Matras aluminium vs matras karet

Matras karet gulungan dan matras aluminium merupakan dua buah jenis matras yang sering kita lihat dipakai oleh para pendaki gunung lokal atau kegiatan luar ruangan lainnya. Mungkin Anda sempat bingung ketika harus memilih menggunakan matras karet gulungan atau matras alauminium.

2 Kiri matras karet, kanan matras aliminium

Bila Anda penasaran dengan harga-harga peralatan gunung yang saya miliki, silahkan menuju ke artikel DAFTAR PERLENGKAPAN ALAT NAIK GUNUNG SAYA

Dalam artikel kali ini akan saya coba jabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis matras tersebut. Perbandingan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya saja, sehingga kebijaksanaan pembaca untuk mencerna materi yang saya sampaikan dalam artikel ini sangat diperlukan.

A. Matras Karet

Kita mulai dari matras karet gulungan yang merupakan matras tertua yang pernah saya kenal.

Adapun kelebihan matras ini adalah sebagai berikut :

  1. Harga relatif murah tergantung ketebalannya, berkisar antara Rp. 20.000 hingga Rp. 100.000 atau lebih. Biasanya semakin mahal semakin tebal dan bagus bahannya, juga mereknya semakin keren untuk dipamerkan, heheehe.
  2. Memiliki dua sisi, sisi luar berupa lapisan berpola dan keras, sedangkan bagian dalam memiliki lapisan halus dan empuk. Lapisan luar berguna untuk mengatasi permukaan tanah yang keras, sehingga lapisan dalam akan semakin nyaman digunakan untuk duduk atau tidur.
  3. Lapisan dalam yang halus dan empuk tersebut juga memiliki daya gesek yang rendah, sehingga ketika kita duduk atau tidur di atasnya maka kita tidak dengan mudah meluncur. Sangat direkomendasikan ketika menemukan tempat mendirikan tenda yang miring.
  4. Ujung matras karet gulungan yang tersisa karena lebih panjang dari tubuh kita, bisa digunakan sebagai bantal karena sifatnya lentur sehingga nyaman untuk menopang bagian belakang kepala.
  5. Matras seperti ini bisa dengan ikhlas kita pinjamkan ke teman kita yang kurang pandai merawat barang sekalipun.
  6. Bisa kita bawa di luar tas, karena sifat lapisan luar yang keras, maka kita tentu tidak perlu khawatir ketika harus tersambar ranting atau sejenisnya.

Matras ini tentu saja memiliki kekurangan, menurut saya adalah kekuranganya adalah sebagai berikut :

  1. Volume dan bobot yang masih cukup kurang pas untuk mode ultralight hiking. Volume yang sudah digulungpun akan masih terasa besar, serta bobot berkisar antara 400-700 gram tergantung jenis bahan dan ketebalannya.
  2. Tidak anti air, sehingga bia air hingga mencapai lapisan dalam matras karet, maka akan merembes dan memerlukan bantuan panas dan angin untuk mengeringkannya.
  3. Tidak mampu menahan kelembapan serta tidak menjaga panas tubuh. Jadi ketika permukaan tanah yang kita gunakan untuk meletakkan matras dingin atau basah, maka kondisi matras karet tersebut akan terasa lembab. Terlebih ketika kita tidur di atasnya, maka suhu badan kita juga tidak dapat terjada oleh matras terebut.
  4. Rawan tertukar, karena warna dan modelnya hampir semua sama maka akan sangat memungkinkan untuk tertukar. Saya pernah ketika memiliki matras merek Eiger dipinjam teman saya untuk mendaki Gunung Semeru, namun ketika dikembalikan kepada saya berubah menjadi matras merek Rei (Rei lokal ya, kalau Rei internasional mah saya mau). Walaupun memiliki ketebalan yang sama, namun grip dari matras merek Eiger yang saya miliki tersebut sangat unik dan teruji.

 

Walaupun tingginya berbeda, namun saat matras aliminium ini terbuka, ukurannya sama dengan 2 matras karet

B. Matras Aliminium

Sekarang kita beralih ke matras aluminium yang sekarang-sekarang ini mulai banyak digunakan para penggiat kegiatan luar ruangan. Kelebihannya menurut saya adalah sebagai berikut :

  1. Super ringan, bahkan sedikit lebih ringan dari satu bungkus mi instan. Silahkan Anda memakai timbangan digital untuk mengukurnya.
  2. Bisa dilipat sesuai keinginan, jadi ketika ingin digulung bisa, dilipat menjadi bentuk persegi juga bisa. Sehingga akan sangat memudahkan ketika sedang dalam proses packing.
  3. Anti air jika masih baru, maksudnya adalah ketika tidak ada lapisan aluminium yang rusak, maka matras ini anti air. Jika terkena tumpahan air, cukup dilap saja, serta tidak akan merembes ke lapisan busa yang ditengahnya.
  4. Fungsi yang paling sangat saya suka adalah kemampuannya dalam menghambat kelembapan dari tanah dan udara sekitar, serta mampu tetap menjaga suhu tubuh saat kita berbaring di atasnya. Imbasnya adalah tubuh kita yang cepat hangat ketika sudah menggunakan sleeping bag yang tepat dan berada di dalam tenda.
  5. Bahkan jika terpaksa, matras aluminium ini bisa Anda gunakan sebagai lapisan tambahan di dalam sleeping bag. Akan sangat terasa hangat karena panas tubuh kita tidak keluar dengan mudah dari sleeping bag.
  6. Saya memiliki matras aluminium yang bolak-balik lapisan aluminiumnya, sehingga akan sangat mempermudah ketika digunakan serta memiliki performa yang lebih baik dalam menghalau dingin.
Beruntung, saya mendapatkan matras aliminium bolak-balik dengan harga yang murah

Kelebihannya memang sangat menggiurkan untuk digunakan di luar ruangan. Namun tetap saja memiliki kekurangan sebagai berikut ini :

  1. Rapuh, iya seperti perasaan *apasih. Memang dari bentuknya yang pipih dan bahan yang tipis membuat matras aluminium ini harus kita gunakan dengan hati-hati. Tidak asal memperlakukannya seperti matras karet.
  2. Licin sekali permukaanya, sehingga tidak cocok digunakan pada permukaan yang miring. Dahulu saya pernah kaget ketika sedang tidur di sabana 1 Gunung Merbabu, teman saya hilang ketika saya membuka mata, ternyata dia berada di kaki saya, terpeleset ketika sedang tidur beralaskan matras ini.
  3. Bunyi yang dikeluarkan ketika digulung cukup menyerngitkan alis, apa ya, memiliki bunyi yang menyebalkan seperti ketika saya mendengar derit streroform yang digesekkan. Tidak selalu, namun terkadang bunyinya cukup bikin ngilu *ini saya yang lebay.
  4. Jika berumur sudah cukup lama, maka akan muncul lapisan udara di antara lapisan aluminium dan lapisan busa. Sepertinya perekat kedua lapisan tersebut tidak bisa bertahan lama.
  5. Tidak bisa dijadikan sebagai alas duduk di permukaan tanah. Karena akan rentan sekali sobek akibat kerikit atau batu tajam. Bila digunakan di dalam tenda juga masih terasa kurang empuk apabila harus kita gunakan tanpa alas tambahan.
  6. Harganya lebih mahal ketimbang mantras karet gulungan. Namun saya beruntung menemukan matras aluminium dengan harga Rp. 70.000 dengan lebar 2 kali matras karet yang memiliki panjang sama, serta kedua sisinya telah terlapisi aluminium. Rata-rata dipasaran harga matras aluminium adalah Rp. 60.000 hingga Rp. 150.000 tergantung dari kualitas bahan dan jahitannya.

 

Diameternya tentu jauh lebih kecil untuk matras aluminium

Mungkin hanya seperti itu saja tentang kesimpulan saya dalam menilai matras karet gulungan dan matras aluminium.

Saya pribadi saja masih suka membawa keduanya ketika memang memungkinkan, matras aluminium saya gunakan sebagai alas ketika berhadapan dengan permukaan tanah, sedangkan matras aluminium saya gunakan untuk alas tambahan ketika tidur untuk menghalau hawa dingin dan menjaga suhu tubuh saya. Bagaimana dengan Anda?

 

Jika ada pendapat lain silahkan sampaikan di kolom komentar untuk saya tambahkan ke dalam artikel.

Salam Lestari dan tetaplah menjaga kebersihan ketika Anda beraktivitas 😀

4 COMMENTS

  1. Menarik… Belum pernah pake matras aluminium sih. Selalu pake yang konvensional, karet. Baca di sini soal kelebihan matras aluminium, kayanya lebih besar mudaratnya. Hahaha. Buat saya pribadi ini 🙂 Lebih rela bawa beban lebih berat dikit, daripada beli lagi karena rusak.

  2. Nah ini kalau pake matras karet trus kehujanan pas dibuka ternyata ada rembesan air, bikin gak enak kalau dibuat tidur rasanya lembab2 gimana gitu. Oh iya matras karet yg keluara vendor outdoor biasanya lebih tebal dari pada matras karet yg dijual di toko asesoris tentara

    • iya lebih tebal, harganya beda juga.
      Saya punya matras tentara, warnanya loreng-loreng khas tentara, dalamnya busa namun dilapisi kain warna terntara. Saya belum pernah menggunakannya saat musim hujan, ukurannya yang tidak praktis itulah yang membuat saya jarang membawanya ketika ke gunung.

      Coba saja ada matras karet yang anti air 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here