Monjali – Wates dalam kayuhan sepeda

3
16
views
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nostalgia di alun-alun wates 😀

Walau biasa bersepeda dari kos menuju kampus, entah kenapa rasanya kurang puas ketika hanya mengayuh 4-6 km dalam sehari. Akhirnya munculah keinginan untuk bersepeda lintas kabupaten menjauh dari hiruk pikuk kota jogja yang [mulai] berhenti nyaman. Terputuskan untuk menuju Alun-alun Kota Wates, Kulonprogo, DIY. Maka semua saya siapkan malam itu, mulai dari kostum, mantel, dudukan ponsel, bank tenaga, serta logistik. Setelah semua telah siap, saatnya untuk memejamkan mata dengan harapan esok bisa terbangun bersama mentari pagi yang memberi semangat. 😀

Weker sederhana pada ponsel membuat mata saya menatap langit-langit kamar, segera pas foto di kamar mandi dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Persiapan telah maksimal, maka saatnya mengeluarkan sepeda sederhana yang senantiasa menemani hari-hari saya menuntut ilmu.

Rute dimulai dari monjali, menyusuri jalur lambat ring road utara menuju ke barat, terus mengikuti jalan aspal menuju Kabupaten Kulonprogo. Lebih jelasnya dapat dilihat pada peta dibawah ini untuk rute berangkat.

Untitled
Rute perjalanan saat berangkat sekitar 38,5 km

Sempat berhenti di beberapa titik, untuk mengambil beberapa foto dalam perjalanan. Melewati persawahan di tengah jepitan beton, melintasi flyover yang menyuguhkan jalur kereta api dari timur ke barat.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
masih bisa menikmati mentari pagi di persawahan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
flyover gamping, sejenak berhenti
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
jalan untuk ular besi

Setelah mulai masuk ke perbatasan Sleman – Bantul, atau disekitaran daerah Ambarketawang, saya berhenti di sebuah bangunan yang ditumbuhi semak liar dengan lapisan tipis abu kelud yang turun beberapa waktu yang lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Monumen Perjuangan

Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah Monumen Perjuangan Rakyat dan ABRI Melawan Belanda di Daerah Istimewa Yogyakarta. Monument Perjuangan tersebut diresmikan pada 15 Januari 1987.

Baca Juga :  Bromo, Bukan Sunrise Tujuanku
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Bukti pengesahan Monumen Perjuangan

Dari informasi yang terdapat pada Monumen Perjuangan tersebut, disebutkan 27 nama pahlawan clas ke II yang dikenal, dan 14 lainnya yang tidak dikenal.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
prasasti di sebelah kanan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
daftar nama para pejuang yang gugur

Ke 41 pejuang clas ke II tersebut gugur pada tanggal 28 Januari 1949 di Kalimanjung, Ambarketawang, Gamping, Sleman.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
terapit oleh pemukiman
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
menjulang kokoh

Monumen Perjuangan tersebut tampak sudah terlupakan oleh lalu lalangnya kesibukan manusia yang seakan tiada henti berderu di depan Monumen Perjuangan tersebut.

Kembali saya kayuh santai sepeda saya, jalan datar mulai memanjakan mata saya untuk melihat sekitar saat itu. Sampailah di jembatan Sungai Progo, berhenti sejenak untuk mengambil foto dari titik tempat saya berhenti.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
sungai progo dari jembatan
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
lengang tanpa goncangan

Laju bus dan truk yang sarat muatan melintas jembatan tersebut dengan kecepatan cukup kencang, alhasil saya harus berpegangan pada jembatan tersebut agar tidak berpindah posisi saat suspensi jembatan tersebut sedang bergoyang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
kendaraan mulai lalu lalang

Seraya memperkirakan kondisi jembatan cukup lengang dari kendaraan berat, kayuhan pelan saya mengantarkan ke gapura yang seakan menyambut kedatangan saya ke Kabupaten Kulonprogo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
selamat datang di Kabupaten Kulonprogo

Kondisi jalan di Kabupaten Kulonprogo cenderung lebih sepi dan nyaman untuk pengguna sepeda seperti saya saat itu.

Saya mengambil memutar melalui jalur bus dan truk untuk mencapai Kota Wates, untuk mendapatkan jalan yang menurun dan lebar :D.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
tugu potlot (pensil)
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
lebar dan datar, nyaman untuk bersepeda
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
ambil kiri, lewat jalur bus dan truk

Sesampainya di perempatan yang khas dengan sebuah patung, patung tersebut adalah Patung Nyi Ageng Serang yang diwujudkan berupa seorang wanita yang menaiki seekor kuda.

