Mudik 2015 : Rutinitas Peradaban Tahunan

66
views
P_20150715_055021_DF
Tas berisi penuh titipan dan kerjaan 😀

Hari ini saya telah menunaikan kegiatan mudik, iya pulang ke kampung halaman yang saya sangat hafal nomor halamannya. Tahun 2015 ini adalah tahun ke dua saya mudik dari Sleman, Yogyakarta ke Banjarnegara, Jawa Tengah. Menaiki sepeda motor menjadi pilihan saya sebagai anak kos serta anggaran dana yang memang ramping. Waktu pagi hari saya gunakan sebagai ruang waktu saya untuk menuju ke Banjarnegara dengan alasan jalan yang masih lenggang dan matahari yang belumlah begitu sombong.

Tas Carrier Cozmeed Chumbu x60 saya lekatkan sejajar dengan susunan tulang belakang saya. Tas tersebut berisi titipan yang menurut saya isinya tidaklah memiliki karakter mudik lebaran. Isinya adalah sebagai berikut :

  • Sleeping Bag JWS kawe titipan,
  • Buku novel Dilan 2 yang sudah dipesan si bungsu,
  • Buku novel Assasin Creed yang sudah ditungguin kakak,
  • Kumpulan Majalah National Geographic Traveller yang sudah ditungguin kakak juga,
  • Tupperware pinjeman yang belum dibalikin,
  • 2 gulung plastik sampul yang seharusnya nyari di Banjarnegara juga ada,
  • Dogle bluetooth buat netbook kakak,
  • Asus zenfone titipan babeh yang masih mulus beserta tutup baliknya,
  • Seperangkat komputer jinjing dan tetek bengeknya guna pura-pura mengerjakan kerjaan,
  • Kumpulan hasil print journal penelitian dengan tujuan dibaca liburan ini,
  • Buku toefl dengan harapan bisa dipelajari liburan ini,
  • Tumpukan undangan nikahan yang teman yang harus saya sebarkan secepatnya,
  • Buku sketsa ukuran a5 dan pasukannya untuk mengobati kurang kerjaan nanti kalau di rumah,
Baca Juga :  Merasakan Sensasi Arung Jeram di Sungai Serayu Banjarnegara

Berbekal gravitasi yang cukup, maka peletakkan tas tersebut terasa mantab menempel di jok belakang motor yang saya naiki tersebut. Ruter awal yang saya tuju adalah bergerak memotong lurus ke arah barat dari Jalan Kaliurang, tegak lurus dengan Jalan Tentara Palagan, hingga tembus di Jalan Magelang di perempatan Lapangan Denggung. Saya memilih rute tersebut selain lebih dekat, juga lebih sepi dan rasanya memang lebih sedikit menemui lampu merah. Bergerak ke arat barat laut di daerah Tempel sebelum melintasi jembatan perbatasan antara Jawa Tengah dan Yogyakarta. Jalan masih cukup lenggang dari pemudik pagi tadi, namun masih saja saya harus tetap berkonsentrasi penuh terhadap pengguna jalan yang lain.

Jpeg
Selamat pagi Indonesia 🙂
Jpeg
Sepi, lurus, dan sempit

Sampainya di muntilan, saya mengambil arah kiri agar mendapatkan garis diagonal jalan pintas menuju Candi Borobudur. Kondisi jalan aspal yang halus dan sepi namun sempit membuat laju motor saya harus dalam batasan kecepatan yang aman untuk melakukan pengereman. Saya sempat berhenti di tepi jalan untuk mengabadikan matahai terbit pada persawahan yang telah dipananen.

Laju kuda besi saya kembali memelan ketika menemui pasar tumpah yang tidak terlalu menimbulkan kemacetan. Saya menemui jembatan darurat dari bambu yang ada di samping sebuah jembatan yang sedang dipugar, tentu saja ada warga sekitar yang “membantu” pengendara motor dengan menyodorkan nampan plastik untuk diisi seikhlasnya tapi harus ngasih :D.

Jpeg
kalau di jembatan ini motor tidak dipungut recehan

Sampailah di kawasan Candi Mendhut yang pagi itu masih sepi dan beraomakan kabut sejuk membuat saya berhenti sejenak untuk mengambil foto kondisi candi.

