Menuju Karimunjawa #5-Habis : Beranjak Meninggalkan Kepulauan Karimunjawa untuk Kembali ke Pulau Jawa

6
17
views

Hari minggu,18 Juni 2016, tepat jam 3 pagi, alarm pada ponsel kami berdering nyaring. Memaksa mata untuk terbuka di dini hari yang tenang tersebut. Segera saya bersiap, meraih jaket dan tas kecil berisi dompet untuk membeli tiket penyebrangan pagi ini. Kapal berangkat pukul 7 pagi menurut jadwal, mungkin bisa lebih cepat kalau memang cuaca cepat berubah.

Saya menitipkan pesan kepada Istri saya yang berada di penginapan untuk mengubungi Sarah dan Fina, memberitahu mereka bahwa mereka tidak usah mengkhawatirkan masalah tiket, biar saya saja yang ikut mengantri. Istri saya juga saya suruh untuk berkemas-kemas dan mandi sembari saya tinggal ke Pelabuhan Karimunjawa.

Saya beralan dengan membelah sunyi dini hari saat itu, terasa sepi, hanya saya yang berjalan seorang diri. Sesampainya di pelabuhan, sudah terlihat beberapa bayangan orang di balik lampu pelabuhan. Sudah ada sekitar 8 orang yang berada di depan loket tiket. Mereka sama seperti saya, ingin memastikan kepulangan ke Pulau Jawa dengan berangkat sepagi mungkin. Kami sama-sama khawatir akan kekacauan saat antrian tiket, karena bentuk loket tiket di Pelabuhan Karimunjawa tidak memiliki pagar untuk membuat antrian dalam 2 baris calon pembeli.

Saya mengobrol dengan lelaki paruh baya di samping saya, ternyata lelaki tersebut sedang mengantrikan tiket untuk tamu di penginapannya. Dia bercerita tentang antrian hari sabtu, saking ramai dan ketidakdisiplinan sesama calon pembeli tiket, maka terjadi saling dorong yang membuat kaca loket tiket terebut retak dari atas hingga bawah. Saya baru sadar, kemudian menengok untuk melihat bekas retak tersebut, lumayan parah juga retakannya, namun sudah diberi isolasi oleh petugas.

Saat saya sedang asyik mengobrol, dari jarak pandang saya terlihat dua orang gadis yang saya cukup mengenali dari cara berjalan dan posturnya. Walaupun terlihat hanya bayangan dengan senter dari ponselnya, saya bisa mengetahui bahwa mereka adalah Sarah dan Fina.

 

Sarah : “Mas?” sembari menggoyang-goyangkan senter dan sedikit menurunkan kepala untuk memastikan bahwa itu saya, dan saya melihatnya

Saya : “eh Sarah, ngapain kamu ke sini?, bukannya Istri saya tadi sudah kasih kabar ke kamu kalau tiketnya saya saja yang ngantri?”

Sarah : “iya Mas, sudah tadi lewat wasap, lalu saya telpon ke nomer Mbak Rossy, namun tidak dijawab, lalu saya datang ke penginapan, manggil-manggil Mba Rossy, namun gak ada jawaban.” Jawab Sarah cepat

Saya : “owh, mungkin lagi mandi saat kamu datang ke penginapan tadi. Lha kamu ngapain ke sini? Kan sudah saya yang ngantri tiket?” tanyaku

Sarah : “Iya mas, memastikan saja, kan harus balik hari ini. Lagian gak enak juga, masak kami tidur enak, Mas yang ngantriin tiket buat kami.” Jawabnya merasa tidak enak

Saya : “Ahahaa, ya sudah, biasa saja, sekalian saja saya antrikan daripada saya cuman beli 2 tiket.”

Sarah : “Jadi, kapalnya berangkat jam berapa mas? Pagi apa Siang?.”

Saya : “Pagi, jam 7, jadi mending kamu pulang ke penginapan dulu, lalu beres-beres, uang tiketnya nanti saja pas saya sudah dapat tiketnya.”

Sarah : “haah… jam 7?” kagetnya, “ya sudah mas, kami ke penginapan dulu”

Saya : “ ya sudah, nanti jam 6 ya saya tunggu di depan penginapan, kita berangkat ke pelabuhan bareng ntar.”

