10 Alasan Kenapa Saya Menutup Akun Twitter dan Path

Tulisan ini dibuat atas sudut pandang pribadi, jadi tidak ada unsur menghasut bagi anda yang membaca tulisan ini. Dari sudut pandang saya sebagai orang biasa juga orang yang berdampingan dengan media sosial setiap hari, maka saya akhirnya memutuskan untuk menutup akun twitter dan path milik saya.

alasan menutup akun twitter dan path
Ada 6 medisa sosial via Publicize Jetpack, namun hanya Google+ dan Tumblr yang saya gunakan.

Bila kita menengkok ke bagian fitur auto sharing berupa publicize dari wordpress, maka kita akan menemui 6 akun media sosial yang bisa kita gunakan untuk memperpanjang jangkauan artikel kita yang diterbitkan melalui wordpress. Namun hanya ada 2 saja yang saya aktifkan, 2 lainnya saya biarkan, sedangkan 2 lainnya sudah saya hapus akunnya. Akun yang saya hapus yaitu twitter dan path.

alasan menutup akun twitter dan path
Saya menutup akun twitter pribadi saya pada tahun 2013.

Akun twitter saya sebenarnya sudah saya tutup lama, kebetulan karena saya ingin membuat artikel tentang penutupan akun path, maka saya sertakan saja dalam tulisan ini.
Alasan saya menutup twitter sebenarnya sederhana sekali, tidaklah begitu kompleks dan rumit.

  • Berkali-kali kena hack walaupun sudah berkali-kali ganti password. Sepertinya memang keamanan twitter lemah sekali dalam hal ini, padahan saya sudah menggunakan password yang rumit.
  • Tetiba saya ngefollow akun seseorang tanpa merasa pernah ngefollow akun tersebut, dan itu terjadi beberapa kali sehingga saya sering kaget melihat ke beranda kok ada akun baru nan asing yang muncul
  • Hanya dibatasi 140 karakter per kicauan, terasa sangat terbatas sekali kalo sudah RTRT-an atau sebutsebutan maka berasa ketik sms jaman dahulu yang masih disingkat-singkat.
  • Tidak cocok untuk upload foto karena minim fitur untuk mengoptimalkan pengalaman menikmati foto di twitter.
  • Sedari pertama daftar hingga sekarang ya memang tidak ada penambahan fitur deh rasanya, monoton lurus tanpa inovasi.
Baca Juga :  Sekelumit Kata Bijak Dalam Sebuah Pendakian Gunung Merbabu

Saya harus mulai merelakan tidak bisa mengikuti beberapa kuis atau lomba yang mengharuskan memiliki akun twitter sebagai salah satu syarat utamanya. Ya sudah, rejeki sudah diatur, tinggal nyari kuis/lomba lain yang tidak mengharuskan memiliki twitter.

alasan menutup akun twitter dan path
Untuk akun Path, saya baru menutupnya pada tahun 2016. Padahal saya sudah mulai memiliki akunnya jauh sebelum teman-teman saya memilikinya. Pokoknya saat Path masih bisa diakses melalui dekstop, saya sudah memiliki akun Path.

Kalau dalam path, ada hal yang memang membuat saya beranggapan bahwa path menempatkan posisinya sebagai media sosial murni yang hanya beroperasi di mobile, benar-benar ingin membentuk komunitas media sosial sendiri. Namun tetaplah hal tersebut tidak mengurungkan niat saya untuk menutupnya.

  • Hanya bisa dibuka lewat mobile, engagment visitor dari pengguna layar dekstop tentunya tidak tercapai dengan fitur auto share ke path di dahsboard wordpress.
  • Harus saling menerima pertemanan agar bisa melihat aktivitas di beranda, semakin banyak pertemanan tentu akan semakin menumpuk isi di beranda path anda.
  • Penggunaan status berdasarkan waktu terasa sia-sia menurut saya bila melihat teman-teman saya di path menggunakannya. Bangun tidur, sarapan, pakai  baju, manasin motor, jajan di warung, makan siang bla bla bla sampe tidur lagi itu ditunjukin semua waktunya di path. Ya elah…
  • Bagi para stalker, path merupakan mimpi buruk, karena akan terlihat bahwa anda telah melihat suatu status.
  • Tidak bisa terindeks oleh search engine google. Inilah alasan terkuat kenapa saya menutup akun Path saya, karena kurang memberikan cakupan pembaca yang luas. Kebanyakan pengguna Path hanya membuka Path untuk sekedar curhat atau menyikapi curhatan teman mereka, jarang sekali mengklik suatu link. Ini menurut pengalaman saya sejauh ini menggunakan Path.
Baca Juga :  Silaturahim dengan Polisi Kota Semarang

