Golden Story & Golden Sunrise Saat Pendakian Gunung Sinabung

14
18
views
sebuah awal harapan baru di Gunung Sinabung

Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung berapi yang masih rajin menunjukkan aktifitas vulkanisnya dengan mengeluarkan gas dari kawah yang berada di puncaknya. Dengan ketinggian 2460 mdpl, serta medan pendakian yang memiliki beberapa karakteristik, sehingga tidak heran apabila Gunung Sinabung merupakan salah satu gunung favorit di kawasan Provinsi Sumatera Utara dan sekitarnya. Jika Gunung Semeru memiliki Ranu Kumbolo, maka Gunung Sinabung memiliki Danau Lau Kawar (1400 mdpl). Sebuah danau kecil yang telah dikelola oleh pemda setempat, sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk sekedar camping ceria atau sebagai titik pendakian sebelum menuju puncak Gunung Sinabung.

Salah satu sudut di Danau Lau Kawar

Siang itu selepas beristirahat semalaman dari pendakian Gunung Sibayak, segera saya tutup pintu losmen di Brastagi untuk segera bergerak menuju sebuah terminal kecil yang akan mengantarkan saya ke titik pendakian Gunung Sinabung. Menaiki angkutan desa dengan tujuan merasakan hembusan dingin di tepi Danau Lau Kawar. Sepanjang perjalanan dalam angkutan desa tersebut, tak hentinya mata ini bergerak ke sekeliling  area pandang. Menikmati keasrian alam sepanjang perjalanan yang seakan membawa rasa penasaran saya sedikit demi sedikit terkikis.

Danau Lau Kawar yang tenang

Sekitar 45 menit saya dibawa oleh pak supir menelusuri minyak hitam nan keras ini, sampailah saya di tepian Danau Lau Kawar yang diselumuti awan mendung kala itu. Suasana yang mendung dan dingin tersebut membuat semakin berkesannya suasana damai kala itu.

Terasa damai dan sunyi dari sudut ini

Setelah sejenak melihat ke sekitar, mata saya tertuju kepada sebuah tenda yang memiliki warna dengan tenda saya, bahkan memiliki tipe dan merek yang sama. Segera saya bergerak menuju siapakah gerangan pemilik tenda tersebut. Ternyata ada 3 orang yang berada di bawah naungan tenda jingga di atas kehijauan rumput sekitar Danau Lau Kawar. Segera perkenalan dimulai dengan obrolan ringan dan juga asal muasal masing-masing. Bang Je We, Kak Debby dan Bang Bill, itulah nama ketiga manusia ramah yang saya temui di tepian Danau Lau Kawar yang damai tersebut.

Tak memakai waktu lama, segera saya meminta izin kepada mereka untuk mendirikan tenda bersebelahan dengan mereka-mereka ini. Segera tanpa lama tenda telah berdiri, sejenak menata barang bawaan yang ada di dalam carrier. Saatnya mencari makan dan bekal untuk pendakian esok hari disekitaran Danau Lau Kawar. Setelah perut terasa telah terisi, segera saya berjalan-jalan disekitaran danau untuk sekedar mengambil beberapa gambar.

Baca Juga :  Tegal, dari hujan hingga kepanasan

Sampai ketika saya didatangi oleh seorang ranger yang bertugas di Kawasan Gunung Sinabung ini. Obrolan ringan serta tanya jawab mengenai karakteristik dan sejarah Danau Lau Kawar dan Gunung Sinabung menjadi obrolan yang ringan sore itu.

Malam harinya saya didatangi oleh petugas pendata pendakian, setelah dimintai tanda pengenal, dan ditanya “di atas tidak ada siapa-siapa lho bang, berani naik sendiri?”. Sebuah pertanyaan yang cukup membuat saya sedikit berpikir sejenak, “berani bang !!” jawab saya yakin. Malam yang mendung dan sesekali disertai gerimis semakin membuat saya sedikit khawatir cuaca esok hari. Sesekali terlihat cahaya kembang api yang sengaja dinyalakan kala itu, suara yang menggelegar cukup menarik perhatian saya untuk menarik resleting pintu tenda.

