Merasakan Deburan Coban Pelangi di Desa Gubugklakah

Coban Pelangi atau Air Terjun Pelangi berlokasi di Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Diberi nama Pelangi karena ketika sinar matahari sedang berada di sekitar titik kulminasi, akan muncul pelangi di bawah kucuran air terjunya. Bentuk topografi di lokasi air terjun yang berupa lembah dikelilingi tebing tinggi membuat sinar matahari hanya bisa masuk secara langsung dengan sudut tegak lurus.

 

Hamburan air akibat hempasan Coban Pelangi dari atas terburai ke atmosfer di sekitarannya. Hamburan inilah yang ketika terkena sinar matahari akan memunculkan pelangi kecil di bagian bawahnya. Tinggi Coban Pelangi sekitar 110 meter, sehingga pada sampai jarak 50 meter di depan kolam tempat jatuhnya air akan terasa hujan lokal.

Harga tiket masuk tertera di loket pintu masuk pengunjung.

Harga tiket masuk Coban Pelangi adalah Rp. 8000 untuk wisatawan lokal, sedangkan untuk wisatawan luar negeri adalah Rp. 15.000. Cukuplah murah untuk objek wisata yang membuat kita sehat setelah mengunjunginya, sehat secara rohani karena melihat keindahan alam, sehat secara jasmani karena kita harus sedikit naik turun untuk mencapai lokasi air terjunnya.

Petunjuk arahnya sudah jelas dan mudah diikuti.

Jarak dari gerbang hingga ke air terjunnya sekitar 700 meter, kondisi jalan berupa beton dan tanah. Bila Anda mengunjungi Coban Pelangi saat hari libur atau musim liburan, akan ada tambahan fasilitas berkuda untuk pengunjung yang dirasa ingin melipat jarak.

Tanaman di sepanjang jalan terlihat subur dan sehat.

Dalam keadaan normal, jarak 700 meter apabila ditempuh dengan jalan kaki hanya memakan waktu tidak sampai 30 menit sebenarnya. Namun terkadang beberapa dari kita ingin berhenti sejenak untuk melihat ke sekeliling yang masih terasa asri dan sejuk.

Baca Juga :  [Ebook] perjalanan ke nglimut bersama BroNgkos
Jika tidak memiliki alas kaki dengan grip yang baik, maka pegangan tangga ini wajib anda manfaatkan.

Saya sangat menyukai pemandangan dan suasana dari gerbang masuk hingga area air terjunnya. Sekeliling saya hanya ada hijau dan langit biru, sesekali juga terdengar suara burung dan serangga dari kejauhan. Udara di sini benar-benar terasa bersih sekali, sehingga Anda akan betah untuk menarik nafas dalam-dalam ketika melewati tiap jengkal perjalanan.

Jembatan kayu yang akan mengantarkan kita ke seberang sungai sana.

Jembatan sederhana yang terbuat dari bambu menandakan bahwa saya harus berpindah ke seberang sungai. Saya sempat mencelupkan kaki saya ke air sungai tersebut, terasa segar dan dingin di kaki. Jembatan bambu terasa kokoh, terlihat saat rombongan tim blogger Eksplor Desa Wisata Malang melintasinya secara bersamaan.

 

Dari jembatan bambu tersebut, sudah terdengar sayup-sayup air terjunnya. Mungkin karena bentuk tebing di samping air terjun yang membentuk satu arah ke jalur pengunjung, maka tidak heran suaranya bergerak lurus mencari jalan.

Sementara hanya bisa memotret menggunakan ponsel dari atas.

Saya cukup kerepotan saat pertama kali berada di depan Coban Pelangi, karena ketinggiannya tersebut membuat deburan air terasa begitu padat di udara. Beberapa kali saya harus menyapukan kain bersih di depan lensa saya, mengusir dan mengurangi bulir air yang menempel.