Dari kesemuanya, salah satu alasan lagi adalah saya sedang mengurangi beragam akun media sosial saya. Terlalu banyak akun rasanya seakan-akan waktu luang kita hanya dihabiskan untuk merawat akun tersebut. Juga terkadang semakin menajamkan rasa kepo ketika membukanya. Menurut saya media sosial seperti pisau bermata ganda, asalkan kita tahu serta bijak dalam menggunakannya, maka kita akan merasakan manfaat positifnya.

 

Mungkin itulah beberapa alasan pribadi yang kini membuat saya menghapus akun pada kedua media sosial tersebut. Penggunaan BBM pada gawai pintar juga mulai saya batasi, dikarenakan news feed saya yang isinya gimana ya, terlalu bijak entah terlalu alay. Mungkin medsos lain jadi sepi karena sebagian besar kini orang bisa nyampah  di news feed BBM. Terlebih dengan fitur baru yang bisa mengunggah foto tanpa mengganti DP, maka semakin carut marutlah news feed BBM saya, oleh karena itu saya sering menonaktifkan BBM sehingga hanya aktif ketika saya buka saja.

alasan menutup akun twitter dan path
Mungkin sebentar lagi saya akan menguninstallnya,,

Mungkin beberapa saat ke depan, BBM akan saya uninstall juga. Mencoba mengurangi satu lagi aplikasi yang kurang begitu bermanfaat bagi saya.

Sekarang, paling saya hanya menggunakan Whatsapp untuk berkirim pesan, Google+ untuk menggali ide, Instagram untuk segala hal yang berhubungan dengan foto, serta Facebook juga untuk mendengar kabar dari rekan-rekan di rantau juga untuk mengunggah foto panorama 360 yang kini sudah didukung oleh facebook.

Jadi, adakah media sosial yang Anda hindari untuk digunakan?

Baca Juga :  FILOSOFI dari sebuah buku

—–UPDATE—–

Malahan sekarang saya sudah uninstall BBM, sedangkan saya menginstall kembali twiter. Tujuan menggunakan twitter kembali adalah karena hampir sebagian lomba blog mengharuskan memiliki akun twitter. Ya sudah, saya hanya menggunakan twitter untuk keperluan tersebut saja. Hahahaha

10 COMMENTS

  1. Aku yang nggaka da cuma path, entahlah dari awal sampai sekarang sama sekali nggak minat untuk daftar. Kalau Twitter saya aktif banget, emang pas buat orang yang suka ngoceh nggak jelas kayak saya hahahahah

  2. ahahaha path malah semenjak punya aku males pake mas, pdhl aplikasinya blm aku uninstall. bener sih path sama sekali gak ramah buat tautan link, pdhl itu penting bagi blogger. instagram juga baru pake, tp semakin kesini kok malaha jadi snapgram live. mirip snapchat dan bigo live -__-
    kalo google plus malah gatau cara pakenya 😀

    • apa mas? Bigo? *ehem

      iya mas, share link itu termasuk penting untuk blogger.

      Google+ hampir sama kayak facebook, cuman lebih spesifik saja, jadi lebih nyaman kalau mau nyari sesuatu di Google+ menurut saya

  3. Saya ga punya Path. BBM sempat coba bikin, tapi hp jadulnya ga kuat haha
    Medsos hanya untuk share link tulisan, kalau menghubungi secara personal masih milih email atau WA kayaknya. Dunianya masih terbagi antara dumay dan nyata *yaiyalahemak2* 🙂

Leave a Reply