Mengikuti Jejak Ulat Sutera di Rumah Sutera, Bogor

Rumah Sutera terletak di pinggir jalan, bukan di tengah jalan. Seperti itulah humor receh ala Pak Ian, pemandu yang mengantarkan kami berkeliling untuk mengikuti setiap proses produksi di Rumah Sutera.

rumah sutera bogor
pintu masuk menuju dunia ulat. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Kami datang lebih lambat sekitar 45 menit dari jadwal seharusnya, hal tersebut yang membuat Pak Ian sering berkata

durasi, durasi, durasi..” yang segera disambut tawa oleh kami.

Area pertama yang kami kunjungi adalah kebun murbei, lokasinya berada di ujung Rumah Sutera. Ada sebagian perserta yang menganggap bahwa ulat sutera dilepas bebas di kebun murbei tersebut, sehingga terlihat sesekali menjaga jarak dengan pohon murbei.

 “Pohon murbei diambil daunnya sebagai pakan ulat sutera, kalau buahnya dimakan pegawainya” Celetuk Pak Ian.

Daun murbei dipanen dari kebun, lalu dibawa ke tempat kandang ulat sutera. Sehingga ulat sutera lebih mudah untuk dikontrol dan dipanen.

Ada 4 jenis pohon murbei yang ada dibudidayakan di kebun tersebut, yaitu jenis Lembang dari lokal, jenis Multi Kaulis dari Jepang, Canva dari India, dan ada jenis Katayana dari Jepang. Untuk jenis daun paling favorit adalah jenis Lembang dan jenis Katayana karena teksturnya lembut.

Daun yang diambil adalah daun yang di atas, jadi ulat sutera suka daun muda” ucap Pak Ian

Ulat sutera makan daun murbei saja, tidak pakai sambal” timpalnya

Untuk daun murbei yang tua, dipanen untuk dijadikan teh. Produk ini bisa dijumpai di galeri produk Rumah Sutera.

Baca Juga :  Goa Seplawan, Tempat Pertapaan Manusia Suci di Kabupaten Purworejo

ada dua jenis ulat sutera, ada yang tahu?” tanya Pak Ian ke rombongan

laki-laki dan perempuan…!” jawabku

salah, yang benar adalah ada ulat sutera muda yang berumur kurang dari 10 hari dan ulat sutera tua yang berumur lebih dari 10 hari” jawab Pak Ian

hhmmmmtt….jadi yang Pak Ian tanyakan, itu jenis atau kelompok umur sebenarnya?” gumamku sembari merasa terjebak pertanyaan tersebut.

durasi, durasi, durasi..” suara itu kembali terdengar

Kami menuju ke rumah ulat yang di dalamnya berisi tumpukan rak khusus yang dihuni oleh ribuan ulat. Di rumah tersebut para ulat diberi makan 4 kali sehari, dimana untuk mencapai umur ulat sutera hingga 1 bulan diperlukan 1,3 ton daun murbei.

Pak Ian menjelaskan ada 4 ciri bahwa ulat sutera akan membuat kokon, yaitu naik dari tumpukan daun, lalu mencari tempat, keluar air liur, dan badan ulat menjadi transparan. Pada dasarnya, kokon berfungsi sebagai perlindungan diri saat ulat bermetamorfosis. Kokon terbuat dari air liur ulat sutera yang mengandung protein.

Rumah Sutera Bogor
Kokon yang bersih dan kencang dipilih untuk proses selanjutnya. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Durasi pembentukan kokon hingga sempurna memerlukan waktu 2 hari 2 malam, saat itulah kokon segera dipanen sebelum terbentuk kepompong sehingga merusak kokon. Dalam proses ini, ulat sutera tidak sampai menjadi larva, karena usai proses peryortiran, kokon-kokon tersebut akan direbus. Jikapun ada kokon yang menjadi kupu-kupu, maka sayapnya tidak bisa bergerak karena lemah.

Baca Juga :  Kunjungan ke Kudus dan Jepara, Dari Pantai Bandengan Hingga Air Terjun Montel

begitulah jalan hidup ulat sutera” celetuk Pak Ian

Rumah Sutera Bogor
Sortir tahap dua, untuk memisahkan antara satu kokon dengan lainnya. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Dalam penyortiran kokon pada foto di atas, kadang ditemukan ada 2 buah pupa di dalam satu kepompong. Kokon tersebut tidak bisa digunakan dalam proses pemintalan karena alur seratnya akan saling menyilang. Ternyata dalam dunia ulat ada istilah sahabat sehidup sekepompong. #eh

Persahabatan Bagai kepompong

Sindentosca

durasi, durasi, durasi..

Rumah Sutera Bogor
Tempat pemintalan serat kokon menjadi benang sutera. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Kami menuju ke ruang pemintalan kokon menjadi benang sutera. Dalam proses ini saya sangat kagum dengan kejelian para pegawai yang ada di sini. Mereka bisa menemukan ujung serat kokon yang kemudian akan digabungkan dengan sekitar 15 kokon lainnya untuk dipintal menjadi benang. Kondisi kokon harus dalam kondisi basah agar lebih elastis dan lebih mudah dipintal.

rumah sutera bogor
kokon yang telah selesai diambil seratnya, akan menyisakan pupa yang bisa dimakan. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Di tempat inilah kokon yang telah direbus segera dipintal, hingga hanya menyisakan pupa. Pupa ini bisa dimakan, katanya 2 buah pupa memiliki protein sebanyak 1 buah telur ayam. Tertarik untuk mencukupi kebutuhan protein harian anda?

durasi, durasi, durasi..

Selanjutnya kami masuk ke ruang penenunan benang sutera menjadi kain sutera. Di sini terdapat alat tenun bukan mesin yang sedang beroperasi. Terlihat sekali penenun lincah memainkan tiap-tiap instrumen alat tenun untuk menghasilkan motif yang diinginkan.

Rumah Sutera Bogor
Memakai ATBM, alat tenun bukan mesin. (dokumentasi : ghozaliq.com)

Per meter berapa harganya di sini?” Tanya seorang peserta kepada Pak Ian

Di sini kami jual seharga Rp.180.000 per meter, asli tanpa campuran sintesis” jawab Pak Ian

Baca Juga :  Sabang, Titik awal dimana keindahan Indonesia dimulai (part 1 of 2)

Wah cukup murah ya” balasnya dengan terkaget

Iya Bu, makanya beli di sini saja, lebih murah dan keaslian terjamin” jawaban S3 marketing tersebut mengundang gelak tawa satu ruangan.

Area terakhir yang kami kunjungi adalah Galeri Rumah Sutera, di sini bisa dijumpai berbagai produk hasil olahan ulat sutera, ada yang setengah jadi, ada juga yang sudah jadi, banyak pilihan. Cocok untuk oleh-oleh kepada mertua agar disayang, cara ini jelas lebih terbukti daripada ngolesin minyak bekas gorengan ke kaki.

Saya juga telah membuat virtual tour 360 untuk lebih memudahkan pembaca untuk berkeliling sejenak di Rumah Sutera. Silahkan dinikmati di bawah ini.

Apakah anda tertarik untuk berkunjung ke Kampung Sindangbarang? atau malah penasaran dengan rasa pupa ulat sutera?

Salam

Ambil hanya informasi, tinggalkan hanya komentar. Silahkan berbijak hati untuk mengisi kolom komentar. Salam