Baca Juga :  [Ebook] Takengon - Tanah Tinggi Gayo

Sarah : “Ok mas, makasih ya sebelumnya”

Saya : “iya, santai saja”

 

Lalu mereka berlalu, hilang dalam ujung gulita di tepian deburan ombak pagi. *apasih

 

Ah, rupanya masih ada juga remaja perempuan seperti mereka, yang masih merasakan “ketidak-enakan” ketika dibantu sedikit. Mungkin saja pengalamannya ketika melakukan perjalanan, masih sedikit yang bertemu dengan orang baik hati dan rajin menabung. Jadi ya berbiasalah 😀

Saya juga kembali menawarkan satu buah slot pembelian tiket yang masih ada pada saya, karena saya hanya akan membeli 4 buah tiket saja, jadi rasanya mungkin satu tambahan tiket bagi mereka yang perlu lebih dari 5 tiket dari sekali beli bisa berarti. Akhirnya total saya memiliki 5 daftar nama untuk pembelian tiket pagi ini.

Sekitar pukul setengah lima, saat dunia masih belum mendapat cahaya, masuklah 3 orang petugas ke dalam bangunan loket tersebut. Lebih awal dari dugaan kami yang sedang mengantri, lantas kami mulai segera berdiri dan bergerombol di depan loket.

“SEMUANYA BARIS, BUAT 2 JALUR ANTRIAN, TENANG SAJA, SEMUA PASTI KEBAGIAN…!!!!” teriak salah seorang petugas berkumis di dari dalam loket antrian. “SUDAH CUKUP KACA INI PECAH KEMARIN, JADI HARI INI DIMINTA UNTUK TERTIB DAN ANTRI”.

Sontak, semua segera membuat barisan secara spontan. Posisi saya menjadi urutan keenam dalam lajur saya, sedangkan di depan saya ada orang yang beruntung, datang belakangan namun dapat antrian di depan. Rupanya, dengan rombongan calon pembeli yang sudah antri duluan, maka calon pembeli berikutnya akan antri juga, dan tertib, tidak ada dorong-dorongan ataupun saling salip. Tertib dan nyaman, membuat hati lebih tenang dalam menanti giliran mendapatkan tiket.

Hingga akhirnya sekitar pukul 5 pagi saya berhasil mendapat tiket kapal Siginjai untuk perjalanan dari Pelabuhan Karimunjawa menuju Pelabuhan kartini. Saya bergegas, melangkah dengan langkah kaki yang saya perlebar untuk memangkas jarak pelabuhan dengan penginapan. Sesampainya penginapan, saya meminta Istri saya untuk memberi kabar kepada Sarah bahwa tiket sudah di tangan, agar nanti pukul 6 sudah siap di depan penginapan untuk berangkat ke pelabuhan bersama.

Karena keterbatasan waktu dan minat, terlebih juga sudah dikemas oleh Istri saya, maka saya tidak berkesempatan untuk mandi pagi itu, saya sempat kecewa karena tidak bisa mandi, ehehehe. Pukul 5.45 kami dipersilahkan oleh Mas Ali untuk sarapan pancake yang merupakan fasilitas dari penginapan. Kami memakannya dengan prioritas kecepatan, bukan menikmati sarapan. Hingga akhirnya kami telah siap dengan tas Carrier Deuter Futura yang telah penuh dengan bawaan kami.

Mas Ali menunggu di depan penginapan dengan motornya, “ayo mas, saya antar sampai pelabuhan, gantian tapi ya”.

Lalu saya dengan halus menolaknya, “makasih mas Ali, kami sudah janjian sama teman kami untuk jalan kaki saja bareng ke Pelabuhan”.
“oh, ya sudah mas, sampai ketemu di pelabuhan ya nanti” ucap Mas Ali sambil melaju menuju arah pelabuhan.

 

Pukul 6 pagi, Sarah dan Fina akhirnya terlihat sedang mendekati penginapan kami. Setelah sampai di depan penginapan kami, Sarah bercerita kalau rupanya tadi pagi dia memanggil Istri saya di penginapan sebelah. Ya pantas saja tidak kedengeran ya… hehehe.

Kemudian kami berempat berjalan menuju Pelabuhan Karimunjawa yang saat itu sudah ramai oleh para penumpang kapal. Sesaat saya bertemu kembali dengan Mas Ali yang sedang menunggu pengembalian motor sewaan. Lalu saya menjabat tangannya sembari mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sayang disayang, nomor Mas Ali tersimpan pada ponsel jadul saya, sehinga saat ponsel saya tersebut mati total, saya kehilangan banyak nomor penting, termasuk nomor Mas Ali.