Baca Juga :  Lomba Bonjour Hima Biologi UNY 2014
Jpeg
Candi Mendhut dimandikan cahaya pagi

Perjalanan dilanjut melintasi Kawasan Candi Borobudur yang sudah terasa ramai pagi itu walau tidak seramai liburan. Bergerak santai ke arah barat dengan tujuan untuk bisa merapat dengan Jalan Magelang – Purworejo. Saya berhenti pada sebuah SPBU yang biasa saya gunakan untuk mengisi bahan bakar dan sejenak duduk mengistirahatkan badan apabila menempuh perjalanan pada daerah tersebut. Niat hati akan mengisi bensin hingga penuh, namun antrian motor yang terbagi dua antara motor biasa dan motor pembawa jerigen membuat saya menepi dan mengambil panorama persawahan yang memberikan Gunung Sumbing kegagahan pagi itu.

Jpeg
Gagahnya Gunung Sumbing, sayangnya belum saya fokuskan saat jepret 😀
P_20150715_072730_PN
panorama dari tepian SPBU

Saya memilih membeli di SPBU selanjutnya saja di Jalan Purworejo – Wonosobo bila memungkinkan atau nanti membeli satu liter bensin eceran saja untuk menjadikannya rejeki mereka yang menjajakan di pinggir jalan.

Jpeg
Jalan meliuk dan sepi, serta halus, itu idaman sekali 🙂

Perjalanan mulai direpotkan dengan jalur sempit meliuk, padat serta ada beberapa titik ramai karena pasar tumpah saya lalui dengan santai dan tanpa memiliki perasaan tergesa-gesa. Sampailah pada SPBU yang berada di Jalan Purworejo – Wonosobo, segera isi penuh dan meluruskan kaki sejenak di sudut pintu masuk mushola pada SPBU tersebut.

Jpeg
Rehat dulu di SPBU sejenak

Laju sepasang ban karet ini menuju ke arah barat menuju ke arah Kertek, Wonosobo. Sesampainya di Pasar Kertek, Wonosobo saya mengambil jalur alternatif ke arah selatan agar tidak melintasi daerah Kota Wonosobo. Daerah persawahan yang memenuhi ruang pandang di kiri dan kanan saya memberikan nuasanya damai dalam perjalanan saya.

Baca Juga :  Mandi Kerikil Lebih Menegangkan Daripada Mandi Bola
Jpeg
Sepertinya kampung itu damai dan mendamaikan 🙂
Jpeg
Kiri dan kanan isinya sawah semua 😀
Jpeg
Hijau dan biru 🙂
P_20150715_090444_PN
Panorama sawah dan jalan yang berkerikil

Sampai akhirnya saya masuk ke Jalan Banjarnegara – Wonosobo, di mana sudah masuk ke jalan negara yang memiliki karakteristik sempit, jalan tidak rata alias bergelombang, juga dengan bus-bus tanggung yang bisa dibilang ugal-ugalan sedari saya masih di bangku sekolah dasar dulu.

Jpeg
Jalan Wonosobo – Banjarnegara, ramai dan cenderung memerlukan kehati-hatian tinggi

Sampai akhirnya saya masuk di Banjarnegara, tempat di mana saya dibesarkan dan melihat betapa dinamisnya dan flamboyannya dunia ini. Melintasi alun-alun Banjarnegara, terlihat cukup ramai walau saya tidak tahu ada ramai apakah disana :D.

Jpeg
Alun-alun Banjarnegara yang terlihat cukup ramai, iya cukup menurut saya

Akhirnya sampailah di rumah, dengan kondisi selamat walafiat tanpa kurang suatu apapun. Alhamdulillah, masih bisa merasakan berbuka dan sahur puasa di rumah lagi walau di penghujung ramadhan tahun ini. Kembali bersua dengan mereka yang telah menantikan kepulangan saya :D.

Mengisi semangat lagi “bahwa hidup itu sampai kapanpun, tetaplah masih berjuang”.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1436 H dan Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. *shakehand

7 COMMENTS

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam