Menutup Mimpi Kecil dalam Pendakian Gunung Slamet via Bambangan

Sudah sejak lama saya ingin melakukan pendakian ke Gunung Slamet, namun baru bisa melakukannya di penghujung tahun 2015 silam. Saat saya melakukan pendakian tersebut, status Gunung Slamet juga baru dibuka untuk umum setelah ditutup karena aktivitas vulkanik sekitar 2 tahun lamanya.

Pendakian Gunung Slamet ini sebenarnya merupakan sebuah mimpi kecil saya sejak tahun 2010. Saya membuat daftar 7 puncak di Jawa Tengah yang ingin saya daki, ingin membaca kisah mimpi tersebut? Silahkan menuju ke artikel Pendakian 7 Gunung di Jawa Tengah, Mimpi Kecil yang Akhirnya Terwujud. (maaf, link belum siap)

Saya mendaki Gunung Slamet bersama Harno, rekan pendakian yang beberapa kali melakukan pendakian bersama. Saya masih ingat kalau pertama kali kami mendaki bersama adalah saat mendaki Gunung Lawu pada tahun 2013.

Artikel mengenai pendakian kali ini mungkin tidak akan seperti cerita pendakian pada umumnya, saya akan lebih sering mengangkat unek-unek saya selama pendakian ini. Walaupun saya baru sedikit makan garam dalam lautan pendakian, namun setidaknya saya cukup merasakan masa-masa pendakian sebelum dan sesudah film lima cm tersebut.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Petakilan seperti ini terkadang membuat saya rindu berekspresi.

Singkat cerita, kami berdua berangkat menggunakan sepeda motor Supra X 125 dari kos saya di Condongcatur, Sleman. Memilih jalur selatan hingga akhirnya berbelok ke utara saat berada di Gombong yang mengantarkan kami ke Gandulekor, lalu Klampok hingga akhirnya sampai di Kabupaten Purbalingga.

Kami memilih jalur pendakian via Bambangan, dipilih karena jalur ini memiliki rute terpendek dan basecamp yang paling mudah dicapai dari lokasi kami. Sebenarnya ingin mencoba via jalur Guci, namun rasanya terlalu jauh jika kami harus mencapai Kabupaten Tegal terlebih dahulu.

Saat itu kami mendaki ketika libur natal, saya berfikir bahwa dengan status Gunung Slamet yang menyandang sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah, bahkan tertinggi kedua di Pulau jawa, maka jumlah pendaki akan tidaklah sebanyak gunung-gunung dengan ketinggian di bawahnya.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Foto ini diambil saat perjalanan pulang, baru pagi saja sudah banyak pendaki, apalagi kalau siang.

Setidaknya saya berharap kami tidak akan kesulitan ketika akan membuka tenda nanti. Saya kaget ketika hendak mencapai basecamp, rupanya sudah terlihat ada banyak sepeda motor yang terparkir di sini. Kami dicegat oleh seorang warga desa untuk diarahkan ke tempat parkir yang berada beberapa meter di bawah basecamp. Di tempat itulah kami diberi karcis untuk ditukar dengan uang tunai.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Ini lho tiket yang ternyata eh ternyata masih Peraturan Desa, tiket pendakiannya malah disobek-sobek sampai kecil sama petugas loket, duh.

Total Rp.25.000 kami keluarkan, dengan rincian Rp.10.000/orang dan parkir motor Rp.5.000. Lalu kami berjalan ke basecamp yang mudah dikenali dengan banyaknya umbul-umbul, salah satunya adalah SAR. Kami masuk ke dalam basecamp, beristirahat sejenak sembari berkemas ulang sebelum melapor untuk mendaki.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Puncak Gunung Slamet dilihat dari basecamp resmi, foto diambil saat hendak mau pulang.

Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk membagi beban yang seimbang. Saat itu saya membawa tas carrier Cozmeed Chumbu x60, sebagian besar peralatan saya juga sudah masuk ke dalam kategori ultralight, jadi sudah tidak berjubel-jubel seperti pendakian saat masih menggunakan tas carrier Consina Alpinist 70+5.

