Bersepeda Menyusuri Lekuk Pegunungan di Kabupaten Gayo Lues

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Rute yang saya ambil dari google maps, walaupun tidak akurat, namun cukup bisa menggambarkan secara umum jalur yang saya tempuh.

Perjalanan kali ini saya lakukan dengan bersepeda, mencoba menguras keringat dan lemak yang bersemayam dalam tubuh. Rute bersepeda kali ini adalah menyusuri tepian sungai di sepanjang Kecamatan Rikit Gaib, Kecamatan Pantan Cuaca, Kecamatan Blang Jerango, Kecamatan Tripe Jaya hingga akhirnya sampai pada Gapura Kecamatan Terangun. Kecamatan tersebut terletak di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Sepanjang jalan saya berdampingan dengan sungai yang airnya keruh ini.


Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues acehSaya menggunakan Sepeda Polygon Premiere 3 sebagai transportasi saya, serta Samsung Galaxy Gio sebagai alat dokumentasi. Membawa perbekalan secukupnya dalam tas daypack hitam bermerk Eiger yang saya beli pada tahun 2010. Memakai sandal gunung, kaos oblong yang saya lapisi kembali dengan jaket tipis untuk menghalau hawa dingin yang sering muncul di rute perjalanan saya tersebut.

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Jalan di belakang itu, rawan longsor saat hujan

Saya mulai mengayuh santai di jalan aspal yang paling hanya selebar 3 hingga 4 meter. Terkadang juga saya harus menghadapi beberapa ruas jalan yang hanya ada pasir saja. Beberapa kali saya juga melewati jalan yang amblas atau juga mengindari “ranjau darat” yang sering dipasang oleh lembu dan kerbau di sekitaran jalan tersebut.

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Biru sama hijaunya itu bikin betah

Jalanan di sini memang mengasyikan untuk dijelajahi menggunakan sepeda. Ada banyak sekali guratan alam yang membuat saya sering berhenti sejenak untuk mengabadikannya dalam bingkai digital. Sepi dan juga terasa segar sekali udara di daerah ini, namun juga harus tetap berhati-hati dengan beberapa kendaraan roda dua yang kadang muncul dengan kecepatan tinggi di beberapa tikungan tajam.

Baca Juga :  Bersepeda di Gayo Lues
Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Hutan pinus banyak terdapat di area ini, menjadikan udara terasa segar

Jalan yang saya lewati tidak selamanya landai, sesekali juga ada jalan menanjak serta menurun yang harus saya lewati dengan tabah dan penuh semangat. Beruntung saya memilih sepeda gunung dengan percepatan kayuhan yang bisa saya sesuaikan dengan kondisi jalan yang saya hadapi. Namun bobot sepeda gunung memang tidak cocok untuk jalan menanjak, hanya cocok untuk jalan menurun saja.

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Kayu pinus masih menjadi primadona untuk bahan bakar
Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Jalan kerikil seperti ini cukup memecah kebosanan atas jalan aspal menanjak.

Walau hanya berketinggian sekitar 600 hingga 800 mpdl, namun saya sering menjumpai kabut yang turun membatasi ruang pandang saya. Sehingga saya sering merasa seperti sedang berada di negeri entah berantah. Sesekali juga saya juga melihat anak babi yang menyebrang jalan, sehingga cukup membuat saya kaget. Saya berhenti sejenak, sembari mengamati sekitar, takutnya ada induk dari anak babi tersebut yang berada di sekitaran tempat saya melaju.

Bersepeda terangun tripe jaya pantan cuaca gayo lues aceh
Sampai juga di gapura kecamatan terangun yang sudah rusak.

Setelah bersepeda sekitar 4 jam lebih untuk menempuh jarak sekitar 40 km, saya agak lupa karena perjalanan ini saya lakukan pada tahun 2012, akhirnya saya sampai di gapura Kecamatan Terangun. Mngambil foto sejenak sebagai bukti bahwa saya sudah sampai ke tempat ini. Lalu saya melaju kembali menuju tempat rekan saya tinggal di sebuah rumah kos yang sederhana. Menumpang untuk tinggal dan mandi serta beristirahat untuk melemaskan badan yang sudah saya ajak bersenang-senang ini.

 

Salam Gowes…

3 COMMENTS

  1. wah. gowes di Aceh. Menarik ya Mas. kadang aku pengen merasakan teknik berwisata seperti ini. Menjelajah satu destinasi dengan cukup lama. memuaskan diri agar dapat ceritanya. Tapi itu mustahil. Karena tuntutan waktu dan pekerjaan. Jadi kadang untuk membuat timelapse pun tak cukup. hikz. Pengen mengulang model berwisata seperti yg pnh aku lakukan ke Papua. Nginep di sembarang, dan berinteraksi cukup lama. Apalagi bawa sepeda. Duh.. pasti bakal banyak tulisan yg bisa ditelurkan ya. hehe.
    Aku lho. Belum pernah ke Aceh 🙁 . kalau ke Aceh, aku pengen ke Masjid yg pernah kena tsunami itu. Terus sholat dan sedikit banyak bermuhasabah di sana. asik. hehe

Leave a Reply