Baca Juga :  Menikmati Luasnya Biru di Mercusuar William Toren III, Pulau Breuh [seri pulau Aceh #3]

Kami berempat menaiki kapal Siginjai yang sudah terasa penuh itu, bagian ekonomi sudah tidak ada lagi bangku yang tersisa. Jika tahu kondisi seperti ini, lebih baik saya tadi membeli tiket kelas VIP saja yang hanya selisih Rp. 30.000 dengan tiket kelas ekonomi. Namun apa dikata, semua sudah tinggal kita hadapi. Lalu saya berbegas menyewa tikar sebelum kehabisan, menuju bagian atas kapal untuk harapan mendapatkan tempat yang lapang.

Sempat terjadi kemacetan di dalam kapal karena pintu untuk menuju bagian atas kapal belum dibuka karena alasan masih dipel akibat hujan tadi malam. Sampai akhirnya sekitar 5 menit kemudian, pintu tersebut dibuka, lalu arus penumpang kembali berjalan lambat menuju pintu tersebut.

backpacker menuju ke karimunjawa
Deretan sekoci darurat untuk hal yang tidak diinginkan.

Beruntung saya dan Istri saya bisa sampai di bagian atas kapal ketika belum begitu banyak penumpang. Lalu segera memilih tempat yang ternanungi, membuka tikar sewaan kami. Duduk manis, merebah sembari menonton para penumpang lainnya mencari tempat yang ideal. Lalu Sarah dan Fina kembali melintas di depan kami, lalu kami panggil agar duduk saja bersama kami, tikar sewaan itu cuku untuk 3-4 orang, terlebih juga penumpang yang di belakang saya mempersilahkan untuk duduk di tikarnya yang kebetulan berbatasan langsung dengan tikar saya.

Tiga kali klakson panjang kapal dibunyikan, menandakan bahwa kapal sudah mulai bersiap melakukan perjalanan menuju Pelabuhan Kartini. Saya melihat ke sekitar, sebagian besar orang kembali sibuk dengan ponselnya, kebanyakan melihat foto-foto mereka ketika berada di Karimunjawa. Beberapa terlihat mengunggahnya baik melalui Instagram ataupun dijadikan DP di BBM. Maklum, sinyal hanya ada di dekat Pelabuhan tersebut. Itupun hanya telkomsel dan indosat saja, selain itu maka ponsel Anda tidak akan bisa menangkap sinyal.

Pada awal perjalanan kami berempat bercerita saja, mengimbangi keriuhan di sekitar kami. Lambat laun suara orang semakin menurun, sepi karena semua kembali ingin terlelap dengan harapan akan melihat Pelabuhan Kartini ketika membuka mata. Saya tidak tidur, sengaja terjaga untuk menjaga apapun yang harus dijaga.

Namanya juga warga negara yang merasa sudah merdeka, jadi walaupun di dalam kapal dilarang merokok, namun masih tetap saja ada yang merokok. Terlebih di atas kapal yang notabene memiliki ruang terbuka dengan angin berhembus, semakin membuat para perokok merasa punya hak untuk mengembuskan asap nya. Ya memang susah, intinya harus saling menghormati dan menghargai yah, selama 4,5 jam perjalanan kan Anda tidak akan mati kalau tidak merokok bukan?

backpacker menuju ke karimunjawa
langitnya cerah sekali siang itu… padahal sempat sejenak gerimis.

Di tengah perjalanan, ketika Sarah dan Fina sudah berjalan-jalan hingga ujung buritan kapal, ada seorang ibu paruh baya yang duduk di dekat kami, lalu saya mempersilahkannya agar naik ke tikar tempat kami saja. Lalu terjadilah tanya jawab di antara Saya, Istri saya dan Ibu tersebut.

Dalam ceritanya, ibu tersebut sedang dalam misi pencarian sebuah kapal yang tenggelam di sekitaran Kepulauan Karimunjawa. Hingga 1 minggu, kapal tersebut belum juga ditemukan. Lalu akhirnya Ibu tersebut dan Bos ibu tersebut datang ke Karimunjawa untuk bertemu dengan “orang pintar” yang bisa membantunya. Banyak sekali cerita yang beliau tuturkan kepada kami, juga nasihat kepada kami, selaku pengantin yang menurutnya masih mudah, ehehe.

