14 Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula Ketika Memotret Landscape

Memotret pemandangan atau landscape merupakan hal yang mudah sekaligus sulit. Kenapa mudah? Karena pemandangan ada dimanapun selama anda melihat ke luar ruangan. Kenapa sulit? Karena untuk mendapatkan konsep, komposisi, tema dan timing merupakan hal yang perlu dipersiapkan dengan baik. Dalam konteks penyebutan yang sederhana adalah membedakan antara mengambil foto atau membuat foto.

Foto landscape bisa dihasilkan baik oleh professional ataupun oleh amatir. Semua memiliki peluang yang sama ketika memotret landscape, karena memang peralatan untuk memotret landscape tidaklah terlalu banyak seperti bidang fotografi lainnya.

Saya ketika dulu masih baru sekali (kalau sekarang baru saja) dalam dunia fotografi landscape, saya sering melakukan hal-hal berikut di masa awal-awal memotret landscape :

  1. Malas membawa tripot.

Benda satu ini memang sering sekali sengaja ditinggal karena bobotnya dan cukup memakan volume apabila dimasukkan baik di dalam maupun diselipkan di luar tas. Apabila ditautkan ke pundak juga akan menghalangi pergerakan, terlebih apabila ditenteng sepanjang perjalanan. Perlu segenap rasa dan semangat untuk membawa benda ini agar mendapatkan hasil foto landscape yang maksimal. Bila ke pantai mungkin tidak begitu malas membawanya, tetapi lain cerita apabila ke gunung yang notabene sudah terasa berat duluan di perbekalan.

Tripod pertama saya di Puncak Gunung Sinabung
  1. Pergi tanpa membawa filter untuk memotret landscape.

Filter yang biasanya menjadi default semua yang memiliki kamera dalah filter UV. Jujur saja, saya sampai sekarang tidak bisa mengetahui fungsi utama dari filter ini selain memang hanya untuk menghindari goresan pada permukaan depan lensa. Filter wajib bagi para fotografer landscape adalah filter CPL, ND, dan GND. Ketiga filter tersebut menghasilkan efek yang belum bisa ditandingi oleh olah komputer, karena memang ada perekaman secara teknis, bukan secara digital. Filter CPL biasanya selalu terpasang di depan lensa fotografer landscape.

Baca Juga :  Asal ikut Lomba Foto OTS Sleman 2015
Tanpa filter, sehingga harus menkompensasi exposure, sehingga terasa overexposure
  1. Satu lokasi hanya dikunjungi satu kali.

Ketika diajak kembali mengunjungi seuatu tempat untuk kedua kalinya saya seringkali menolak dengan alasan “ah sudah pernah, yang lain saja”. Ternyata dengan mengujungi suatu tempat lebih dari sekali, kita akan lebih paham dan akan lebih mengeksplor lokasi tersebut. Berbeda musim merupakan hal yang terbaik untuk dijadikan alasan mengunjungi suatu lokasi.

Entah kapan saya bisa kembali lagi ke sini, Pantai Kasih di Pulau Weh
  1. Memotret dari titik sejuta umat.

Biasa melihat foto teman anda di Pananjakan dengan latar belakang Gunung Bromo? Atau mungkin juga di puncak Gunung Kelimutu? Perhatikannlah, pasti selalu dengan posisi dan latar belakang yang itu-itu saja. Seiring dengan rasa “bosan” dengan melihat hal seperti itu yang berulang di beranda media social, maka saya mulai sering melipir ke suatu titik yang jarang orang datang ke titik itu untuk memotret.

  1. Tidak melakukan riset sebelum melakukan perjalanan.

Asal pergi merupakan kebiasaan buruk yang sering saya lakukan dulu. Berbekal ajakan teman-teman dengan iming-iming gambaran suatu lokasi yang mungkin berbeda dengan konsep imajinasi saya. Dalam perjalanan menuju suatu lokasi juga cenderung asal sampai, tanpa koordnisasi yang baik selama perjalanan. Hal-hal tersebut bisa kita hindari dengan melakukan riset, baik riset sederhana atau mendalam. Penggunaan mesin pencari dengan menggunakan smartphone bisa dijadikan riset sederhana ketika kita akan melakukan riset sederhana. Untuk riset yang mendalam, anda bisa degan membaca buku atau literature lainnya, atau bahkan anda bisa menyanyakan kepada teman anda yang pernah mengunjungi lokasi tersebut.

  1. Peralatan dianggap sebagai segalanya.

Memang dalam hal elektronika, semakin baik alatnya maka akan memberikan hasil yang baik secara teknis. Konsep tersebut sempat saya anut beberapa saat ketika membandingkan hasil foto saya dengan hasil foto para fotografer professional. Akhirnya saya menemukan bahwa peralatan yang baik tanpa didukung penguasaan teknik fotografi juga akan menghasilkan foto yang biasa-biasa saja. Sebaliknya, jika menggunakan peralatan yang sederhana didukung dengan teknik fotografi yang baik, maka akan menghasilkan foto yang nyaman untuk dipandang.