 

Setelah merasa kesulitan mendapatkan sudut pandang dari atas, maka saya mencoba turun ke sungai aliran Coban Pelangi. Di lokasi ini ternyata air yang berhamburan lebih terasa seperti hujan, membuat saya beberapa kali harus berbalik arah untuk menjaga kamera saya tetap kering saat mengubah pengaturan kamera.

Baca Juga :  Menapaki Tangga Menuju Grojogan Watu Jonggol di Kulon Progo
Memberanikan diri untuk turun saat memerlukan sudut pandang yang lain.

Sebagian besar foto saya yang didapatkan di Coban Pelangi saat itu masih menyematkan butiran air di depan lensa. Walaupun sebelum menekan tombol shutter sudah saya bersihkan, namun saking banyaknya bulir air di atmosfer membuatnya mudah sekali menempel kembali di depan lensa.

Bulir air terlalu lengket dengan lensa yang saya gunakan, walau sudah dibersihkan sebelum memotret, tetap saja setelah memotret sudah berkumpul sebanyak ini.

Bila Anda penasaran dengan sedikit gambaran di Coban Pelangi, silahkan di simak pada foto panorama 360 berikut ini. Pastikan Anda menggunakan browser yang mendukung untuk memutar foto panorama berikut ini.

 

Waktu paling ideal untuk berkunjung ke Coban Pelangi adalah saat siang hari asalkan tidak hujan. BIlamana hujan, segera tinggalkan lokasi air terjun dan carilah lokasi yang jauh dari sungai.Banyak

 

Lokasi Coban Pelangi ini berada di -8.0115000, 112.8649850, atau silahkan ikuti peta berikut ini.

 

Bila anda ingin berkunjung ke Desa Wisata Gubugklakah, Kabupaten Malang. Silahkan hubungi kontak berikut ini untuk sekedar mendapatkan informasi paket yang tersedia atau untuk melakukan pemesanan aktivitas di Desa Wisata Gubug Klakah

 

Desa Wisata Gubugklakah
Alamat : Desa Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo,
Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Contact Person  : 087859478177 ( Pak Anshori )

 

Tulisan ini dibuat atas perjalanan bersama tim blogger #EksplorDeswitaMalang pada tanggal 14-16 April 2017 pada 4 Desa Wisata di Kabupaten Malang.

18 COMMENTS

  1. Coban Pelangi bikin baper kakakakkaka. Di sana pengen main air, sekalinya nempel air di kaki kok dingin banget. Bagi pecinta curug, pasti ini lokasi disukai. Trek-nya juga nggak sulit tapi lumayan panjang.

    Kenapa kemarin nggak sempat beli gorengan di sini ya 😀

  2. Tiket masuknya masih terjangkau lah ya 🙂
    kemudian jika harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 700meter pun kurasa tidak terasa, tapi entah nanti pas baliknya :p

    Lain waktu bisa dicoba motret lagi pas ada pelanginya mas, pas ada bidadarinya mandiiii
    *uhuk

    • Iya, cukup murahlah walaupun kita masuknya juga gratisan….awkakwka

      baliknya nanjak, bisa disiati dengan diem aja di loket masuk, gak usah turun Mbak…hihihih

      Iya sih, sayangnya adanya Mas Sitam yang masuk frame…akwakwk

    • Tidak diijinkan berada di bawah kucuran air terjun, dan dilarang berada di sungai saat sedang hujan.
      Hal yang tidak disarankan adalah tidak membawa kamera, hahaha

  3. Tahun 2013 aku pernah datang ke sini, saat itu dapat momen pelanginya. Sayang gearnya belum punya yang oke. Haha. Punggungku sampai basah kena cipratannya.

    • Lha itulah, kenapa kita datang gak pas tengah terik ya…hahaha

      wah, berarti gear yang sekarang sudah ok nih, semoga semakin ok.

      Lha emang deburan airnya lumayan gede itu…

  4. aakkk, aku kalo lihat 360 mu berasa balik kesana lagi mas ghozz,

    sebenernya aku masi mencari misteri kapan pelanginya bisa muncul -_-, jadi rasanya bener-bener ke coban pelangi hikss

Comments are closed.