Dalam pendakian kali ini, saya tidak membawa Nikon D3100 bekas yang baru saja saya miliki saat itu. Saya ingin pendakian ini berjalan praktis, jadi saya hanya membawa Nokia Lumia 920. Walaupun hanya beresolusi 8 Megapiksel, namun hasilnya benar-benar memuaskan untuk travelling.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Di sini, di pintu itu, dekat meja yang dijaga oleh mereka, saya berdekat kecil, tanpa diberi jawaban yang menjelaskan semuanya.

Saat kami hendak keluar dari basecamp, ada sebuah meja yang mewajibkan pendaki untuk melapor dan menuliskan nama serta nomor seluler. Saya sempat bingung, kenapa tadi ketika di tempat parkir kami hanya diberi tiket saja tanpa dimintai informasi dasar ptendaki.

Baca Juga :  Golden Story & Golden Sunrise Saat Pendakian Gunung Sinabung

Seusai saya menuliskan data Saya dan Harno, kami disodori 2 buah lembar kertas kecil yang segera saya kenali sebagai tiket. Angka yang tertera pada masing-masing tiket adalah Rp.5.000. Lalu saya bertanya kepada petugas yang ada di depan saya, saat itu beliau menggunakan seragam SAR, lengkap dengan topi.

“Lho, kenapa ditarik tiket lagi? Tadi di bawah sudah saat parkir” tanya saya dengan pelan

“Ya sudah, kalau tidak mau bayar di sini tidak apa-apa, silahkan naik, tapi kalau nanti ada apa-apa, jangan panggil kami untuk menolong” Jawab beliau dengan nada keras dan tatapan mata yang tajam

Akupun terdiam, segera berfikir cepat, akhirnya kami membayar tiket untuk kedua kalinya tanpa berucap apapun hingga meninggalkan meja tersebut. Bukan masalah bagi kami dengan nominal Rp.10.000 tersebut, namun kami hanya perlu penjelasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Di bawah sana itu, setelah jalan menikung, kami dicegat pemuda desa yang mengandalkan selembar kertas hasil peraturan sepihak Peraturan Desa.

Kasus double tiket tersebut yang jelas tidak hanya dialami oleh kami, namun oleh ribuan pendaki yang mendaki saat itu.

Lalu kami berjalan meninggalkan basecamp dengan petugas SAR yang sepertinya lupa akan kode etik ketika beliau dilantik. Sebelum melintasi gapura pendakian, ada sebuah pos pemeriksaan tiket, saya kira hanya diperiksa saja, malah disobek hingga menjadi sobekan kecil oleh penjaga loket tersebut. Wadidaw

Saya melongo, “lha, kok malah disobek-sobek kecil kayak gitu Mas?

“Iya Mas, biar gak bisa dipakai dua kali” jawabnya cengengesan

“Padahal niatnya mau saya simpan Mas sebagai kenang-kenangan” jawab saya lemas.

Lalu saya sempat bertanya mengenai kondisi double tiket yang ada pada saat itu, penjaga tersebut menceritakan bahwa ketidaksepahaman antara warga dan pengelola basecamp pendakian. Sehingga masing-masing merasa memiliki hak atas uang yang dibawa oleh para pendaki.

Jadilah ribuan atau bahkan puluhan ribu pendaki yang menjadi korban karena hal receh yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk di depan secangkir kopi. Inti masalahnya jelas terlihat, UANG.

Saya juga mendapat cerita dari rekan yang baru berkunjung ke Gunung Slamet via Bambangan pada awal tahun 2019. Rekan saya bercerita bahwa sekarang ada tiket yang berjudul “Slamet view”, sebuah tiket yang sia-sia sebenarnya, seperti tiket berlapis saat hendak datang ke basecamp Mawar di Gunung Ungaran. Oh, nasib pendaki kini dianggap sebagai turis yang harus melintasi berbagai gerbang tiket.