Baca Juga :  Kunjungan ke Kudus dan Jepara, Dari Pantai Bandengan Hingga Air Terjun Montel

Kami akhirnya bisa melihat Pelabuhan Kartini dari tempat kami duduk, rupanya perjalanannya tidak terasa sudah sampai. Lalu Sarah dan Fina berpamitan kepada kami untuk turun duluan, Ibu yang tadi juga. Kami memilih turun sesaat lagi, menunggu arus penumpang nyaman untuk berjalan keluar.

Alhamdulillah bisa menapakkan kaki kembali di pulau kelahiran. Saatnya bergerak menuju kudus, mampir ke tempat teman yang baru kemarin melangsungkan pernikahan. Setelah itu mampir ke sebuah rumah makan, mencicipi menu garang asem super pedas di tengah hari yang panas itu. Hingga akhirnya bisa mendarat di Kontrakan dengan badan yang letih dan perlu mandi.

 

Untuk pengeluaran selamat 3 hari 2 malam ini akan saya tuliskan di bawah, kuantitas dan harga akan saya tuliskan secara detail. Semoga bisa menjadi acuan Anda.

 

Tiket berangkat Kapal Siginjai ekonomi @ 59.000 total untuk 2 orang Rp. 118.000

Penitipan motor selama 3 hari dan 2 buah helem Rp. 25.000

Penginapan AC kamar mandi dalam @Rp. 290.000 total selama 2 malam Rp. 580.000

Sewa motor 24 jam selama satu hari Rp. 75.000

Paket Wisata bahari @175.000 total untuk dua orang Rp. 350.000

Tiket area Bukit Love @Rp. 10.000 total untuk dua orang Rp. 20.000

Tiket kawasan mangrove @Rp. 10.000 total dua orang Rp. 20.000

Tiket pulang Kapal Siginjai ekonomi @Rp. 59.000 total untuk dua orang Rp. 118.000
Ketika di total dengan gaya wisata seperti kami untuk akomodasi berdua selama 3 hari 2 malam, maka didapatkan angka Rp. 1.306.000. Belum termasuk makan dan souvenir.

 

Untuk pengeluaran makan, rata-rata Rp. 10.000 hingga Rp. 20.000 untuk menu biasa sekali makan. Seingat saya hanya 4 hingga 5 kali makan yang harus bayar, karena saya mendapat sarapan dari hotel dan juga ada makan siang saat wisata bahari. Pembelian jajan ketika di kapal juga belum saya masukkan, karena akan berbeda tiap orang.

 

Bila Anda ingin lebih hemat, Anda bisa menggunakan alternatif sebagai berikut :

  • Memilih penginapan yang lebih murah namun tetap nyaman, ada kok yang permalam Rp. 80.000 per orang.
  • Membawa jajan atau makan sendiri, menghindari harus membeli jajan, terutama saat di kapal.
  • Mengujungi saat hari kerja akan mendapatkan harga yang sedikit murah di beberapa tempat.
  • Jika memang terbiasa, Anda bisa membuka tenda di pantai, sehingga akan menghemat dana untuk menyewa penginapan.

 

Jika ada hal yang ingin ditanyakan, silahkan tinggalkan pada kolom komentar. Semoga bermanfaat.

Salam

 

 

 

Untuk perjalanan selanjutnya, bisa Anda simak pada tautan di bawah ini :

Menuju Karimunjawa #1 : Berhasil Berkunjung ke Destinasi Impian ala Backpacker.

Menuju Karimunjawa #2 : Menyambangi Bukit Love dan Hutan Mangrove KarimunJawa

Menuju Karimunjawa #3 : Menikmati Matahari terbit di Pantai Pancuran

Menuju Karimunjawa #4 : Terjebak Wisata Bahari di Karimunjawa Bersama Bule

Menuju Karimunjawa #5-Habis : Beranjak Meninggalkan Karimunjawa untuk Kembali ke Pulau Jawa


6 COMMENTS

    • Di luar makan ya mas itu,

      Memilih penginapan yang minimalis juga bisa dipilih, seperti yang sekamar berisi 4 kasur.

      Bikin tenda masih jadi solusi backpacker paling ideal mas, ahahahay…cuman harus jagain barang-barang aman biar aman,, kan gak mungkin keliling-keliling sambil bawa peralatan segede gaban…ahaaay

Leave a Reply