Menuju Karimunjawa #1 : Berhasil Berkunjung ke Destinasi Impian ala Backpacker

Sudah menjadi impian saya semenjak 2006 untuk bisa berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa, namun nasib dan keberuntungan baru bisa mengantarkan saya mengunjunginya pada tengah tahun 2016. Mulai dari dana yang memang belum ada saat itu, ketiadaan rekan untuk berkunjung, musim yang selalu kurang tepat, hingga kebingungan antara menggunakan agen wisata atau tidak. Hingga akhirnya pada bulan Juli 2016 saya akhirnya memberanikan diri mengujungi Kepulauan Karimunjawa bersama Istri tanpa menggunakan jasa dari agen wisata, semua saya lakukan sendiri guna bisa mencapai keinginan kami berdua saat belum menikah tersebut.

 

Sebenarnya pada bulan Agustus 2015 saya hampir saja bisa berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa, bukan sebagai wisatawan, namun sebagai pemandu dari agen wisata milik teman saya. Berhubung pada bulan agustus tersebut ada libur panjang saat libur hari kemerdekaan, bertepatan dengan fase bulan Purnama, sehingga gelombang pasang mengandaskan cita-cita saya menuju Kepulauan Karimunjawa, hingga kemudian melabuhkan perjalanan saya hingga ke puncak Gunung Muria.

 

Sebenarnya kami berencana untuk mengujungi Kepulauan Karimunjawa pada tanggal 22-24 Juli 2016 dengan asumsi menghindari hari libur sekolah yang berakhir pada tanggal 18 Juli 2016. Namun, setelah saya melakukan pencarian informasi, ternyata pada tanggal 22-24 Juli 2016 adalah kisaran waktu terjadinya bulan Purnama secara penuh. Belajar dari kegagalan keberangkatan setahun yang lalu karena gelombang pasang akibat bulan Purnama, maka kami terpaksa memajukannya seminggu yang berarti menjadi tanggal 16-18 Juli 2016. Oke, itu hari terakhir liburan sekolah, apa daya, sebagai kuli kami hanya memiliki waktu tersebut untuk bisa mencapai Kepulauan Karimunjawa.

Saya masih ingat betul saat itu, hari kamis tanggal 14 Juli 2016. Hari sudah menjadi gelap saat Saya dan Istri saya sampai di rumah Kontrakan kami di Semarang. Perjalanan dari Pekalongan menuju Semarang saat sore memang tidaklah direkomendasikan untuk para pembenci macet saat jam pulang kantor atau pabrik. Sekiranya pukul 19.00 kami membuka pintu Kontrakan kami yang sudah 2 minggu kami tinggal mudik libur lebaran.

Kami segera berkemas sesampainya di Kontrakan kami, mengumpulkan peralatan yang wajib dibawa dan dipersiapkan untuk keberangkatan kami. Setelah semua tertata rapi dalam carrier Deuter Futura dan daypack kecil kami, maka segera kami berpindah ke Kasur untuk memejamkan mata serta mengistirahatkan badan setelah menempuh jalur pantura sore tadi.

 

Pukul 12.00 malam weker pada ponsel kami berbunyi, menandakan kami harus bersiap mandi dan melakukan pengecekan kembali barang yang akan kami bawa. Tepat pukul 01.00 dini hari, kami mengeluarkan sepeda motor untuk berangkat mendekati Kepulauan Karimunjawa. Melibas aspal dari Semarang hingga Jepara. Jalanan tidaklah begitu sepi, masih terlihat beberapa kendaraan besar berpapasan atau mendahului kami, hingga kami memasuki jalan Demak-Jepara yang mulai terasa sunyi pagi itu.

 

Alhamdulillah, tanpa ada halangan kami bisa mencapai Pelabuhan Kartini pukul 03.00. Masih sepi namun sudah ada beberapa orang yang tiduran di depan loket pembelian tiket penyebrangan. Saya menepikan sepeda motor, memesan kopi panas pada sebuah kedai sederhana yang menyediakan kursi beratapkan langit di area parkir Pelabuhan Kartini. Bersitirahat sejenak dengan menyenderkan tulang belakang ke punggungan kursi plastik yang berderit.

Baca Juga :  Kesiangan Menuju Pantai Tirang [Brongkos 2008]

Saat saya tengah asyik mengobrol bersama Istri saya di sebuah meja, datang sebuah pertanyaan dari seorang gadis meja di sebelah kami yang hanya berjarak satu langkah. Seingat saya obrolannya sebagai berikut :

Gadis meja sebelah (GMS) : “Mas, kalau beli tiket harus ngantri seperti itu ya Mas?
Saya : “Ya memang seperti itu, makin cepat ngantri makin cepat dapat tiket Mba”
GMS : “Lha Mas sudah dapat tiketnya?” tanyanya kembali

Pertanyaan balik ini bisa saya tangkap kalau GMS belum mendapatkan tiket, walaupun memang tidak meminta tolong, tapi GMS perlu untuk ditolong.

Saya : “Belum Mba, gimana? Mba mau beli tiket juga buat nyebrang?”

GMS : “Iya Mas, mau ngantri tapi kok di sana isinya cowok-cowok semua, sedangkan kita cewek semua”. Sembari melirik ke seorang gadis yang duduk di sebelahnya.

Saya : “Ya sudah Mba, sini saya antrikan, lagian satu orang bisa mengantri 5 tiket sekaligus, kalau saya cuman beli 2 saja kan rasanya sayang. Tapi saya nitip Istri saya ya selagi saya ngantri?”. Pinta saya setelah saya memberikan penawaran menarik.

GMS : “Wah beneran Mas? Gak ngrepotin nih? Ya udah, biar Istri Mas di sini bareng kami saja”.
Segera saya mengangkat tas carrier saya untuk bisa berpindah menjadi satu meja dengan GMS tersebut. Sejenak mengobrol sembari saya membenarkan ikatan pada tas saya, GMS tersebut membuka dompet untuk memberikan uang guna membeli tiket. Namun saya tolak, saya beralasan nanti saja ketika tiket sudah berada di tangan saya. Segera saya bergegas meninggalkan Istri saya bersama GMS pada sebuah meja dengan lampu temaram yang tabah menanti Fajar.

Sampai di depan loket antrian suasana semakin aneh saja, ada orang yang tidur, duduk, berpindah-pindah dan juga ada yang hanya berkunjung kemudian pergi lagi. Beberapa dari kami menghabiskan waktu menunggu dengan duduk sembari mengobrol hal yang tidaklah terlalu berat. Hasil obrolan tersebut membuat saya menawarkan satu slot kosong pemesanan tiket di tangan saya (maksimal 5 tiket, sedangkan saya baru ada 4) kepada rekan obrolan pagi itu yang kelebihan slot pemesanan.

Memang tempat antrian tersebut bukanlah tempat yang aman untuk perempuan, karena sebagian besar yang mengantri adalah kaum adam, baik agen wisata ataupun pelancong biasa seperti kami. Itulah kenapa GMS tersebut merasa bingung ketika harus ikut mengantri di depan loket. Memang lebih terasa seperti sarang penyamun sebenarnya dari kosakata yang terlontar dan asap rokok yang beradu.

Loket sebenarnya dibuka pukul 05.30 menurut informasi yang saya dapatkan saat itu, namun pada pukul 04.30 ada yang sudah berdiri dan menata dirinya tepat di depan pintu loket. Sontak kami yang sedang asyik duduk dan tiduran ikut kelabakan bergerak cepat agar masuk ke dalam jalur antrian yang terbatasi oleh palang besi. “Aduuuh, siapa ini yang memulai ngantri, masih satu jam woy baru dibuka loketnya…!!!” teriak seseorang dari kerumunan pengantri. Intinya kami para pengantri tidak ingin kehabisan tiket atau terlambat mendapatkan tiket kapal.

Baca Juga :  Menyambut Pagi Untuk Melangkah Pergi Dari Pulau Breuh [seri pulau Aceh #4 habis]

Singkat cerita, antrian panjang yang berdesakan dan penuh obrolan sesama pengantri tersebut mengantantarkan 5 buah tiket di tangan saya. Segeralah saya menuju penitipan motor di dekat loket tiket tersebut, namun saya dikagetkan dengan kemunculan GMS yang sudah berada di area loket tiket tersebut. Mungkin dirinya cemas mengenai status tiket penyebrangan yang di tangan saya, namun saya menyuruhnya untuk kembali ke tempat semula, agar menunggu saya menitipkan motor terlebih dahulu.