Lanjut ke cerita pendakian kami, sebenarnya tidaklah ada yang spesial atau sangat membektas seperti pendakian-pendakian yang saya lakukan sebelumnya. Mungkin karena terlalu ramai, jadi saya kurang bisa menikmati di tiap ruas jalur pendakian.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Di sini, tiket pendakian kami disobek-sobek sampai kecil-kecil, seperti takut sekali kalau tiketnya dipakai dua kali. Saya jadi gagal membawa pulang tiket tersebut untuk disimpan.

Jujur, ini adalah salah satu pendakian teramai yang pernah saya lalui. Bukan hanya jumlah pendaki yang kami temui, namun hilir mudiknya tim SAR dengan seseorang yang berada di dalam selongsong kain yang dikaitkan pada sebilah bambu besar. Saya hitung, ada sekitar 7 orang yang di bawa turun oleh tim SAR pada saat itu. Jumlah yang fantastis, ada apa sih sebenarnya hingga ada korban yang harus ditandu oleh tim SAR.

Saat ditanya, tim SAR tersebut menjawab 2 jawaban, antara kaki yang terkilir atau kondisi pendaki yang sakit. Saya tidak banyak berkomentar, semoga mereka cepat sembuh. Saya banyak menjumpai pendaki yang mendaki dengan sandal jepit serta kostum untuk ke mall. Lanjuutt….

Baca Juga :  Bromo, Bukan Sunrise Tujuanku

Setahu saya, di Pos 3 ada sumber air yang dulunya bisa digunakan oleh pendaki, namun saat bertanya kepada penjaga di gerbang pendakian, lebih baik mengambil air di Pos 5 saja. Sumber air yang ada di Pos 3 katanya telah tercemar oleh bangkai babi di aliran hulunya. Hmmmtt…..lantas kami pendaki membayar Rp.15.000 tiap orang itu untuk apa kalau tidak ada perawatan jalur dan sumber air untuk pendaki.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Jalan setapak menuju Pos 1
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Hampir sampai di Pos 1

Perjalanan dari Pos 1 hingga ke Pos 5 tidaklah terlalu berat, selain hampir tiap pos awal ini tersedia warung, juga jalur yang mudah dikenali. Untuk tanjakannya ya seperti gunug pada umumnya lah, terasa berat bagi mereka yang jarang mengolah fisik.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Ada warung, saya belum terbiasa saja rasanya melihat ada warung di jalur pendakian.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Warung di Pos 2
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Di Pos 3 tidak ada warung.

Kami mendapat himbauan untuk tidak membuka tenda di Pos 4, karena sering dianggap sebagai Pos yang angker untuk bermalam. Saat berada di Pos 4 malah kami mendapati ada banyak tenda yang sudah berdiri di sini. Kami memutuskan untuk membuka tenda di Pos 5 saja karena menurut GPS Garmin 64s yang saya bawa, jaraknya masih bisa kami tempuh sebelum kehabisan tenaga.

Akhirnya kami sampai di Pos 5, sudah ramai ternyata di sini. Hari sudah gelap saat kami mencoba mencari sepetak tanah untuk mendirikan tenda. Saya membawa Eiger storm 1 yang berkepasitas 2 orang, jadi lahan datar kecil-pun bukan masalah bagi tenda saya ini.

Kondisi Pos 5 benar-benar ramai orang hilir mudik, saya tidak bisa berisitrahat dengan tenang. Malam hari saya memutuskan untuk membuat susu hangat dan memakan sosis untuk membuat perut terasa kenyang dan hangat.

Mungkin jika kami datang lebih awal sebelum gelap, kami bisa memilih untuk mendirikan tenda di tempat yang lebih jauh tenang dan jauh dari kebisingan.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Sempat malas-malasan sebenarnya mau naik ke puncak, inginya tidur sampai siang, hahaha

Pagi harinya kami tidak berniat untuk melakukan summit attack, bahkan kami malas-malasan di tenda, enggan melepas kehangatan sleeping bag kami. Namun akhirnya kami keluar tenda dengan hari yang sudah terang.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Seingat saya ini adalah Pos 6, tak ditemui warung di sini.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Pos 7, sebuah gubuk yang tidak ada warungnya.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Berbalik arah sejenak, melihat matahari yang masih tertutupi.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Pos 8, foto diambil saat perjalanan turun.

