Tenangnya Waduk Cacaban, Tegal

3
6
views
Foto0280
waduk cacaban dari pulau kecilnya

#
Foto-foto pada postingan ini memiliki koordinat GPS yang saya peroleh menggunakan fitur geo-tagging pada ponsel android, akurasi vertikal maupun horizontal tidaklah tinggi, namun tidaklah terlalu menyimpang dari lokasi sebenarnya di lapangan.
#

bulan juni 2011, saya melakukan kondangan ke tempat induk semang semasa KKN pada tahun sebelumnya di Kabupaten Batang. Jarak yang cukup jauh membuat saya memilih untuk kondangan sekalian berkunjung ke tempat rekan-rekan yang berada di Kabupaten Tegal. Segera saya meluncur melalui rute via Kabupaten Temanggung dan langsung tembus di wilayah selatan Kabupaten Batang, meluncur meliuk mulus menuju jalur pantura hingga akhirnya saya sampai pada resepsi pernikahan tersebut. Seusai acara resepsi pernikahan tersebut, saya dan rekan se-kondangan ngemil sebentar di alun-alun Kabupaten Batang beberapa saat. Hari mulai beranjak sore, segera saya bergerak ke arah barat untuk menuju Kabupaten Tegal.

Foto0270
rehat sejenak di alun-alun batang bersama rekan seperjuangan 😀

Seingat saya saat itu hari sudah hampir maghrib saat saya sampai di rumah Chandra, melepas lelah dengan teh hangat dan cemilan yang tersaji di meja sederhana tersebut. Malam mulai menyelimuti, datanglah Cengek dan Ganden ke rumah Chandra untuk meramaikan suasana saat itu. Obrolan ringan dan hangat meluncur selancar cemilan saat itu hingga malam cukup larut dan saya bergerak ke rumah Ganden untuk menginap di rumahnya yang berwaktu tempuh sekitar 30 menit menggunakan sepasang karet bundar.

Pagi beranjak siang, kami bergerak ke sebuah waduk yang masih berada di Kabupaten Tegal. Waduk Cacaban, itulah nama dari Waduk tersebut yang sampai sekarang saya masih tidak mampu mengingat kembali jalan untuk menuju ke sana tanpa bantuan GPS [gunakan penduduk setempat] :D.

Baca Juga :  Menyisir Sisi Lain Universitas Negeri Semarang
Foto0272
jalan dari parkiran

Setelah mencapai aera parkir umum, segera kami berjalan kami mengitari waduk cacaban tersebut. Cuaca yang cukup terduh saat itu cukup membuat kami betah untuk sekedar berfoto dan melihat aktivitas warga yang ada di waduk tersebut.

Foto0287
menyusuri tepian waduk cacaban

Berjalan ke anjungan dermaga di waduk tersebut, namun tidak ada kapal yang mau membawa kami secara gratis ke pulau kecil yang berada di tengah waduk tersebut, ya sudahlah tidak apa-apa, gratisan…..siapa juga yang mau membawa kami ini, hahahhaha.

Foto0279
di tepian waduk ada demaga kecil
Foto0276
keep safe 😀

Terlihat juga beberapa warga sedang menjemur jagung di saluran pembuangan air, mungkin karena musim kemarau jadi area tersebut bisa dikatakan bebas dari air.

Foto0288
waduk cacaban terlihat surut
Foto0311
lagi pada nonton apa ya?
Foto0306
pingin ikutan dijemur juga
Foto0304
duduk dulu berlatar langit biru
Foto0301
ada jagung bisa jalan
Foto0298
anda heran? saya lebih

Kemudian kami berjalan kembali sembari membeli minum dan cemilan di sebuah warung kecil yang biasa menjajakan dagangannya di tepian Waduk Cacaban.

Foto0285 (Copy)
pintu air
Foto0294
trio riski

Saat kembali ke area parkir, kami tidak ingin melalui jalan yang sama, sehingga navigasi ngawur dimulai dengan membelah bukit yang ada di depan kami, hasilnya kami muncul di selatan area parkir kami. Segera kami menuju pintu keluar Waduk Cacaban untuk kembali pulang.

Foto0315
ngasal nyari jalan
Foto0318
nemu jalan aspal

Saat mulai menjalankan motor saya, terasa ada yang aneh pada roda depan. Benar hasil investigasi singkat saya tanpa alibi sedikitpun bahwa ban depan saya bocor, maka dengan hati yang lapang saya tuntun motor saya mencari tambal ban kesayangan warga sekitar Waduk Cacaban. Chandra, Ganden dan Cengek terpaksa bonceng tiga untuk mencari tambal ban tersebut. Saya mematikan mesin motor agar meluncur bebas pada jalan menurun saat baru keluar dari area Waduk Cacaban, kemudian pada saat jalan mendatar saya mendorong motor saya saja. Tak berapa lama Cengek kembali dan memberi tahu bahwa didepan sana ada tambal ban motor, kemudia cengek mendorong motor saya dengan kakinya sembari memacu pelan motornya. Sesaat setelah kesulitan mendorong motor menggunakan kaki, barulah saya sadar kalau saya ini mengalami ban bocor, bukan kehabisan bensin. aaaaaaakkk tepok jidat.

Baca Juga :  [Ebook] Perjalanan ke Nglimut (bekas) mahasiswa geo06rafi UNNES
Foto0326
untuk bertemu kios negara angin ini

Setelah selesai menambal motor, kembali ke rumah Ganden melalui jalan sawah becek dan licin yang kemudian akhirnya sampai juga dengan selamat dan sentosa. 😀

Foto0328
lupa kalau belum nyangkul hari ini

 salam jepret 😀


 

 





3 COMMENTS

Leave a Reply