  1. Pergi memotret dengan orang yang tidak hobi memotret.
Baca Juga :  Review Singkat Kamera Olympus EPL-2

Ini salah satu hal yang sering membuat saya untuk pergi memotret sendirian. Dahulu ketika pergi dengan membawa kamera, saya biasanya punya sedikit waktu untuk memotret landscape dan sisanya hanya memotret teman-teman yang pergi bersama saya. Ketika saya sedang sibuk memotret, biasanya mereka mengajak saya untuk segara berpindah ke tempat yang lainnya. Oleh sebab itulah saya sering memotret sendirian atau pergi bersama mereka yang senang memotret juga. Dengan cara seperti itu maka saya akan memiliki waktu yang lebih banyak untuk memilih komposisi kemudian menekan shutter.

Biasanya cewek yang lebih suka difoto daripada memfoto
  1. Memakai mode Landscape, bukan mode Manual.

Mode Landscape pada dial mode kamera hanyalah mengkompensasi ketajaman dan bukaan lensa yang kecil, sehingga gambar akan tajam dari ujung ke ujung. Mode Manual akan lebih menjanjikan untuk mendapatkan ketajaman dari ujung ke ujung, namun dengan tambahan pilihan berupa pemilihan ISO dan kecepatan rana yang disesuaikan dengan hasil yang anda inginkan.

Gunakan mode Manual, untuk hasil yang lebih optimal
  1. Memotret tanpa menyimpan file RAW.

Memang memotret dengan file RAW akan memerlukan ruang penyimpanan dan waktu pengolahan yang lebih dari file JPG, namun file RAW memiliki kelebihan untuk memberikan keleluasaan dalam membangkitkan warna-warna dan data lainnya yang masih belum mengalami kompresi dari sensor kamera.

  1. Malas menggunakan fitur timer dan shutter release.

Walau di dalam LCD kamera semua akan terlihat tajam, namun cobalah melakukan zoom 100% baik pada LCD kamera maupun melalui layar komputer. Terkadang ada ada goncangan mikro yang disebabkan oleh proses penekanan shutter oleh jari anda, sehingga menimbulkan goncangan yang tidak bisa dikompensasi oleh fitur peredam getaran pada kamera anda.

Baca Juga :  Cara memotret macro dengan murah meriah mudah
Perlu timer dan tripod untuk foto seperti ini jika anda pergi sendiran. Namun anda bisa meminta tolong kepada rekan perjalanan anda.
  1. Melupakan golden hour dan blue hour.

Golder hour dan blue hour adalah istilah untuk menggambarkan kondisi cahaya pada sesaat sebelum matahari terbit dan sesaat setelah matahari terbenam. Waktu ini biasanya terkendala dengan waktu bangun pagi dan waktu untuk beranjak ke bawah atap rumah. Jika ingin mendapatkan hasil landscape terbaik dengan golden hour dan blue hour, maka memerlukan keinginan dan persiapan yang lebih diniatkan ketika memasuki waktu ajib landscape tersebut.

  1. Terpesona dengan pemandangan yang indah hingga melupakan komposisi foto.

Terkadang pantai yang terlampau indah diikuti langit biru cerah membuat sekali jepret merasa sudah mendapatkan foto landscape yang bagus. Iya betul memang bagus, tapi akan lebih baik dan terasa lebih nyaman dilihat ketika kita mempertimbangkan komposisi dalam foto landscape anda.

Indonesia itu memang indah, mari kita jaga keindahannya
  1. Memotret dengan berdiri.

Ketika memotret dengan berdiri, maka foto Anda hanya akan memberikan gambaran yang biasa saja. Cobalah untuk merendah atau menaiki sesuatu agar Anda mendapatkan foto dengan sudut pandang yang lebih unik dan menarik.

Berdiri cenderung menghasilkan foto yang biasa, karena sejajar dengan posisi mata kita pada umumnya
  1. Tidak mempersiapkan peralatan dengan baik.

Persiapkanlah sesuatu secara lebih baik, seperti kondisi baterai yang telah penuh, memori penyimpanan yang cukup, tripot sebagai pembantu kamera anda, pembersih kamera di lapangan, berbagai filter, dan yang penting adalah cemilan dan air minum. 😀

jangan ada yang ketinggalan dan tertinggal

Semoga bagi anda yang baru masuk ke dunia fotografi landscape, Anda dapat menghindari hal-hal yang sudah saya lakukan di atas 😀

Salam jepret 😀

5 COMMENTS

  1. Ya, Mas. Beberapa kali saya jalan sama temen2 yang ga terlalu suka motret (tapi dipotret). Akhirnya ya gitu, serig geser walau belum ouas mottrt. Haha. Kalo soal selera ga bisa saling nyalahin sih ya. Pelajaran buat perjalanan berikutnya aja…dan jalan2 sendirian sering jadi solusi. Merdeka rasanya 🙂

Leave a Reply