Masih ada 4 pos lagi yang harus kami lalui sebelum sampai ke puncak. Saat melintasi Pos 6 hingga 8, rupanya di lokasi tersebut tetap masih terlihat tenda pendaki yang berjubel di sela-sela pepohonan. Hanya di Pos 9 saja yang hanya ada 2 buah tenda. Terlalu memaksa rasanya jika mendirikan tenda di Pos 9 jika melihat lokasinya yang sangat terbuka dan berada di kaki lereng.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Pos 9, sangat tidak direkomendasikan ya membuka tenda di sini. Selain sangat terbuka, ada resiko juga tendamu disatroni bebatuan dari atas.

Medan dari Pos 9 hingga ke puncak berupa lereng curam dengan tanah terbuka yang diselingi bebatuan yang mudah lepas. Cukup menguras tenaga dan kewaspadaan ketika berjalan di sini. Menjaga pijakan agar tidak membuat gugur bebatuan, serta menengadah ke atas untuk bersiap menghindar ketika ada pendaki ceroboh yang asal melangkah.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Makin naik, makin capek, hahaha
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Lautan awan sudah di bawah sana

Alhamdulillah, kami berdua akhirnya bisa sampai di titik tertinggi Pulau Jawa tengah. Pemandangan cukup cerah saat itu walaupun masih ada gumpalan yang berada di bawah kami. Beberapa pendaki juga terlihat merayakan selebrasi di Puncak Gunung Slamet.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Gunung Ciremai terlihat jelas di bagian barat sana.

Saya dan Harno juga tidak melewatkannya, berfoto sembari menikmati cemilan yang kami sematkan di dalam tas. Pada sebuah kesempatan, Harno sempat meminjam bendera Merah Putih kepada salah seorang pendaki. Angin bertiup cukup kencang saat itu, sehingga bendera bisa berkibar dengan sempurna. Gagah.

Baca Juga :  Tanam Pohon di Kedah Bersama Mr. Jali dan Polisi Hutan Taman Nasional Gunung Leuser
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Saya orang Indonesia.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Nulis salamnya untuk rekan-rekan guru olahraganya, dulu pas di Merbabu malah nulis salam untuk Karang Taruna di desanya.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Ikhlas dan Yakin saja sebenarnya tidak cukup.

Beruntung sekali dalam pendakian ini saya membawa GPS, sangat membantu dalam memperkirakan jarak serta pengambilan keputusan terkait pendakian. Jika Anda masih belum memahami bagaimana GPS sangat membantu dalam pendakian, silahkan menuju artikel 10 Manfaat GPS untuk pendakian gunung.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Benda kecil yang sangat membantu pendakian saat itu.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Kaos yang hampir selalu saya pakai ketika naik-naik ke puncak gunung, terima kasih Mas Bebek 😀
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Di belakang Harno banyak pendaki yang juga ingin bersantai usai berada di puncak

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menuntaskan mimpi kecil saya sedari 2011. Saat itu saya bermimpi untuk menapaki Tujuh Puncak Jawa Tengah yang saya buat sendiri daftar gunungnya. Jika Anda penasaran dengan kisah tersebut, silahkan berkunjung ke artikel Mimpi kecil menapaki tujuh puncak di jawa tengah. (link belum siap)

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Mari turun saja sebelum hari beranjak lebih dewasa.

Tak berapa lama, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Perjalanan turun tentu saja memiliki resiko untuk medan dengan lereng curam nan berbatu. Kami harus berjalan dengan pelan guna menjaga langkah agar tidak membuat longsor bebatuan.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Kabut mulai nampak, dan saya benci ketika bertemu kabut di puncak yang berbentuk kerucut.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Alhamdulillah, kabutnya sudah menghilang.
Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Inmemoriam.

Tidak perlu waktu satu jam hingga akhirnya kami sampai ke tenda kami di Pos 5. Kami bersantai sejenak di tenda kami sebelum berkemas, melemaskan kaki serta mengeringkan keringat. Lalu datang seorang bapak dengan pikulan bambu di pundaknya.