Weker telah menyala tepat pukul 2 dini hari, menandakan pendakian Gunung Sinabung yang hanya saya sendiri akan segera dimulai. Setelah memasukan bekal untuk perjalanan singat ini, segera saya membuka tenda dengan ditemani cahaya headlamp kala itu.

Malam yang dingin dan sunyi dalam kabut Danau Lau Kawar membuat saya masih sedikit ragu untuk melakukan pendakian ini. Tapi sudahlah, yakinkan saja semua pada hati kecil ini. Sekitar 30 menit saya sempat bingung untuk menemukan pintu rimba untuk masuk ke jalur pendakian yang benar. Sempat tersasar di antara perkebunan warga, ditambah kesunyian dan kegelapan kala itu yang cukup mencekam :D.

Setelah berhasil menemukan pintu rimba tersebut, segera saya mulai bergerak naik mengikuti tanda yang sengaja ditinggalkan untuk tidak keluar dari jalur. Tanda yang berupa pita maupun tali plastik dengan warna cerah sangat membantu saya yang baru pertama kali naik Gunung Sinabung dan hanya seorang diri.

Bergerak cepat dalam senyap membuat saya tidak berlama-lama ketika beristirahat, sesekali menengadah ke atas dan melihat kebelakang hanya untuk mengecek kondisi. Pisau belati tanpa sarung yang selalu saya pegang erat di tangan kanan semakin menambah keberanian saya untuk menerobos hutan yang sesekali mengijinkan saya untuk menikmati setitik bintang yang kian ramai ketika langit semakin cerah. Beruntung saya sempat mendengar suara air yang mengalir di antara rimbun rerumputan, segera saya mengisi ulang botol air mineral saya kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Baca Juga :  Pulau Nasi, Keindahan yang takkan terlupakan [Seri Pulau Aceh #1]

Hingga akhirnya saya sampai di area batu cadas, batu dengan tingkat kemiringan yang membuat saya harus bergerak dengan empat kaki. Tetapi ketika berhenti sejenak dan berbalik badan, WWWOOOOOWWW pemandangan yang luas tanpa terhalang.

Danau Lau Kawar dari atas

Semakin lama, semburat sang surya semakin terlihat, saya harus bergegas untuk dapat menikmati golden sunrise kali ini. Sempat terjebak di tanaman perdu setinggi dada saya yang membuat perjalanan semakin menguras tenaga dan emosi untuk dapat keluar dari kumpulan tanaman perdu yang memiliki belasan percabangan.

Semburat sebuah harapan dari sebuah perjuangan

Sampai akhrinya saya di titik yang menghadap langsung ke matahari terbit, menatap sejenak kemudian mengabadikannya dalam frame digital.

Siluet tetap saja indah 😀
gradasi alam yang menarik dan tetap saja menakjubkan
Sudut lain pengambilan gambar Danau Lau Kawar dari atas

Berlarian ke berbagai sudut untuk mengabadikan lautan awan, menikmati kawah Gunung Sinabung, serta melihat kepulan asap dari salat satu sudut di puncak Gunung Sinabung.

Sejenak melepas lelah dan menikmati semua karunia-Nya
Inilah yang selalu mengikuti saya, “bayanganku”
Serasa ingin berenang di lautan awan ini
“Mendaki gunung hanyalah bagian kecil dari pengabdian, pengabdianku kepada Yang Maha Kuasa! “ Idhan Lubis, 10 Maret 1969
Kepulan dari kawah Gunung SInabung

Tak perlu berlama-lama, segera saya turun dan beranjak mengemasi berbagai bekal yang telah saya nikmati bersama indahnya mentari kala itu. Bergerak turun kembali menapaki tanaman perdu yang membuat saya semakin frustasi menentukan jalan, ketika harus merangkak mundur dalam batu cadas yang seakan diam tak bergeming menyaksikan gerak pelan saya.

Di sebuah titik ketika perjalanan turun, saya sejenak beristirahat sampai akhirnya saya bertemu dengan rombongan Bang Sofyan, Kak Lisna dan Bang Zecky serta beberapa kawan lainnya yang saya lupa namanya, hahaha (faktor U). Sejenak berbincang dan tukar kontak, pembicaraan yang diselingi hela nafas ngos-ngosan itu tidak berlangsung lama karena mereka harus segera berada di puncak sebelum kabut dan saya harus segera sampai di Danau Lau Kawar kembali. Jabat tangan yang rumit mengakhiri pertemuan saya dengan mereka yang juga ingin menikmati keindahan alam darti puncak Gunung Sinabung. Sempat juga berpapasan dengan seorang turis asing yang mendaki seorang diri, hanya senyum yang sempat kami saling lempar saat berpapasan tersebut.

Baca Juga :  Kumpulan Tips Mountaneering dari Eiger

Tanpa terasa langkah kaki telah sampai kembali di rerumputan di tepian Danau Lau Kawar. Panas terik tetap terasa walau berada di tepian Danau Lau Kawar yang menyajikan hawa dingin saat kemarin sore datang. Terlihat juga beberapa pengunjung yang memang sengaja datang untuk sekedar berwisata di Danau Lau Kawar ini.

Setelah sampai di tenda, ternyata Bang Je We, Bang Bill, dan Kak Debby masih berada di lokasi yang terlihat sedang sibuk memasak untuk menu makan siang yang dianggap sebagai sarapan, heheh :D. sembari meluruskan kaki yang masih terasa lelah naik turun semalaman ini, duduk di bawah naungan pohon rindang yang terasa semilir menembus pori. Obrolan ringan bersama mereka bertiga yang juga kadang terselingi aktivitas masing-masing. Tak lupa juga kami berfoto bersama sebelum nanti saya harus segera berkemas untuk kembali ke rumah.

Setelah membersihkan diri dengan cara mandi, tak lupa juga menggosok gigi :D. segera saya berkemas-kemas menata yang barang yang seharusnya berada di dalam carier. Tak berapa lama, semua barang telah tertata rapi di dalam satu tas carrier yang terlihat berbobot itu. Segera duduk sembari melihat sekitar sembari menanti angkutan desa yang akan membawa saya kembali ke Brastagi. Terasa damai sekali saat merebahkan diri ini di rerumputan sembari menatap awan yang bergerak terlihat dari sela-sela daun yang rimbun kala itu.

Tanpa terasa angkutan desa yang saya tunggu telah datang, segera saya berpamitan dengan Bang Je we, Bang Bill, dan juga Kak Debby. Juga saya pamit melalui angin ke pada Bang Sofyan, Bang Zekcy dan juga Kak Lisna serta kawan-kawan yang tengah berada di puncak Sinabung.

Tenda kami sama kan? hehehe

Sebuah jabat tangan hangat megakhiri perjumpaan singkat kala itu. Berharap bisa berjumpa kembali dengan mereka, mereka yang saya temui di dalam damainya Danau Lau Kawar juga dalam tenangnya Gunung Sinabung. Sampai jumpa semua, semoga kelak kita bisa berjumpa lagi di tepian Danau Lau Kawar. 😀

dari kiri, saya, Bang Je We, Kak Debby, Bang Bill
Berlatar belakang Gunung SInabung

 

Salam Lestari…. 😀

Brongkos 13

14 COMMENTS

    • Bukanya gila bang…tp nekat karena kepepet…mumpung lg ada di brastagi c bang..heh3h3
      Wah..jaman SMA, tahun brapa tuh bang?? Pasti msh asri banget tuh rutenya

  1. Wohooooo…pengen balik ke sana lagi deh. Dan kamu naik sendirian jam 2 dini hari? Itu luar biasa! Dulu aku ke sana naiknya rame-rame sih. Foto-fotonya keren, Ghoz! 🙂

Leave a Reply