biasa, kemudian jilid lem dengan sampul hardcover.

Menunggu sekitar 3 hari, maka akhirnya photobook edisi Gunung Kemiri selesai. Sebuah kepuasan tercapai lagi dengan kualitas cetakan serta finishing yang rapi membuat saya kecanduan untuk mencetak ephotobook saya yang lainnya.

Keenam

Hingga saat ini sepertinya sudah ada belasan ephotobook saya yang dicetak dengan beragam jenis kertas dan jenis sampul, semuanya saya lakukan untuk menemukan jenis kertas dan proses penjilidan yan sesuai. Tentu saja saya sesuaikan dengan harga produksi serta pengemasan yang menarik. Dari beberapa ephotobook yang saya cetak, ada yang menghasilkan ucapan terima kasih, ada juga yang menghasilkan rupiah.

Baca Juga :  Sharing Bersama Fotografi Jurnalistik bersama Buletin PIONER

ghozaliq-ephotobook-1

Terakhir

Bagaimanapun juga saya menyukai proses yang saya jalani untuk mencari tahu sendiri bagaimana untuk mewujudkan impian kecil untuk membuat buku sendiri, mencetaknya sendiri dan sesekali menawarkan jasa saya ini kepada klien-klien saya ini.

Jangan sampai jemari kita terbiasa mengusap layar untuk menggeser foto, namun biasakannlah jemarimu untuk bergerak memisahkan kertas agar tak ada halaman yang terlewat. Sentuhan fisik itu akan lebih menggerakan antusiasmu pada warna CMYK daripada hanya menatap satu benda dengan layar milyaran warna.

“tetap kreatif, tetap berkarya dan tetaplah merasa” -ghozaliQ-

Jika Berkenan, silahkan Anda menikmati beberapa karya saya pada halaman photobook.

4 COMMENTS

Leave a Reply