Baca Juga :  Perjalanan dengan Kereta, selalu ada "Cerita"
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
perempatan dengan patung Nyi Ageng Serang di tengahnya

Saya mengambil ke arah utara untuk menuju ke Alun-alun Wates sesuai tujuan awal saya. Hanya memerlukan waktu tidak sampai 10 menit telah sampailah saya di Alun-alun Wates, sebuah tempat dimana dulu saya biasa jogging ketika mempersiapkan fisik untuk pendakian.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
alun-alun wates mode panorama

Melepas jaket, topi serta pelindung yang saya gunakan sebegitunya saya bernaung di bawah rindangnya pohon di pinggiran Alun-Alun Wates. Saya tenggak air mineral serta mengunyah logistic sembari menikmati semboi angin lembut kala itu. Recharge ponsel karena telah cukup lama digunakan untuk tracking berbasis GPS semenjak meluncur dari tempat kos.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
mainan infra merah sebentar ah 😀
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
hijau klorofil menjadi kuning

Tripot dan kamera tidak lupa untuk saya keluarkan guna mendapatkan foto panorama dan foto inframerah saat itu. Mencoba menghubungi beberapa teman yang berlokasi tidak begitu jauh dari tempat saya berpijak saat itu, ternyata ada satu teman yang bisa disinggahi untuk sekedar melepas cerita lama.

Keringat terasa telah cukup kering, kemudian kegiatan berkemaspun segera diselesaikan. Kayuhan santai sesekali berhenti untuk mengambil gambar inframerah ketika melihat hamparan vegetasi di depan mata.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
dulu pernah di sini selama setahun 😀
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
melaju dalam musim gugur #ngarang

Sekitar 1 km dari jalan raya saya tempuh untuk menuju ke rumah teman saya, sesampainya maka segera obrolan ringan tak lupa makanan ringan meluncur tanpa henti. Arloji di tangan kiri mengingatkan saya untuk segera berkemas kembali, jarak tempuh yang masih panjang harus saya lewati.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
jembatan usang yang sering dijadikan tempat rehat
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
sering dipakai buat foto-foto 😀

Rute jalan pulang saya putuskan untuk mencoba jalan yang lain, walaupun sama-sama melintasi jembatan Sungai progo namun saya mengambil arah utara untuk melewati daerah yang lebih asri. Namun saya kurang beruntung, mendung mega telah mulai menyapa dan menemani perjalanan saya kala itu. Hingga akhirnya hujanlah yang menemani lebih dari setengah perjalanan pulang, walaupun telah menggunakan mantel, namun tetap saya kayuhan terasa melemah ketika kaki mulai terasa dingin akibat derasnya guyuran air saat itu.

Baca Juga :  Merasakan Sensasi Arung Jeram di Sungai Serayu Banjarnegara
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
mega mendung telah menyapa

Setelah beberapa kali kebingungan dengan setiap persimpangan yang saya temui karena terasa asing, akhirnya saya mampu kembali ke kamar kos dengan badan yang lembab terkena limpasan hujan sore itu. Jarak tempuh berangkat sekitar 38.5 km, sedangkan jarak tempuh pulang sekitar 42 km, diukur menggunakan aplikasi pada ponsel android.

Perjalanan telah usai untuk hari ini, beberapa kisah telah terekam sepanjang perjalanan pergi pulang sejauh ±80 km. sehat jasmani dan sehat rohani, berjumpa para pejuan, berjumpa alam, dan berjumpa teman. Menaiki sepeda akan lebih mudah untuk mengamati setiap jengkal tanah yang akan kita lewati, untuk sekedar berhenti juga lebih mudah karena cukup menarik tuas rem dan meletakkan sepeda dalam berbagai posisi. Apabila para pembaca sempat, cobalah untuk bersepeda ke tempat yang biasa anda kunjungi atau yang mungkin belum pernah anda kunjungi, cobalah menikmati lebih santai pada tiap perjalanan anda dengan sepeda.

Untitled2
rute pulang, sekitar 42 km

Salam gowes dan jepret 😀

3 COMMENTS

  1. salam goweser, , , Untk saat ne, khususnya ramadhan tdak ngegowes krna lg dluar kota. . . Mga sepeda memberi efect y baik bg kshatan kta. . g

    • salam gowes juga bang 😀
      waah lagi nyari THR buat lebaran nih pasti di luar kota 😀
      amiiiin niat baik, insya allah berefek baik kok ^_^

Leave a Reply