“Gorengan, gorengan, ketupat, ketupat” teriaknya lantang saat sampai di Pos 5

Saya setengah kaget, karena warung hanya saya jumpai di Pos 2 saja. Mungkin beliau melebarkan jangkauan pasar hingga ke Pos 5 atau mungkin ke atasnya dari Pos 2.

“pintenan Pak?” tanya saya kepada beliau mengenai harga masing-masing item yang dijual.

“sewunan Mas”

Seribu rupiah untuk gorengan hangat dan ketupat pulen di ketinggian seperti ini adalah harga yang sangat murah bila melihat tenaga yang harus dikeluarkan oleh beliau. Saya membeli beberapa item daganganya bapak terssebut untuk dinikmati bersama Harno.

“Baru naik ya Pak?” tanya saya sembari menerima uang kembalian

“sudah tiga kali Mas hari ini, lagi ramai” jawabnya disertai raut wajah yang menggambarkan rejeki yang didapatnya hari itu.

“alhamdulillah Pak, laris”

Saya melirik jam tangan saya, baru pukul 13.00 WIB saat itu. Kerja keras memang tidak pernah menghianati hasil.

Bapak itu mengemasi barang dagangannya untuk membuka lapak di tempat yang lebih lapang di dekat pondok Pos 5. Beliau pamit dan saya mengucapkan terima kasih.

Akhirnya saya dan Harno memutuskan untuk segera turun untuk menghindari hari gelap saat perjalanan. Kami turun dengan bergegas karena tenaga sudah terisi kembali. Beban tas juga sudah banyak berkurang.

Tiada drama dalam perjalanan turun, semua berjalan lancar dan tanpa kendala. Sesekali menyapa pendaki yang menyapa. Tidak semua pendaki menyapa, terutama mereka yang lupa sedang ada dimana.

Hujan sempat turun saat kami berada di Pos 2, namun tidaklah lama, sepertinya hanyalah gerimis kabut yang biasa muncul di ketinggian. Kami sempat membuka flysheet untuk berteduh seadanya. Begitu gerimis mengecil, kami langsung bergerak menuju ke Pos 1.

Kami mendapati gelap saat berada di Pos 1, alhamdulillah, tinggal sedikit lagi sampai di basecamp. Perjalanan dari Pos 1 terasa lebih terang, karena sudah jauh dari rimbun pohon. Kami berjalan di jalan perkebunan yang biasa digunakan oleh warga yang berprofesi sebagai petani.

Alhamdulillah, saat adzan Isya kami sudah melewati gerbang pendakian. Segera melipir ke warung terlebih dahulu untuk mengisi perut sebelum kami beristirahat di basecamp. Teh hangat dan nasi goreng mewarnani malam yang dingin nan melelahkan saat itu.

Kami memutuskan untuk menginap di basecamp malam ini, lalu melakukan perjalanan pulang esok pagi saja. Sehingga badan akan lebih bugar untuk melakukan perjalanan. Malam turun dengan cepat, pagi segera berkunjung, dingin tetap melekat.

Sebelum mengakhiri artikel ini, perkenankan saya untuk mengunggah video singkat saat berada di Puncak Gunung Slamet dan perjalanan turun menuju Pos 9. Serius, benar-benar video yang singkat, hehehe silahkan ditonton di bawah ini ya.

Bismillah, perjalanan panjang akan kami tempuh kembali. Terima kasih Harno, telah menjadi rekan pendakian di beberapa perjalanan. Mungkin sekitar 5 kali saya mendaki gunung bersama Harno. Kelak mungkin kami bisa membawa keluarga masing-masing untuk diajak bertualang bersama.

Pendakian Gunung Slamet via Bambangan
Sampai jumpa lagi Harno, alias Gentong ahahaha

Tetap jaga sikap dan jaga kebersihan, baik saat beraktivitas di luar ruangan atau dalam kehidupan sehari-hari. Salam lestari.

2 COMMENTS

    • Ada Mas, rencana mau tanam Pohon Rengganis yang kedua.
      Gunung Prau gimana? Via Wates, tapi ya paling agustus akhir /September, menedekati musim hujan pokoke,,,

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam