Bersepeda di Gayo Lues

0
3
views
Menatap hijau itu seru

Perajalanan ini saya lakukan dalam waktu 3 hari sepertinya seingat saya. Mengayuh dari ketinggian 1200 mdpl hingga ke 600 mdpl itu mengasyikkan karena memang hanya jalan menurun dan landai memanjakan saya ketika berangkat. Tanjakan kecil sesekali menyapa saya agar ingat bahwa perjalanan pulang nanti akan lebih parah daripada perjalanan berangkat.

Sedikit menanjak
Dulu saya pernah tertabrak truk pembawa eskavator di tanjakan ini. Menyisakan sebuah kenangan… eaaaa

Beberapa jalanan yang saya lalui sangatlah memanjakan mata dengan hamparan hijaunya, guratan perbukitannya, dan keramahan masyarakat yang saya lintasi. Sesekali perjalanan saya dihadang oleh rombongan bertanduk penguasa jalanan.

Penguasa Jalanan
Memasuki Kecamatan Pantan Cuaca
Memasuki Kecamatan Blang Jerango
Memasuki Kecamatan Tripe Jaya

Batas antar kecamatan di tandai dengan sebuah gapura sederhana dengan tulisan yang besar dan tegas untuk menandakan perpindahan wilayah administrasi. Sesampainya di tempat tujuan di hari pertama, saya menginap di tempat rekanan semalam saja sebelum berpindah ke kecamatan lainnya untuk bersua juga dengan rekanan yang lain.

Meander sungainya aduhai euy…
P1000465
Jembatan kuning ini hanya bisa dilewati satu kendaraan roda dua saja.
Sepeda saya lagi narsis 😀

Jalan yang saya lalui kebanyakan disuguhkan oleh ketinggian berbatas kabus tipis di bawah saya, ada juga jalanan tanah berlumpur yang memaksa saya menbersihkan bagian belakang saya yang terciprati lumpur.

Jalan baru sehingga banyak butiran kerikil dan material liat
P1000492
Rasanya offroad sekaleeee ahahahhaa
Kiri tebing, kan sungai euy
Beberapa pinggiran sungai telah dipasangi penahan runtuhan dari batu yang disusun rapi dan dikurung kawat

HIngga tiba waktunya saya pulang untuk hari ketiga, jarak sekitar 70 km telah saya tempuh untuk sampai ke titik tersebut. Perlu sekitar 40-50 km lagi untuk sampai ke rumah kontrakan saya.

Foto dulu sebelum nyasar 😀

Perjalanan pulang saya mulai pagi agak siang hari, dengan tujuan menghindari gelap ketika melibas tanjakan ekstrim dari 800 mdpl ke 1200 mdpl. Sempat saya sengaja menyimpang dari jalan aspal, membelok menuju ke sebuah jembatan gantung untuk melintasi jalanan tanah yang memang belum jadi. Alhasil saya terjebak dengan tanjakan tanah panjang tanpa sekalipun bersua dengan masyarakat.

Baca Juga :  Pulau Nasi, Keindahan yang takkan terlupakan [Seri Pulau Aceh #1]
Permulaan nyasar, masih semangat
Jalan asplanya di sebelah tower itu dan saya terpisahkan oleh sungai
Beberapa saat setelah nyasar, masih mencoba semangat

Selang berjalan dalam keputusasaan karena terjebak di jalan tersebut selama hampir 2 jam, saya menemukan jalan menurun yang tentu saja sangat seru untuk dilintasi dengan kayuhan downhill. Sampai saya menemukan pagar yang menutup jalan tersebut,

“Apa! Pagar kayu menutup seluruh jalan??!!”

dengan sekuat tenaga saya melempatkan sepeda saya  melintasi pagar yang hampir setinggi mata saya tersebut.

Lolos dari pagar tersebut, segeralah berhenti sejenak di sebuah sungai kecil untuk membasuh keringat sebelum melanjutkan menepi mendekat ke jalan aspal di seberang sungai besar di sana. Hingga akhirnya saya bisa kembali ke jalan aspal dalam selang waktu hampir satu jam dari pagar kayu tadi. Benar-benar pembungan waktu dan energy yang efektif dalam benak saya. Kayuhan semakin saya percepat mengingat saya harus kembali.

Terbebas dari “tersesat” adalah sebuah kenikmatan
Saya sudah 2 kali melintasi sungai tersebut 2 kali, dan akan 3 kali hingga akhir hari ini
Endapan di sungia tersebut terlihat cukup lapang

Kayuhan semakin saya percepat ketika sadar waktu sudah melewati target awal. Perkiraan waktu yang seharusnya jam 3 sudah sampai rumah kontrakan, ternyata saya masih berada di ketinggian 800 mdpl. Hari semakin cepat beranjak sere, berbanding terbalik dengan kecepatan saya melintasi setiap tanjakan yang meliuk.

Rehat sejenak dari kayuhan
Sungai kecilnya jernih dan tenang

Saya ragu akan sampai rumah sebelum gelap, tenaga telah hampir habis terkuras lemas. Dalam langkah gontai sembari mendorong sepeda melewati tanjakan yang mulai tertutupi sinar sore, ada sebuah kendaraan umum yang menepi dan menawarkan saya untuk ikut saja sampai ke atas. Beruntung saya sore itu, menemukan tumpangan untuk menuju ke 1200 mdpl yang bisa saya capai tanpa terengah setengah nafas.

Baca Juga :  Sabang, Titik awal dimana keindahan Indonesia dimulai (part 1 of 2)
Saya bisa melaju lebih kencang kali ini 😀

 

Leave a Reply