Backpacker menuju karimunjawa
Melangkah perlahan ke Kapal Siginjai.

Setelah saya menitipkan kendaraan, kemudian beranjak menuju ke lokasi awal dimana Istri saya menunggu saya. Saya baru tahu bahwa nama mereka berdua adalah Sarah dan Fani (semoga ingatan saya benar kali ini), lalu saya menyerahkan 2 buah tiket kepada mereka. Sarah memberikan uang sebesar Rp. 150.000 kepada saya, lalu ketika saya hendak memberikan kembalian, Sarah menolaknya dengan halus. Mungkin baginya itu adalah biaya jasa antri tiket, namun saya tetap mengembalikan selisih dari harga tiket yang hanya Rp. 59.000/orang. “Maaf, saya bukan calo ya Mba.. “ Jawabku sembari tersenyum kecil.

Backpacker menuju karimunjawa
Suasana pagi di sekitaran Kapal Siginjai

Akhirnya….saya bersama Istri saya melangkah menuju lambung Kapal Siginjai, yang akan membuat kami mengapung selama kurang lebih 4,5 jam di Laut Jawa. Saat akan memasuki badan kapal, ternyata pemeriksaan tiket sekarang sudah memakai barcode scanner untuk mengantisipasi tiket palsu yang mungkin digunakan oleh orang yang ingin main curang. Menaiki Kapal Siginjai lebih awal rupanya membuat kami lebih leluasa untuk memilih tempat duduk, mau di dalam atau di atas bisa saja asal nyaman.

Berdasarkan pengalaman saat menuju Sabang, Pulau Weh yang hanya memakan waktu 2 jam perjalanan laut, maka saya lebih memilih di kabin bagian dalam. Memang bagian atas terasa lebih terbuka dan angin akan lebih terasa segar, namun saya perlu istirahat, badan yang terpaksa terjaga beberapa jam yang lalu harus saya istirahatkan. Istri saya berjaga saat saya sedang tidur di dekat jendala, sehingga saya merasa aman meninggalkan barang saat tertidur.

Backpacker menuju karimunjawa
Kepulauan KarimunJawa sudah mulai terlihat dari jendela kapal.

Perut terasa keroncongan, kemudian Istri saya juga memberi kode untuk membeli makanan di kantin kapal. Saya membeli Pop Mie, Es teh, dan cemilan berupa keripik. Kesalahan kami adalah tidak membawa jajanan serta lupa belum sarapan tadi pagi. Untuk informasi saja ya, Pop Mie yang biasa kita beli seharga Rp. 5.000 di darat, maka di laut harganya sudah lupa daratan. Menjadi Rp. 13.000 per cup, sedangkan es teh botolan menjadi Rp. 10.000, lalu keripik biasa menjadi Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000. Bagi Anda yang ingin menyewa tikar, juga bisa melalui kantin ini, Rp. 10.000 rupiah pertikar untuk satu kali perjalanan.

Saya juga baru ingat, ternyata saat saya sedang mengantri tiket, Sarah memberikan sebuah nasi kotak indoapril kepada Istri saya. Jadilah saya makan nasi kotak pemberian Sarah tersebut, dan Istri saya memilih untuk makan Pop mi yang memang mengepulkan asap kenikmatan saat terkena surai Mentari dari jendela di samping saya.

Baca Juga :  Meow meowan di Pantai Si Kucing, Kendal

 

Tepan di depan duduk kami ada sebuah televisi layar datar yang menayangkan acara televisi nasional, namun semakin ke tengah lautan maka gambarnya semakin hilang. Saya paham betul tipe televisi layar datar tersebut, memiliki USB dan bisa digunakan untuk memutar film. Namun sayang, saya tidak membawa Harddisk external maupun Flashdisk yang berisi film, semua saya tinggalkan di Kontrakan saya.

 

Perjalanan selama 4,5 jam tersebut saya isi dengan sesekali berjalan ke kabin atas, mengobrol dengan istri atau menjaga istri saya saat tidur agar tidak mengigau atau ngiler (semoga Istri saya gak baca bagian ini). Lambat laun mulailah terlihat gundukan hijau di sebelah utara kapal. Menandakan bahwa Kepulauan Karimunjawa sudah berada dalam jangkauan menit dari posisi kami sekarang, iya beberapa menit, semisal 60 menit maksud saya. Hehehe.

Backpacker menuju karimunjawa
Selamat Datang di KarimunJawa. Tercapai juga akhirnya 😀

Saya mendapatkan sebuah telepon dari Mas Ali, yang bekerja pada sebuah penginapan yang sudah kami pesan untuk 2 malam mendatang. Mas Ali memberitahukan bahwa mungkin terlambat 5 menit untuk menjemput kami ketika sudah sampai Pelabuhan Karimunjawa. Penjemputan dari Mas Ali merupakan fasilitas dari tempat menginap yang kami gunakan. Kami menginap di RGJS homestay yang berjarak sekitar 400 meter dari pelabuhan.

Alhamdulillah, kapal yang kami naiki merapat dengan sempurna tanpa kendala di Pelabuhan Karimunjawa. Terlihat banyak penumpang kapal lain yang sudah dijemput, baik dengan menggunakan motor, mobil, bahkan ada yang menggunakan kapal cepat (resort mahal kalau yang ini). Saya segera tahu, mana penumpang kapal yang menggunakan agen wisata dan mana penumpang kapal yang tidak menggunakan jasa agen wisata.

 

Tidaklah begitu lama, segera Mas Ali menjemput kami dengan sebuah motor otomatis, mengantarkan kami ke RGJS Homestay yang berada tepat di tepi laut. Segera saya sejenak merebahkan diri, sedangkan Istri saya mulai mengeluarkan beberapa barang yang berada di dalam tas carrier.

Backpacker menuju karimunjawa
Penginapan sederhana namun sudah memakai AC, lumayan untuk membuat tidur malam lebih lelap.

Satu lagi, tempat wisata impian kami yang bisa tercapai tanpa bantuan agen biro wisata. Memang tersa merepotkan mulai dari memesan penginapan, mengantri tiket kapal, akomodasi dan beragam hal lainnya. Namun semua bisa saya tolelir atas nama murah dan bebas. Iya, lebih murah karena pengeluaran kita sendiri yang mengatur jenis kegiatan. Iya, lebih bebas karena kita bisa memilih objek yang akan kita tuju dan durasi masing-masing objek tersebut. Mana yang lebih baik? Tanpa agen biro wisata atau menggunakan jasa tersebut? Semua tergantung Anda, hendak memilih yang mana.

 

Untuk perjalanan selanjutnya, bisa Anda simak pada tautan di bawah ini :

Menuju Karimunjawa #1 : Berhasil Berkunjung ke Destinasi Impian ala Backpacker.

Menuju Karimunjawa #2 : Menyambangi Bukit Love dan Hutan Mangrove Karimun Jawa

Menuju Karimunjawa #3 : Menikmati Matahari terbit di Pantai Pancuran

Menuju Karimunjawa #4 : Terjebak Wisata Bahari di Karimunjawa Bersama Bule

Menuju Karimunjawa #5-Habis : Beranjak Meninggalkan Karimunjawa untuk Kembali ke Pulau Jawa

 

6 COMMENTS

  1. Lumayan lama juga ya pelayaran dari Jepara menuju Karimunjawa, padahal sudah dari Jepara lho. Hampir-hampir sama dengan pelayaran dari Lombok ke Bali. Dulu saya pernah baca ada yang berlayar dari Semarang dan itu apa kabar ya lamanya, hehe. Tapi kalau di atas laut bagi saya jarang membosankan habisnya melihat buih ombak yang terhantam haluan kapal sudah membuat saya senang, haha. Cuma memang harga barang-barangnya sudah lupa daratan (izin pinjam istilah ya, haha). Jadi untuk menyiasatinya biasanya sudah bawa Pop Mie dari darat, di atas kapal cuma beli air panas doang. Haha.

    • Iya gitu Mas, naiknya juga Kapal Siginjai, pelan-pelan…ahaha yang penting selamat ah, kalau yang kapal cepat lha cukup 2 jam.

      Saya biasanya bawa buku, baca2 sambil corat-coret kalau tidak menemukan lawan obrolan.

      Iyup, harganya cukup bikin laper lagi sesusai makan…ahahaha

    • Murah mas, karena kita gak pake paket dari agen biro wisata. Ke Bali mah sudah jauh, ramai pula…ahahaha
      Di artikel yang ke 5 nanti, sudah saya tulis pengeluaran selama di sana….

Leave a Reply